"I would keep myself beyond other to keep me safe," kata seorang monopoli leader. "Chuakks," kubilang. "Nothing lasts forever, buddy." Bagaimanapun, seseorang, setinggi apapun posisinya di perusahaan, bisa saja di- atau ter-dorong mundur, sukarela atau terpaksa, suatu hari nanti. "Loh kalo sudah ada kepastian kita naik jabatan sih oke-oke aja kadersisasi, lah kalo di posisi ini terus? yang ada kita bisa terancam" balasnya lagi. Apapun motifnya:
a. Ingin mencari peluang dan tantangan baru dan mendapatkan tawaran yang lebih menarik dari kompetitor,
b. Tidak nyaman dengan timnya, sehingga ingin menyelamatkan diri sendiri sebelum benar-benari burnout.
c. Fraud, yah yang ini sih tidak tertolong, selamat mendapatkan pelajaran!
d. Merger, bahkan seorang CEO bisa mengundurkan diri sehubungan dengan rencana merger perusahaan.
e. Alasan keluarga, ketika prioritas keluarga tidak bisa disandingkan dengan pekerjaan.
f. dan banyak hal lainnya.
Aku ceritakan 2 kasus yang berbeda, yang satu dapat tertolong, yang lainnya agak sulit. Di perusahaan yang sama, dan divisi yang sama, duduklah seorang team leader di hadapan seorang laki-laki yang penuh ambisi, tetapi minim apresiasi dari rekan-rekannya. Selidik punya selidik, rupanya, laki-laki ini, sebut saja di Bram, memiliki gaya komunikasi yang kurang 'nyaman didengar' oleh rekan-rekannya. Apakah dia bersalah karena itu? Gaya komunikasi dan wataknya sudah mendarah daging. yang menjadi permasalahan bukan pada gaya komunikasinya, melainkan dari gaya koordinasinya. Bram ini lebih suka menghandle segala sesuatu sendiri, padahal dia punya 2 rekan kerja dengan jobdesc yang sama dengannya. Hampir-hampir 2 kawannya ini tidak pernah dapat jatah meeting koordinasi dengan tim yang lain karena senior Bram ini sudah menghadiri sendiri hampir seluruhnya. Bukan tentang highlight yang tidak sampai kepada 2 rekannya, tetapi tentang kaderisasi.
Suatu hari Bram mengalami sakit yang cukup serius, dan kedua timnya ini hampir tidak ditinggalkan 'surat wasiat' atau handover apapun. Sehingga 70% dari progress tim mereka mandeg. Sungguh tim yang lengkap karena 1 seniornya monopoli dan 2 juniornya silo. Bram yang semula berpikir kaderisasi itu tidak perlu, menyadari bahwa pada akhirnya, dia tidak bisa melahap habis semua pekerjaan itu sendiri, sedangkan kedua rekannya 'kelaparan' pekerjaan, dan makan gaji buta. Kinerja tim hancur, backup-membackup mogok, karena handover nihil, mereka butuh waktu lebih banyak untuk mengejar ketertinggalan materi yang tidak sempat dihandover. Client harus mengulang penjelasan berkali-kali dan menghabiskan banyak waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk menambah poin progress.
Pada proyek lainnya, seorang wanita tangguh berjuang sendirian di tengah gonjang-ganjing peleburan dan migrasi data-data. Ia benar-benar bekerja sendiri, tanpa leader, tanpa rekan kerja. Ia harus berhadapan langsung dengan berbagai tim lainnya demi memastikan proyeknya berjalan baik. Ia bisa menjalani dan menghadai semua itu, tanpa rekan seperjuangan, benar-benar sendirian. Ia tidak juga pernah meminta dipindahkan ke proyek lain atau ditukar dengan proyek lain untuk menambah pengalamannya. Ia terus menggali sumur emasnya sendirian. Semakin dalam dan semakin dalam, ia terus menunduk menggali, sampai ia sadar, tidak ada lagi cahaya di dasar sumur itu. Ia terkenal di luar sana sebagai petangguhyang ahli, tapi tidak ada cahaya lampu yang menyorotnya. Semua orang mengandalkannya pada keahliannya itu, dan ya sudah. Ia sendirian di dasar sumur, menyadari bahwa ia sudah terlalu lama sendiri. Ia tiba-tiba berhenti menggali dan membayangkan jika suatu hari nanti ia memilih keluar dari sumur ini, apakah orang-orang masih akan mengenalnya? Dan parahnya, saking lamanya dia menggali sumur itu sendiri, ia sampai berpikir "Kasian perusahaan kalo aku keluar, kasian yang gantiin aku nanti handovernya akan lama, panjang dan banyak," katanya. Tidakkah dia kasihan terhadap dirinya sendiri? Perusahaan memang tidak akan mudah melepas Sang Ahli seperti dirinya, tetapi jika suatu saat terdesak atau orang tersebut memiliki peluang untuk naik ke level yang lebih tinggi atau orang tersebut yang memutuskan untuk berhenti dari perusahaan jelas tidak dapat memaksa orang tersebut tetap berada pada posisinya saat ini. Pada kasus lainnya, perusahaan dapat dengan mudah mengganti seorang pekerja, mengakhiri kontrak seorang pekerja, dan bahkan dalam waktu yang singkat. Manusia tidak hidup selamanya di dunia, apalagi di perusahaan.
Kaderisasi dalam dunia kerja itu sama pentingnya dengan kaderisasi di dunia nyata. Kita tidak bisa selamanya dalam kondisi seperti saat ini. Suatu hari nanti kita akan melemah, dan sebelum waktu itu tiba, tidak ada salahnya mempersiapkan kader atau sekedar berbagi pengetahuan dengan "teman sebelah."