Kelas-kelas berbicara tentang menangkap peluang. Secara teknis memang kreativitas bisa memperluas jangkauan radar peluang. Di zaman yang serba rebutan dan serba cepat ini, strategi menangkap peluang sepertinya sudah agak sedikit terlambat, apalagi disalip oleh tangan-tangan usil 'ordal'. Sebagai manusia bodoh, yang tidak punya jalur ordal, sulit sekali menangkap peluang bahkan saat momentnya tepat. Saat moment peluang itu tercipta, ratusan orang sudah bersiap untuk war. Orang-orang yang beruntung akan mendapat tiketnya, yang tidak beruntung, mohon maaf coba lagi.
Merasa terhimpit dalam desakan war peluang itu, aku sengaja melewatkan peluang yang sedang akan ada di bursa, dan berusaha mencari bakal calon peluang lain. Kemudian kupantau sungguh-sungguh pada watchlist, dan membuat pre-order pada peluang itu. Ingat saat aku mengetuk pintu ruang Ibu dan mengeluh kurang kerjaan, lalu ditawari kerjaan tambahan di tim content writer? Disitulah pre-order peluang tercipta, tanpa rencana.
Takdir memang tidak bisa ditebak. Tapi dengan menanam bibit kebaikan, jika kebaikan ibarat investasi, maka ia benar-benar akan kembali kepadamu. Walaupun kenyataannya, tidak semua bibit akan tumbuh dan berbuah di bumi, tapi bagi kamu yang percaya dengan adanya hari akhir, maka pada akhirnya kebaikan akan tetap kembali kepadamu di sana, jika memang tidak di bumi ini.
Belajar adalah salah satu contoh bibit kebaikan untuk dirimu sendiri. Kamu akan bertumbuh subur dengan belajar bersungguh-sungguh. Satu poin penting dalam belajar yang dikutip dari Quantum Learning: AMBAK --- Apa Manfaatnya BagiKu. Jelas sekali lagi kuingatkan bahwa belajar adalah salah satu bentuk kebaikan terhadap dirimu sendiri, dan kebaikan itu pasti akan membawa kembali kebaikan dalam bentuk lain kepadamu. Misalnya, ada 3 orang pegawai (officer), dan hanya ada satu tiket promosi, hampir bisa dipastikan bahwa yang akan mendapat tiket promosi itu, diantaranya memiliki:
1. sertifikat pendidikan/profesi/keahlian tertentu (certified), dan atau
2. memiliki jalur ordal
Sekarang kita bedah, siapakah ordal itu, apakah selalu keluarga? Tidak kan, bisa saja seseorang yang pernah berkolaborasi dalam kebaikan, atau pernah bekerjasama dan merasa terbantu dengan kerja keras atau kebaikanmu di masa lampau. Yang dimaksud ordal adalah orang yang punya pengaruh atau keuasaan tertentu untuk mempromosikan relasinya, bukan? Dengan demikian, jikakamu membuat relasi yang baik dengan peer atau atasanmu, kamu secara tidak sengaja menciptakan warrant peluang. Bukan bermaksud menggiring opini untuk berbuat baik karena pamrih ya. Mindsetnya jangan sampai terbalik. Berbuat baik harus tetap dilakukan dengan ikhlas, karena kita yakin bahwa kebaikan adalah boomerang dalam konotasi positif, senjata yang akan kembali kepada pelemparnya. Aku ingin mengajakmu merenung sebentar, jika tidak ada ikhlas di dalam kebaikan apakah aktivitas itu masih bisa disebut kebaikan?
Berbuat baiklah terhadap orang lain, dan terhadap dirimu sendiri. Ciptakan energi-energi positif yang akan mendatangkan peluang. Jangan tunggu momentum, baru mencoba menangkapnya. Pesan peluang itu dari sekarang.