Setelah tahap perkenalan, keadaan akan mulai sedikit terbaca. Bisa jadi masih dalam fase tebak-tebak buah manggis, dan wajar untuk kamu test. Mulailah menyapa dan bertanya sedikit lebih banyak daripada sekedar nama. Jika kamu bahkan lupa nama orang yang baru saja kamu kenali, dan memang harus menyebut namanya, maka akuilah, "Maaf, namanya siapa tadi?" --- Tampak bodoh memang, tetapi itu lebih baik daripada mengambil resiko nicetry dan kedapatan salah. "Oiya Freddy,..." Padahal namanya adalah Feddy. Bisa dibayangkan bagaimana kikuknya percakapan selanjutnya. Jadi jujur saja, wajar tidak menghafal semua nama orang dengan benar pada pertemuan pertama, kecuali kamu seorang grandmaster memory.
Anggaplah dirimu sebagai perangkat baru. Mulailah aktifkan bluetooth atau radarmu. Setelah mengenali siapa tim-mu, tetangga, dan tim lainnya, ini saatnya menyalakan radar. Kamu bisa mulai mengisi kategori relasimu. Temukan orang yang bisa dijadikan panutan, teman diskusi, teman makan siang, dan teman yang bisa diajak bercanda atau tidak.
Temukan teman yang bisa membuatmu bertumbuh, lalu pairing with the team you are in. Sebagai milennial, kubilang ini adaptasi, tapi sebagai seorang yang berjiwa-gen Z akan kupilih kalimat ini, "Coba pairing to the team you are in."
if you failed here, Noone can help.
Aku ceritakan kisah bahwa bekerja pada perusahaan idaman, ternyata tidak seindah yang dibayangkan jika kita tidak berhasil sync-up dengan tim intimu. Sebut saja PT. D, sebuah perusahaan multi-nasional, yang produknya banyak dikonsumi masyarakat pada umumnya di berbagai negara. Dengan rating tingginya, dan apresiasi liburan tim keluar negeri setiap tahun, siapa yang tidak ingin menjadi bagian dari tim tersebut? Nyatanya, setelah dijalani, dan rasanya tidak click dengan tim sendiri, semangat bekerja itu lama-lama terkikis oleh kata-kata tajam dan sorotan sinis sudut-sudut mata teman yang hampir setiap hari dari pagi sampai hampir malam hidup berdampingan, ditambah lagi dengan beban kerja yang berat, dan jadwalyang sangat padat. Saat mencoba bertahan dengan segala tekanan yang ada, dengan motivasi selflove, akhirnya surat pengunduran diri menjadi solusi.
Adaptasi itu memang tidak selamanya berhasil. Sebagaimana devices, ada yang memang compatible, tapi ada juga yang memang pada dasarnya tidak cocok. Ada kalanya, karakter kita memang tidak bisa menembus portal-portal toleransi tertentu. Pada saat itu terjadi, kehidupan kerja tidak akan senyaman harapan cita-cita muluk. Bahkan, dalam kasus terparah, kamu harus mengambil langkah mundur, keluar dari kotak yang membelenggu itu. Bukan berarti kamu yang gagal beradaptasi, melainkan ada hal yang memang pada dasarnya tidak bisa dipaksakan. Dalam kondisi yang paling ekstrem seperti ini, selama kamu yakin bahwa rezekimu tidak hanya bisa sampai padamu melalui perusahaan ini, prioritas utama adalah keselamatan dan kewarasan dirimu. Sayangi dirimu.