Sesuai perjanjian Rinjani dan Paul hanya akan bertemu seminggu sekali di luar kampus. Pekan ini Rinjani harus menyelesaikan paper beasiswanya. "Minggu ini tlg kasih aku waktu beresin tulisanku," pinta Jani ke Paul. Paul sangat menghargai Rinjani. Ia benar-benar tidak muncul dalam waktu hampir seminggu itu. Ia hanya berpesan, "Kabari aku kalo kamu sudah selesai atau bosen ya."
Rinjani terus berkutat dengan kuliah rutinnya dan proyek tulisannya. Jam 7 pagi sampai 5 sore di kelas, dengan sedikit selingan haha-hihi teman-teman sekelas, ditambah jam 7 sampai 1 malam berkutat dengan tugas dan tulisannya, Rinjani mulai kewalahan. Tetapi ia terus berusaha sampai benar-benar menyelesaikan semuanya. Hampir selesai, Rinjani berpikir tidak ada salahnya untuk rehat sejenak, siapa tahu ia juga dapat inspirasi dan sudut pandang baru untuk tulisannya. "Aku hampir selesai," tumben Rinjani inisiatif mengetik pesan terlebih dahulu kepada Paul. Nada balasan Paul girang bukan main, "Siap, Princess. Mumet ya? Cape? Kita keluar ya Sabtu sore!"
Tibalah hari Sabtu yang dijanjikan, "Aku otw," Rinjani bersiap sesaat setelah membaca pesan Paul itu. Hari itu ia tampil girly, mengenakan atasan dress kasual berwarna putih, style rambutnya setengah ikat, celana panjang hitam, dan flatshoes. Tidak yakin apakah ini gaya yang benar menurut teori style busana atau tidak. Yang jelas, ia ingin sesuatu yang baru, karena tengah bosan dengan kepadatan rutinitas selama ini. Paul datang dengan Vespanya, dan kali ini dia membawa gitar di punggungnya.
"Apa ini, aku mau dinyanyiin?" tanya Rinjani. "Ngga, tapi kita akan nyanyi seru!" Tanpa banyak tanya jawab tentang agenda hari ini, mereka berangkat tanpa Rinjani tahu tujuan mereka. Rinjani jarang bertanya, dan Paul adalah perencana event yang baik. Mereka cocok dalam hal ini, satu orang merencanakan kejutan, dan satu orang lainnya benar-benar terkejut dan menerima kejutannya. Selama ini, Paul tidak pernah gagal memberi kejutan-kejutan dan hal baru bagi Rinjani.
Paul menepikan vespanya di depan sebuah toko pakaian, menitipkannya ke tukang parkir liar, lalu membawa serta gitarnya. Sepanjang jalan itu dipenuhi dengan Factory Outlet, dan ada banyak sekali pengamen yang berpenampilan rapi di sepanjang jalan itu, sampai ke ujung perempatan di depan sana. Paul menggandeng tangan Rinjani, menyebrangi jalan, berhenti di perbatasan lajur kiri dan kanan. 'Loh ga diterusin nyebrangnya?' Rinjani hampir bertanya, tapi hal mengejutkan terjadi.
Paul mulai memetik gitarnya di samping sebuah mobil yang sedang menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. "Treng.. Lucky I'm in love with my best friend, ..." Mata Rinjani terbelalak. Ia tidak menyangka bahwa konsep kencan hari ini adalah MENGAMEN. HAH ... hahah ...Rinjani tersipu-- menahan tawa, "Aku kira kita mau ke cafe yang di sebrang sana," bisik Rinjani meredam malu. "Gak perlu malu, disini semua orang begini," bisik Paul, "Kita nikmatin aja momentnya." Rinjani menggigit bibirnya sendiri menahan tawa, dan menarik nafas panjang. satu menit kemudian, Rinjani ikut bernyanyi.
Jendala mobil terbuka, selembar uang seratus ribu perlahan keluar dari jendela. Mata Rinjani terbelalak, ia terkejut, rasanya sesuatu meledak di bahunya. Matanya bertanya-tanya heran pada Paul. Paul hanya mengangguk dan terus melanjutkan petikan gitar dan nyanyiannya. Harmonisasi duet pasangan ini menggugah hati pemilik mobil. Mobil berikutnya membuka lebar jendelanya, dan berkomentar, "Kalian duet apa pasangan beneran? chemistrynya dapet banget. Lagunya enak banget. Lagu baru kan ini?" sambil menyodorkan uang lima puluh ribuan. Mereka berdua hanya mengangguksambil terus melanjutkan nyanyiannya.
Rinjani berseri-seri, konsep ini tidak pernah sekalipun terbersit dalam pikirannya. Bukan karena uang yang mereka dapat, tapi Paul telah memilih tempat 'kencan' dimana mereka bisa bernyanyi bersama, lengkap dengan audiense yang menikmati juga mengapresiasi duet mereka. Duet di sebuah cafe live musik sudah biasa, tapi mengejutkan pasangan dengan 'panggung' sebesar ini, di luar nalar Rinjani.