Hari yang seharusnya menjadi peresmian kenaikan jabatanku berubah menjadi hari terakhirku di kantor. Beberapa teman menangis, padahal sudah kularang. Mereka sudah kusiapkan sebagai kader penerusku di proyek ini. Sudah kubagi semua informasi dan pengetahuan juga relasi yang kupunya kepada mereka. Tidak ada lagi yang kututup-tutupi atau simpan sendiri. Atasanku bertanya sekali lagi, "Ga bisa ditawar lagi ni?" Jelas tidak bisa, sudah kuceritakan taruhannya, dan jelas-jelas aku memilih keluargaku di atas karirku.
Pada hari aku mengajukan pengunduran diriku, aku menjelaskan dengan jujur kondisiku. Sehingga, atasanku bisa berbuat apa? Mau berkata apa-pun dia bingung. Mau tidak mau, ia akhirnya melepaskan kadernya ini, dan mencari-cari lagi calon ketua tim yang akan mengisi kursi panas kosong yang kutinggalkan.
Momen ini mengingatkan aku pada perpisahan di beberapa perusahaan sebelumnya yang penuh dusta. Exit interview kupoles sebagai 'akhir yang baik' atau 'mengakhiri dengan baik-baik', tetapi tetap meninggalkan kesan tidak baik. Karena bagaimanapun kebohongan tidak dapat ditutupi dengan sempurna.
Aku pernah bekerja pada dua perusahaan multinasional dan keluar dengan alasan yang sama, berdalih menyelamatkan diri sebelum meledakkan bom waktu akibat perbedaan yang terlalu kental dengan orang-orang yang duduk di sebelahku. Tetapi yang aku sampaikan saat ditanya tentang alasan mengundurkan diri hanyalah jawaban template, seperti 'urusan keluarga', 'mendapat tawaran di perusahaan yang lebih dekat dari rumah', dan semacamnya. Memang alasan itu pun bukan kebohongan, tetapi aku menutupi motif sebenarnya yang memdorongku mencari peluang baru atau bahkan menyerah sebelum mendapat peluang baru. Seorang HR pernah mengataiku bodoh karena meninggalkan perusahaan 'sebagus itu' padahal belum ada 'penggantinya'. "Kamu rela menganggur, demi keluar dari perusahaan itu? apa tidak gila?" katanya seolah dia adalah teman dekat yang berhak menasehatiku. Dia tidak paham kisahku, dan dia tidak bertanya lebih lanjut. Jadi kubiarkan saja ia dengan pikirannya.
Dua kali hal tersebut berulang sebelum aku bertemu dengan perusahaan yang timnya sangat aku sukai. Boomer, Milenial dan Gen Z bisa berbaur dengan baik di sini, dengan celetukan-celetukan jujur dan kadang kasarnya itu, tapi tidak ada 'sakit hati' di sini. Ini adalah tim yang mebuatku merasa didengar, dan di sisi lain mendapat banyak ilmu baru. Sangat berat sekali pilihanku saat itu. Dan inilah tim yang terakhir aku tinggalkan untuk alasan 'tidak bisa laig pekerjaan menjadi prioritas yang sejajar dengan keluargaku, apalagi melampauinya'. Kenapa harus memilih, kan bisa diturunkan saja level prioritasnya? Dengan segala kecintaanku pada pekerjaan ini, aku memilih melepaskannya dengan benar, daripada menurunkan kinerjaku padanya. Dan sekali lagi kuhighlight, aku benar-benar tidak bisa melepaskan keluargaku.
Tidak hanya memberikan akhir yang baik, semoga aku benar-benar memberikan hari-hari yang baik selama berada dalam tim tersebut. Beberapa lama setelah hari terakhirku di sana, ada beberapa orang yang bertanya tentang kabarku, dan apakah aku akan kembali? Beberapa bahkan ada yang memberikan sangkalan, "ini hanya istirahat saja kan? dalam beberapa bulan akan kembali lagi kan? Tidak ada yang benar-benar tahu :)