Aku ceritakan satu kisah di perusahaan multinasional, tahun 2020, di suatu divisi yang mayoritas terdiri dari orang-orang yang memang tinggal di Jakarta dan saat itu sangat kental mendukung salah satu paslon gubernur tertentu. Hampir setiap hari perbincangan mereka membahas perihal paslon ini, dan buruknya membicarakan paslon lain sekaligus pendukung paslon lain tersebut. Semakin hari semakin menjadi, sehingga satu orang yang duduk diantara mereka, tetapi tidak satu kubu dengan mereka perihal pilihan politiknya, mengajukan surat pengunduran diri, dengan alasan, "Kuping saya panas ..."
Manusia diciptakan unik dan berbeda-beda. Adakalanya manusia memiliki kemiripan, tetapi perbedaan pasti tetap akan selalu ada. Perhatikan saja, setiap circle pertemanan, pasti memiliki kesamaan dan perbedaan di sisi lain. Ada yang bilang bahwa satu circle pertemanan yang berisi 3orang, biasanya memiliki satu orang yang tegas dan cerewet, satu orang yang lucu, dan satu orang lagi pendengar yang baik. Jika kamu bekerja di perusahaan yang divergent, keberagaman akan lebih banyak kamu temui. Disitulah kamu harus memiliki toleransi kemanusiaan yang lebih besar. Perbedaan bahasa, budaya, agama, jangan sampai mengganggu koordinasi dan kehidupan bekerjamu dan rekan-rekanmu. Manusiawi jika kamu ingin berkelompok karena pilihan hidup dan seleramu, tetapi jangan sampai menyinggung perasaan rekan kerjamu, apalagi dengan hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.
Di sisi lain, kita juga perlu menyisakan ruang untuk menerima sisi manusia seseorang. Tidak ada manusia yang sempurna. Aku pernah bekerja bersama seorang panutan muda di perusahaan tempat kami berkerja dulu. Dia terkenal perfeksionis, pandai, presentasinya hampir selalu memukau setiap mata dan telinga pemirsanya. Saat itu, aku yang terkesima pun hampir tersilaukan karena sinarnya. Saat itu dia adalah seorang content uploader, sedangkan aku bertindak sebagai quality assurancenya. Seharusnya, aku menutup mata latar belakang orang yang hasil kerjanya harus kuuji. Aku melewatkan kaidah penting itu. Aku menguji dengan membawa keyakinan "Dia perfeksionis, tidak mungkin melakukan kesalahan." tetapi ternyata seberapa perfeksionispun seseorang, ia tetaplah manusia. Manusia diciptakan dengan ruang atau potensi untuk berbuat salah. Sebagaimana Adam, ayah moyang semua manusia pernah melakukan kesalahan, sangart wajar jika kita pun suatu saat tersandung dan melakukan kesalahan. Kesalahan adalah ruang belajar yang paling manusiawi.
Kesalahan seseorang itu adalah pelajaran, baik bagi pelaku, maupun untuk orang-orang yang ada di sekitarnya. Kesalahan itu cukup diambil pelajarannya, sebagai tindakan preventif supaya tidak terulang di kemudian hari. Kesalahan tidak seharusnya diungkit-ungkit dan dijadikan sebagai kelemahan seseorang untuk diserang. Sekali lagi karena, manusia melakukan kesalahan. semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Sisakan ruang dalam hatimu untuk menerima kesalahan seseorang, dalam hal ini di dunia kerja.