Rinjani telah berhasil mendapatkan medali finisher half marathonnya, lengkap dengan pacar dadakan sebagai bonusnya. Pengajuan beasiswa Mahasiswa Berprestasinya sudah rampung, tinggal menunggu pengumuman hasilnya. Ia mendatangi gedung direktorat untuk interview hari itu. Saat itu ia sendiri, tanpa ditemani Rima, Dira ataupun Paul. Selesai interview, dia melihat sebuah berita usang di papan pengumuman.
Rinjani membaca papan pengumuman yang memuat tajuk Half Marathon ILA berakhir meriah. Rinjani sadar sejak saat itu, Alif absen dari klub lari. Ia bahkan hampir tidak pernah melihat keberadaannya di kampus, padahal kelas mereka berada di gedung yang sama. Sehari kemudian, Rinjani mendengar teman-teman sekelas Alif mengobrol, tentang Parkour. Rupanya pria dingin itu sedang menghabiskan waktu luangnya di sana. Mereka ini memang bukan tipe mahasiswa yang menongkrong di dalam kampus. Selesai jam kuliah, mereka langsung meninggalkan kampus dan rupanya pergi ke arena parkour. "Pantas ga pernah keliatan," ucap Rinjani monolog.
Tapi tetap saja aneh, menurut Rinjani, setidaknya, harusnya, punggungnya kelihatan. Ini tidak sama sekali. Sudah 2 bulan, masa tidak kelihatan sama sekali? Rinjani bertegur sapa dengan mahasiswa teknik dirgantara, sedikit penasaran mencari tahu barangkali ada berita apa. Benar saja ia mendapat berita yang super mengejutkan. Berita yang sudah membuat satu jurusan ini heboh selama satu bulan terakhir: Alif ditembak juniornya, dan akhirnya mereka jadian. GLEK, Rinjani tidak menyangka itu menjadi kabar yang akan didengarnya. Padahal sebelumnya ia hanya penasaran, kemana Alif sudah lama tidak pernah terlihat.
Kabar itu membuat Rinjani sadar diri, 'Eh ngapain nyari kabar cowok orang sih?" tegurnya pada diri sendiri. Baru saja ia meninggalkan kerumunan itu, sebuah chat masuk ke handphonenya, "Bisa jenguk aku? Aku di RS dr. Islah. Tanganku patah. Aku desprete pgn lihat kamu." Rinjani membaca ulang chat itu, dia jelas membaca sebuah nama di akhir chat -Alif. Apa lagi ini?
Pertarungan antara batin Rinjani dimulai:
"Kasian banget, pantesan ga pernah keliatan. Mana minta dijenguk lagi..."
Satunya menegur:
"Ngapain jenguk? Cowok orang itu. Ngapain juga dia minta dijenguk. Kan ada ceweknya! Ingat ya, hargai Paul!"
Rem Rinjani berfungsi. Ia mengabaikan pesan tersebut, melanjutkan langkahnya menuju kelas. Hpnya bergetar lagi, satu chat masuk "Tolong jenguk aku!" Pesan dari nomor yang sama, Alif. "Maksud dia apa sih?" pikir Rinjani terusik.
Selesai kelas, dering telepon masuk berbunyi. Nomor Alif lagi. Mulai agak kesal, Rinjani mengangkat teleponnya, mencoba mempercepat akhir pembicaraan. Tetapi, "Assalamu'alaikum, Rinjani... Ini Uminya Alif." suara seorang perempuan dewasa yang matang terdengar dari speaker telepon. Bingung sesaat, Rinjani berusaha sopan menjawab, "Wa'alaikumusalam, Umi." secukupnya, karena Rinjani tidak tahu harus berkata apa lagi. "Ini Alif udah beberapa hari minta dijenguk sama Rinjani. Umi juga bingung, Umi tidak kenal Rinjani. Rinjani juga mungkin akan kerepotan datang jauh-jauh kesini. Boleh anak umi bicara sebentar dengan Rinjani?"
Oh anak Umi. Rupanya Alif adalah anak Umi. Pikir Rinjani. "Mohon maaf Umi, saya masih ada kelas setelah ini. Mungkin saya titip salam saja ya untuk Alif, semoga lekas sembuh." Rinjani menolak dengan sopan, "Yasudah Nak, kalo gitu ini Umi sampaikan. Maaf ya mengganggu waktunya, Nak. Wassalamu'alaikum." "Wa'alaikumusalam," Rinjani menutup teleponnya. Awalnya RInjani sempat kasian dan hampir tergerak untuk berpikir "Apa jenguk aja ya? Tapi jauh banget sih, kalo Paul tau gimana? Apa jenguknya bareng Paul aja?" Tapi pikiran itu langsung hilang berganti menjadi, "Kenapa pengecut sekali Alif ini, harus bawa-bawa Umi segala," Pikir Rinjani jadi jengkel mengingat kembali berita Alif jadian dengan juniornya.
"Kamu beneran ga peduli ya? Aku jatuh waktu parkour. Aku kabur dari lari ke parkour buat ngebunuh waktu. Aku kesal liat kamu jadian sama Paul." Sebuah chat yang berani masuk dari Alif. Rinjani menarik hpnya ke bawah meja, mulai mengetik sambil marah, "Kamu juga udah jadian ya sama junior kamu. Ngapain masih memelas minta kujenguk? Kita sedang tidak dalam kondisi pantas untuk saling bertemu di RS, atau bahas ini loh." Tapi ia menghapus kembali semua pesan yang sudah diketiknya itu, menggantinya dengan, " Anggi sudah jenguk kan? Harusnya cukup dong buat kamu jadi lebih cepet recover?" Kalimat ini terbaca ketus di mata Alif. "Aku maunya kamu." Sopan sekali. Rinjani menghapus semua chat dari Alif dan menutup handphonenya. Berani-beraninya Alif membalas dengan kalimat itu. Telinga Rinjani panas. Wajahnya memerah. "Ada ya orang kayak gitu," pikir Rinjani dalam keadaan kesal.