Merasa bodoh itu lebih baik daripada merasa pintar. Kenapa? Karena saat kamu merasa pintar, kemudian menjadi 'sok pintar' maka kamu berhenti bertumbuh. Sebaliknya, saat kamu merasa bodoh, kamu memberi dirimu sendiri ruang untuk belajar dan terus bertumbuh. Bodoh di sini bukan bodoh yang bebal tidak mau belajar ya. Jika kamu merasa tidak perlu belajar, berarti kamu merasa kamu tidak perlu akan ilmu itu, dari mana kamu yakin bahwa kamu tidak perlu ilmu itu? dari pesimisme dan kemalasan dari dalam dirimu.
Pelajari saja, niscaya tidak akan sia-sia. Tahukan kamu saat duduk di bangku sekolah, aku merasa Matematika itu terlalu abstrak. Untuk apa hitungan-hitungan itu sepertinya tidak akan digunakan saat aku dewasa. Plot twistnya ternyata setiap lini kehidupan dewasa, manusia berkutat dengan ilmu Matematika. Keuangan, waktu, strategi efisiensi, probabilitas, semua itu ada dalam pelajaran Matematika. Bukan Matematikanya yang tidak berguna sehingga aku merasa tidak perlu belajar Matematika, tetapi kekonyolan jiwa muda yang malas, yang dengan 'sok tahu' nya menyimpulkan di masa depannya ilmu itu tidak akan berguna.
Saat diberi amanah untuk menjadi seorang Quality Assurance, dan dihadapkan dengan challange Automation, aku hampir melakukan kesalahan yang sama dengan Matematika. Aku terus menghindarinya sampai 3 tahun. Lalu kemudian, kupelajari sedikit demi sedikit, dengan terpaksa. Pada awalnya sulit memang, seseorang dengan latar belakang administrasi, Assistance, harus belajar bahasa non-manusia. Akan tetapi, setelah dijalani pelan-pelan, Automation yang kuhindari itu benar-benar membantuku dalam pekerjaan sehari-hari. Aku bisa mengehemat lebih banyak waktu. Efisiensi itu tercapai! Bahkan, pada akhirnya, aku benar-benar bisa merasakan apa itu work-life-balance.
Aku tidak lagi mengeluh ketika harus bekerja di hari Sabtu dan Minggu, karena hanya perlu 10menit, dan selesai. Aku menghemat setidaknya 50menit, setiap akhir pekan untuk pekerjaanku itu dengan terpaksa belajar selama kurang lebih 2 minggu. Tidak ada belajar yang sia-sia. Semua yang kita pelajari akan memberikan manfaat, apalagi pelajaran yang memang sengaja dipilih karena barkaitan dengan pekerjaan saat ini.
Tidak ada salahnya juga mempelajari hal lain, di luar pekerjaan saat ini. Misal saat seorang admin belajar menjadi penulis, saat seorang Quality Assurance mengembangkan diri untuk menulis lagu, saat seorang business analyst belajar memasak, ibu rumah tangga belajar tentang saham. Tidak ada ilmu yang sia-sia. bahkan kesalahan saja bisa menjadi pelajaran berharga. Selalu sisakan ruang untuk 'kebodohan' agar dirimu bertumbuh, supaya hatimu tidak dipenuhi kesombongan.