Pekerjaan pertamaku sebagai seorang perempuan adalah pada umumnya, admin? Lebih tepatnya Sekretaris. Jika kamu menyepelekan pekerjaan ini, maka berhenti membaca buku ini sekarang. Sekretaris di kantor itu peran 'pembantu' yang penting. Support, tetapi urusan boss akan ruwet jika sekretaris absen. Makanya, di kantor pertamaku, jika sekretaris boss besar absen, sekretaris bos-bos kecil akan naik sementara untuk membantu 'yang di atas'. Di sisi lain, ada juga memang sekretaris yang kehadirannya seperti cherry on top. Dihire karena cantik, kerjanya kalo ga dandan ya nunggu disuruh kerja. Tapi di sini kita tidak hanya membahas sekretaris.
Setiap judul jabatan bisa jadi mengemban jobdesc yang berbeda. Jangankan di industri yang berbeda, di satu perusahaan saja, tidak semua admin di divisinya memiliki load dan jobdesc yang sama. Ada yang datang paling pagi, pulang paling malam; ada juga yang sampai lebih siang tetapi pulang lebih awal. sekali lagi kita tidak lagi bicara tentang admin atau sekretaris. Bisa saja developer, finance, HR, teknisi, atau lainnya.
Yang ingin kubahas di sini adalah, saat orang-orang menikmati waktu luang yang panjang. Misal, tidak adanya tiket development di sebuah squad, atau tidak adanya request reimbursement. Intinya, sepi job. Sebagian orang mengisi waktunya dengan mengobrol tentang hal yang tidak terkait dengan pekerjaan. Sebagian lagi mengisi waktu luangnya dengan rally nonton drakor. Sebagian lagi ada yang menghabiskan waktu luangnya untuk push-rank di game favoritnya.
Pada saat sepi (kerjaan) yang panjang seperti itu, radarku justru berbunyi, "Ini ancaman". Jika kita hanya diam dalam kegabutan itu, niscaya kehancuran akan segera datang. Entah karena mental kita jadi pemalas, karena terbiasa luang, sehingga sekalinya digempur pekerjaan yang tiba-tiba menyerbu, badan kita protes. Nafas mulai panjang, 'huuuh...' keluhan-keluhan mulai bermunculan. Kerja sedikit, langsung pegal. Kerja agak banyak langsung encok. Bisa jadi juga kamu sengaja dibuat menganggur supaya bosan, dan posisi kamu semakin kesini semakin tidak berguna. Jika sudah tidak berguna, perusahaan tidak punya alasan lain untuk mempertahankan kamu.
Maka sebelum tenang itu berubah menjadi badai, inisisatif lah mencari 'kegiatan' yang bermanfaat. Jika memang suka mengobrol, sapalah teman-teman di sebelahmu. Tanyakan apakah mereka sedang sibuk dengan sesuatu, atau apakah mereka memerlukan bantuan? Siapa tahu kamu bisa membantu. Jika tidak bisa,semangati saja. Tampak seperti basa-basi tapi niatkan untuk memberi energi positif.
Jika pekerjaan orang-orang di sekitarmu di luar pemahamanmu, tidak ada salahnya mempelajari dasarnya. Dengan begitu, semoga di masa depan atau dalam waktu dekat, kamu bisa lebih nyambung dengan obrolan mereka. Pelan-pelan, mungkin kamu bisa membantu sedikit demi sedikit. Pernah ada yang bilang padaku, "Ngapain repot-repot, beg*, udah enak santai begitu." Lagi-lagi, aku tegaskan aku merasa tidak nyaman menganggur di tempat kerja. Gabut di kantor itu membosankan. Aku lebih memilih ganggu teman sebelah untuk mengobrol tentang pekerjaan mereka, atau mendatangi atasan dan minta pekerjaan tambahan.
Ya, aku pernah mengetuk pintu atasanku hanya untuk bertanya, "Ma'am, is there anything 'more' I can do for you? I have done with my jobs, and I have had enough free time. If there is something to do, I'll be glad to help." Aku sebenarnya tidak yakin apakah aku benar-benar bisa membantu, tapi aku tidak tahan dengan kegabutan itu. Atasanku langsung beranjak dari kursi dengan sorot mata lasernya. Dia menarik tanganku ke luar pintu dan mulai berteriak, "Guys, you know what, my secretary just complains that she is bored. Is there anyone willing to help her do something? Content team, do you have anything to translate or write? Please occupy her."
Tahukah kamu karena spontanitas itu aku telah mengamankan tiket warrant posisi content writer di masa depan di industri dan tim yang berbeda. Dan tahukah kamu, beberapa tahun kemudian, aku mendengar kabar dari perusahaan yang sudah kutinggalkan itu. Saat orang sudah silih berganti datang dan pergi, saat struktur organisasi sudah banyak berubah, saat atasanku sudah tidak di tempat yang sama, saat aku juga telah memilih jalanku sendiri, orang yang memilih untuk tidak berubah dan bertanya "Ngapain cape-cape...?", terus menikmati kegabutan dengan hal-hal yang bersifat pribadi itu kehilangan pekerjaannya, dengan alasan "...perusahaan tidak lagi hanya memerlukan orang yang bisa bekerja seperti biasa, tetapi hanya akan mempertahankan karyawan yang mau bekerja extra."
Poinku bukan pada aku merasa lebih beruntung daripada dia, hanya saja saat kita bekerja untuk perusahaan, kita dibayar untuk bekerja. Saat sepi pekerjaan, apakah boleh kita isi dengan hal yang bersifat pribadi, sedangkan ada rekan kita yang kelimpungan dengan pekerjaannya? Bukankah lebih bijak jika waktu luang yang tidak setiap hari datang itu digunakan untuk membantu rekan lain yang memerlukan bantuan atau menambah pengetahuan tentang pekerjaanmu? Tidak selamanya benar, tetapi ada baiknya, bukan?