Tak kenal maka tak sayang, sebuah hook yang terlalu biasa dari penulis pemula sepertiku :)
Perkenalan sangat penting, bukan sebagai ajang flexing atau menonjolkan diri, melainkan untuk membaca situasi, dan karakter orang lain. Sehingga, kita bisa mengatur strategi mengenai bagaimana pendekatan komunikasi kepada si A, dan bagaimana pendekatan kepada si B.
Perkenalan di hari pertama kerja biasanya dilakukan di circle kecil, direct-cooperating team. Dan orang pintar akan merasa cukup dengan perkenalan di tim inti saja. Sedangkan aku, dengan ketidaktahuanku dan watak judgingku, akan mencari tahu dan ---jika diperlukan-- bertanya mengenai tetangga, tim sebelah, dan atasan dari atasanku. Bukan untuk mengorek gosip-gosip tidak perlu, melainkan untuk memasang opsi sikap, mempersiapkan diri bagaimana menghadapi orang tersebut, apakah perlu formal, atau bisa santai. Tak hanya mengenai karakter orangnya, tetapi juga tentang bagaimana dan dengan tim mana saja circle asalku akan berkoordinasi dan bersinggungan.
Misalnya dalam suatu squad pembuatan aplikasi. Tim inti terdiri dari developer FE, developer MW, developer BE, dan Quality Assurance. Mungkin juga ada Project Manager? Business Owner? Product Owner? Business Analyst? Siapa saja mereka? siapa atasan mereka? bagaimana hierarchy line-nya dan siapa "yang di atas" yang dipublish sebagai BoD dan atau bahkah apakah ada direct report ke CEO-nya. Cukup repot ya untuk sampai sejauh itu padahal masih pada bab perkenalan. Tidak salah pun tidak melulu benar, itu hanya jalan pra-ninjaku. Kenapa pra-ninja? Anggap saja aku sedang menempuh jalan yang lebih panjang dari orang pada umumnya, untuk tahu jalan-jalan ninja untuk shortcut di masa depan.
Kenapa mencari tahu sampai segitunya? Karena dalam suatu perusahaan, bagaimanapun, setiap tim akan saling membentuk simbiosis, entah mutual (diperlukan untuk kedepannya), atau untuk antisipasi, mencegah konflik atau mitigasi dini konflik di kemudian hari. Dan sependek pengalamanku, se-agile apapun perusahaan tersebut, 'yang di atas' tetap punya hak veto untuk melakukan penyetopan proyek sekaligus punya wewenang untuk mengubah arah sebuah proyek atau prioritas pengerjaan. "Tiket dari langit" begitu kami menyebutnya, merupakan suatu agenda atau proyek 'dadakan' yang menjadi prioritas dari pemegang 'kekuasaan', entah itu chief, BoD atau bahkan CEO. Bagaimana jika, CEO mu sedang menyamar menjadi petugas kebersihan? hoho itu hanya ada di drama pendek China ya :)
Jadi, menurutku berkenalan dengan tim saja tidak cukup. Kenali juga tetanggamu, 'user'-mu, sainganmu, dan juga (calon) musuhmu (usahakan tidak ada). Musuh di sini bukan seseorang untuk diajak bertarung ya, kita sedang membahas kalcer korporat, bukan hutan rimba. Dalam kenyataanya, setiap tim memiliki kapasitas, keahlian, dan prioritas masing-masing. Dengan adanya keragaman itu, akan juga tercipta kesenjangan prestasi dan apresiasi. Hal ini lah yang tidak jarang melahirkan arogansi antar divisi. Misalnya, HR dengan award-award kalcer-nya bisa saja berbangga diri dan mendapatkan pengakuan sebagai orang paling humanis di dalam korporasi. Nyatanya, tidak semua orang di dalam korporasi tersebut setuju, tetapi mau tidak mau harus ikut setuju. Ada juga misalnya kebijakan yang berbenturan dengan batas toleransi 'manusiawi' seseorang.
Aku ceritakan kisah nyata supaya hal ini tidak rancu. Kita sebut saja perusahaan X, yang memperbolehkan sepasang suami istri bekerja di kantor tsb. Suatu hari, Ina (nama samaran) mengambil maternity leave sebanyak 90hari karena HPLnya sudah sangat dekat. Menyusul, suaminya, mengambil cuti pada hari istrinya melahirkan. Satu tim ikut gembira menyambut kelahiran bayi mereka, dikirimlah hampers Welcome to the world, baby Z ke alamat rumah Ina. Namun, seminggu setelah paket tersebut diterima, baby Z meninggal. Atmosfer di rumah Ina berubah kontras, menjadi belasungkawa. Satu minggu pasca kehilangan bayi malangnya, Ina mendapat kabar bahwa setelah 10 hari, ia harus kembali ke kantor untuk bekerja. Menurut POV HR pada saat itu, Ina tidak lagi memiliki kewajiban untuk menyusui dan merawat bayi. Sehingga, maternity leave-nya batal, berubah menjadi bereavement leave. Dari Point of view HR dan perusahaan kebijakan ini mungkin adalah hal yang adil bagi perusahaan. Akan tetapi bagi Ina dan suaminya, hal ini terasa kurang manusiawi, karena luka pasca C-section yang dialami Ina belum sepenuhnya sembuh. Belum lagi luka batin yang sedang mereka coba pulihkan. Bagaimanapun, Ina dan suami terikat pada kalcer perusahaan, dan mereka tidak bisa tidak setuju.
Struktur organisasi penting dan sangat mempengaruhi kalcer suatu perusahaan. Mempelajari struktur organisasi sebagai pelamar atau karyawan baru mungkin terdengar kolot, tapi pada dasarnya struktur organisasi ini bisa memberi gambaran besar tentang bagaimana alur bisnis (dan alur kerja, alur request atau perintah) berjalan. Gambaran besar ini bisa memberi hint pada strategi pekerjaan. Apakah harus bersiap dengan alur approval yang panjang atau bisa sat-set? Hal ini bisa diketahui lebih awal dengan mempelajari struktur organisasi dan mengenali orang-orang pada bagan tersebut.
Aku ceritakan satu kisah lagi, supaya mempelajari struktur organisasi tidak lagi dianggap kolot atau aneh. Sebut saja divisi Y, di perusahaan X, memiliki waktu kerja yang disepakati fleksibel, karena mereka memiliki kegiatan yang hanya bisa dilakukan di malam hari, misalnya deployment atau teknis penggantian layout atau pemasangan alat tertentu yang jika dilakukan pada jam kerja normal, akan mengganggu sebagian aktivitas karyawan lain. Hanya saja, untuk meredam gejolak kecemburuan sosial, kebijakan fleksibel ini diberlakukan secara diam-diam, sebagai rahasia umum.
Suatu hari, terjadi pertukaran posisi manajerial. Manajer di divisi Y harus bertukar posisi dengan manajer di posisi Z. Di hari pertama, Fandi datang di jam 11 siang, untuk menghadiri meeting penting internal divisinya. Menurut undangan yang masuk ke kalendernya, "Kick-Off Digital ..." tanpa menyebutkan detail agenda yang akan dibahas. Dengan santainya Fandi, langsung masuk ke ruang meeting dengan masih menenteng ranselnya. Lalu ditegurlah ia oleh Mas Dhika, manajer baru divisi Y, pindahan dari divisi Z tersebut, "Baru dateng?" Fandi yang tidak mengenal bahwa orang yang bertanya itu adalah manajer baru di divisinya menjawab dengan santai, "Iya bro, abis deploy semalem, kan kita mah santai, boleh dateng jam 11 kalo abis deploy." Terdengar suara keheningan selama 3 detik. Dan bayangkan saja apa yang terjadi selanjutnya.
Kenali dirimu, kenali lingkunganmu. Ini adalah langkah awal keberhasilanmu.
Disclaimer: Benar atau salah, biasa atau tidak biasa, ini hanya cerita pengalamanku. Hanya bisa diaplikasikan pada perusahaan dan atasan dengan karakter tertentu.