Selalu-dapat-dihubungi dan selalu-bisa-buka-laptop adalah jalan ninjaku. Berangkat dari latar belakang seorang personal assistant, pada posisi apapun aku bekerja, prinsipku selalu sama: selalu dapat dihubungi. Dalam keadaan apapun, pada jam berapapun, bahkan pada saat hari libur.
Pada walanya sebagai seorang personal asisstant pun aku tidak sebegitu parahnya. Jika memang sedang cuti, maka bos-ku tidak akan 'mengganggu'. Namun, pada divisi lain, pernah terjadi huru-hara di hari Minggu. Semua personnel sedang libur hari itu, dan sayangnya, di hari yang tentram itu tiba-tiba teleponku berbunyi. Sebagai anak baru, tentu menegangkan di hari Minggu jam 14:00 dapat telepon masuk dari Ibu Vice President. "Serius ini Ibu telepon aku? Kepencet kah?" pikirku sebelum kuangkat telepon itu. Tapi itu bukan dering singkat telepon salah sambung. Teleponku terus berdering, keringat dingin sudah mulai mengembun di kepalaku. Dengan nada gemetar kuangkat telepon itu, "Assalam...," "Lama bangett angkatnyaa, urgent inii..." Belum selesai aku menyapa, Ibu sudah mendahului dengan nada tingginya. Rupanya ada request masuk dadakan dengan label urgent dan harus diselesaikan saat itu juga, apakah kau pikir aku akan dengan lantang menjawab, "Tapi Bu ini kan weekend?"
Jujur, itu adalah jawabanku. Telepon yang harusnya perintah singkat itu berubah menjadi back-toback meeting sampai malam. Tidak hanya aku yang diinvite pada forum itu, tetapi seluruh teman satu divisiku. Rusak sudah rencana mengakhiri-akhir-pekan-dengan-tenang ku. Jam-jam terakhir libur ku berubah menjadi bencana dan huru-hara. Sejak saat itu aku dan tim didoktrin untuk selalu siap siaga 24/7 terhadap adanya request 'dadakan' yang mereka sebut 'emergency'. Lahirlah rooster schedule, kurang lebih semacam jadwal ronda atau jadwal jaga pada hari libur (yang seharusnya memang hari libur). Tiga tahun berlalu menjalani pekerjaan seperti itu, untung 'cinta', jadi aku pribadi hampir tidak pernah mengeluhkannya. Bahkan di hari ulang tahun anakku, bahkan saat harus menjaga anakku di rumah sakit.
I was considered dumb since I was always be contacable, even on Weekend or late night, or even on holiday.
Setelah berpindah-pindah perusahaan, dan menemukan tim yang dirasa sangat cocok, kinerjaku berubah menjadi ekstra. Aku menjadi sangat menyayangi timku, menjadi sangat menyukai pekerjaanku, sampai-sampai aku tidak meyadari bahwa keluargaku lebih sering mengalah untuk pekerjaanku.
Aku sedang dalam masa transisi promosiku menjadi tim leader, saat itu, aku menangis di kantor, tapi tetap sambil melanjutkan pekerjaanku. Orang yang duduk di sebelahku sampai tidak berani bertanya, "kenapa?" atau "ada apa?" padahal mereka semua biasanya sangat ramah dan penuh basa-basi. Kepalaku penuh dengan bayang-bayang yang sedang bertarung antara melarikan diri dan menghadapi resiko. Aku bahkan hampir sempat berpikir bahwa aku mungkin akan sanggup ditinggalkan jika terus sibuk dengan pekerjaanku, tetapi hari itu, rupanya pekerjaanku tidak bisa selesai dengan rapi seperti biasanya. Rasa takut kehilangan keluargaku membuat tanganku gemetar hebat, sampai-sampai aku menemukan typo di setiap kata yang kuketik. Layarku semakin buram dalam penglihatanku, hijabku basah. Dan awkward moment ini berlangsung dari awal meeting online sampai akhir diskusi teman sebelahku. Saat semua orang terdengar mengucapkan terimakasih di forum itu, aku sadar, aku sudah lama duduk di depan laptop dengan tangan gemetar dan pipi basah. Entah apa yang kuketik karena draft itu tidak pernah selesai. Yang kutahu pasti saat itu kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan, "Sekarang pilih: kerja atau keluarga?!"
Kepalaku tidak pernah berpikir jernih sejak saat itu. Bayangan anak-anakku dengan ekspresi kaku mereka menahan rasa sedih dibalik rasa takut menghantuiku. Bayangan tentang berapa lama aku mampu bertahan tanpa mereka benar-benar melumpuhkanku. Bagaimanapun, aku adalah seorang ibu. 24/7 untuk pekerjaan adalah hal terbodoh yang kulakukan, terlebih aku hanya pegawai kontrak biasa, bukan direktur, bukan CEO. Work-life-balance itu mahal sekali, barang langka. Aku pernah lupa bahwa karunia dan rezeki tidak melulu soal gaji, uang dan pertemanan. Bisa-bisanya aku lupa ada yang menungguku di rumah.
Dari pelajaran mahal hari itu aku sadar mengenai pentingnya bab-bab yang sebelumnya aku ceritakan, seperti berbagi informasi pengetahuan, tidak memonopoli skill, kaderisasi. Bagaimanapun kita tidak akan selamanya di tempat yang sama. Pandai-pandailah menaruh urutan prioritas. Kamu boleh sangat menyukai pekerjaanmu sekarang atau sangat membencinya. Kamu boleh bermimpi akan mencapai tangga karir yang tinggi dalam waktu sekian puluh purnama, tetapi sadari juga batas loss mana yang akan paling membuatmu hancur, dan jangan pernah sekalipun berani menyentuh batas itu.
Selalu dapat dihubungi menjadi kode etik di sebuah perusahaan tertentu, tetapi sejak generasi Z 'menguasai dunia' syukurlah kebiasaan itu sudah mulai dilabeli merah. Red-flag bagi perusahaan yang memaksa karyawannya untuk kerja keras tanpa batas dan menjadi budak korporat. Terima kasih untuk generasi-generasi yang berani berbicara bahwa betapa berharganya work-life balance itu. Dan bahwa work-life-balance itu bukan diciptakan oleh perusahaan, melainkan dibentuk oleh tiap-tiap individu itu sendiri.