Di lingkungan kerja tentu banyak orang yang pintar berbicara di hadapan orang lain. Bahkan ada orang yang pintar bicara A di depan tim A, dan bicara B di depan tim B. Sedangkan, sebagian lagi pintar menyimpan kata-kata untuk dirinya sendiri saja, demi perdamaian dunia.
Memang ada hal yang sebaiknya diungkapkan, ada juga yang sebaiknya disimpan sendiri. Tapi, pemikiran seperti,
"Kira-kira tahun ini gaji naik ga ya?"
"Ada bonus ga ya?"
"Ada peluang untuk naik grade ga ya?"
"Ada peluang improvement di divisi ini?"
"Ada bottleneck di part ..., "
"Ada issue yang perlu bantuan tim X ...,"
Pasti ada rasa takut, segan dan enggan membicarakan hal yang tidak biasa itu. Tapi, menurutku, untuk apa kata-kata itu disimpan sendiri? Mau disimpan sampai kapan? Kenapa tidak disampaikan saja kepada pihak berwenang, supaya terbuka jalan atau ketemu jawaban.
Pernah suatu hari, satu tim kecil kami melakukan kesalahan rilis terbatas, yang seharusnya hanya bisa diakses oleh beberapa kelompok saja. Dalam waktu 20 menit, rilis itu bocor, dan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Kami memang sudah berhasil memperbaiki kesalahan tersebut sesegera mungkin. Karena takut, kami tidak menceritakan hal tersebut kepada siapapun. Bagaimanapun, living a corporate life berarti kamu tidak bisa menyembunyikan apapun. "Bahkan tembokpun berbisik". Parahnya, atasan kami yang paling kami segani, satu-satunya orang yang bisa mem-backup kami di kantor itu, malah menjadi orang terakhir yang tahu insiden tersebut. Kami terlalu takut mengecewakan dia, sehingga kami benar-benar tidak memberitahunya sama sekali. Hingga tiba suatu kali dia marah besar, "Kenapa ga bilang dari awal? Masa saya tahu dari orang lain? Kalian ini anggap saya apa?"
Ia kecewa. Kecewa karena kami tidak percaya padanya. Kecewa karena kami silo. Kecewa karena kami terlalu takut membuatnya kecewa tapi malah benar-benar membuatnya kecewa. Sejak saat itu, keberanian muncul dari penyesalan: "Lain kali, kalo ada masalah apapun itu, atasan kita harus jadi orang paling pertama yang kita beritahu."
Sebagian orang pintar akan mencari aman, demi kenyamanan, "Jangan bilang, nanti diomel." "Atasan jangan sampai tahu". Tetapi, bagi orang bodoh sepertiku, lebih baik dibicarakan saja. Orang jujur akan tetap memancarkan energi positif, bahkan dalam keadaan terburuk.
Aku ceritakan satu kisah lagi, rekan-rekan kerjaku sedang berkumpul riuh di suatu meja. Karena penasaran, aku menghampiri mereka, menanyakan apa yang sedang mereka bahas. "Katanya tahun ini gaada kenaikan gaji, sebel banget, gw langsung apply ke sebelah aja," jawab seorang rekan laki-laki. Menyusul rekan perempuan merespon dengan tanya, "Kalo gue gimana ya, di tempat lain belum tentu bisa fleksibel kayak di sini, tapi ga naik gaji tu gimana ya, bertahun-tahun di sini baru sekarang deh kejadian kayak gini?" Aku yang baru saja keluar dari meeting dengan HR-ku, dan lebih dulu bertanya pada atasanku dalam format feedback meeting yang kuusulkan sendiri memahami konteks dari point of view yang lain, tentang bagaimana kondisi keuangan persahaan saat ini, dan bagaimana strategi efisiensinya. Aku pribadi sejak pekerjaan pertamaku, lebih nyaman membahas compensation&benefit seperti ini secara tertutup dengan orang 'berwenang' saja daripada berbisik-bisik ramai dengan sesama orang yang juga tidak tahu kepastian masa depan, apalagi mereka tidak memiliki wewenang atau power apapun terhadap comben kita. Hubungi HR dan atasan langsung untuk meminta feedback terlebih dahulu, lalu kemudian bisa bertanya mengenai peluang increament & benefit.
Atasan memang sudah selayaknya disegani, tapi bukan berarti tidak bisa diajak diskusi. Sampaikan pendapat, pertanyaan dan pernyataan jika memang diperlukan. Siapa tahu dibalik ketegasannya, ada sedikit kebijaksanaan. Tidak selamanya diam itu emas. Diam dalam korporasi bisa dianggap silo, dan inilah yang biasanya menjadi bibit miskomunikasi dan eskalasi. Pahami situasi, kapan saatnya diam, kapan saatnya bicara atau bertanya. Dan tepat sasaranlah dalam ngobrol itu, jangan sampai kamu ngobrol pada orang yang salah. Bukannya menemukan solusi, salah-salah kabarmu bisa sampai ke mana-mana, bisa juga jadi miskomunikasi, bisa juga jadi bom waktu. Apabila memang ada yang perlu ditanyakan mengenai 'masa depan'mu, ngobrollah dengan atasanmu.