Dinamika saat perusahaan gonjang-ganjing pun saat baik-baik saja akan selalu ada. Orang-orang yang berhasil adalah orang-orang yang bertahan dan berjuang habis-habisan. Orang yang terus melaju membuka jalur baru setiap menemui rintangan akan terus menemukan jalan baru, atau sebaliknya, saat di depan akan ada jurang, ia akan tahu lebih dulu.
Sedangkan orang yang memilih strategi bertahan akan menemukan kebuntuan di masa depan, apakah berujung pada kadaluwarsanya 'nilai jual', atau bisa juga ia akan dihadapkan dengan kejenuhannya sendiri. Disini lah letak pentingnya tidak merasa 'sudah pintar' atau 'sudah mahir'. Keyakinan sudah mahir yang tidak dibarengi dengan kemauan untuk tetap belajar, serta kekurangan empati akan memperburuk keadaan.
Saat diri merasa sudah mahir atau sudah pintar, dalam menjalani rutinitas, otak akan berhenti berpikir aktif dan beralih ke metode autopilot atau automasi. Hal ini menandai dominannya proses automasi yang memicu semakin menurunya kemampuan berpikir kritis dan semakin meningkatnya keterpakuan pada aktivitas monoton. Aku ingat seseorang di barisan manajemen pernah berkata, "Perusahaan tidak dapat mempertahankan karyawan dengan kinerja biasa, melainkan akan memperjuangkan karyawan yang memiliki kemauan ekstra." Hal ini menjadikan perilaku monoton dan terpaku pada rutinitas tidak lagi 'laku' di dunia kerja. Perusahaan memerlukan pemikir-pemikir kritis yang mau terus mengembangkan diri, dan melaju bersama percepatan perusahaan.
Bekerja pada zaman ini tidak hanya melakukan pekerjaan, tetapi juga bersiap dengan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Menyambut bukan hanya menerima tantangan baru. Seperti seorang batter yang bersiap menerima bola dari seorang pitcher.
Belajar tidak hanya dari program baru, atau hal baru. Saat memang pekerjaan sedang monoton, tidak ada hal baru, carilah hal lain yang bisa dipelajari. Belajarlah juga bisa dari kesalahan. Kesalahan diri, jangan sampai terulang. Kalau bisa, Jangan menunggu sampai diri sendiri mengalami kesalahan. Mengobrol yang bermanfaat juga akan memberi insight baru. Belajar bisa juga dari kejadian yang terjadi pada orang lain. Bukan berarti harus mengorek kisah orang ya, tetapi lebih ke buka mata dan telinga lebar-lebar. Cobalah lebih peduli pada sekitar. Tanpa perlu mendengar, mungkin ada pelajaran yang tetap bisa diambil.
Pernah suatu hari aku merasa tidak enak atas perkataan orang lain terhadapku. Tanpa kusadari selama ini aku pun sering berbuat demikian terhadap orang lain, di tempat lain. Hal itu menjadi pelajaran tanpa buku. Kesadaran adalah juga salah satu tanda belajar, "Oh, ternyata berbuat demikian bisa bikin orang lain tidak nyaman. Sebaiknya tidak kulakukan."
Empati menjadi hal yang sangat penting selain pikiran kritis. Pernah mendengar emphaty mapping? Biasanya emphaty mapping terdapat pada design thinking tahap awal. Awalnya kupikir bahwa empati itu hanya bisa dirasakan, dan digambarkan dalam pikiran, rupanya saat ini sudah ada metode untuk memvisualisasikannya. Sebelum lebih lanjut mengenai emphaty mapping, kita coba refresh pengetahuan kita mengenai design thinking. Design thinking bisa dikatakan sebagai sebuah pendekatan sistematis yang dibuat berpusat pada manusia atau sisi manusiawi dalam melihat suatu permasalahan dan solusinya. Biasanya metode ini diawali dengan memvisualisasikan bagaimana pandangan, pemikiran atau perasaan seseorang terhadap suatu permasalahan (pemetaan empati). Sangat penting memahami hal berikut pada saat memetakan empati (emphaty mapping):
1. Who -- Siapa, atau pada siapa kita sedang akan melakukan empati (mapping)?
2. Need -- apa kebutuhan mereka?
3. Goal -- Tujuan empati mapping i
4. selanjutnya memetakan apa yang mereka pikirkan atau rasakan tentang suatu permasalahan yang sedang dibahas. Merinci pains & gains (masalah yang mereka hadapi vs harapannya) dari perspektif yang bersangkutan.
5. Selanjutnya pembagian empati mengenai:
a. bagaimana dia akan melihatnya?atau apa yang akan ia lihat
b. apa yang ia dengar
c. apa yang ia rasakan dan fikirkan
d. apa yang akan mereka katakan
Bayangkan dirimu adalah seseorang atau berada pada posisi orang yang akan menjadi object empathy mapping. Hal ini juga bagian dari belajar, bukan judging. Selanjutnya kamu bisa memvisualisasikan pemikiran dan sikap dari orang tersebut. Hal ini bisa membantu dalam memahami orang lain, dan juga menemukan solusi dan inovasi atas suatu permasalahan. Dan Inovasi serta solusi itu adalah sebuah peluang baru. Peluang datang pada orang yang mau belajar dan memiliki pemahaman.