Paul memang orang yang unik. Rinjani baru pertama kali berteman, tepatnya harus berkencan, dengan orang seperti Paul. Awalnya Rinjani memang terpaksa keadaan menerima pernyataan cinta dari Paul. Tapi lambat laun, ia mulai benar-benar bisa terbiasa menerima Paul, karena usaha Paul yang tiada matinya. Sekali waktu dia membawakan bunga. Itu juga adalah bunga pertama yang Rinjani dapat dari seorang laki-laki. Paul bahkan sering menyanyikan lagu untuk Rinjani.
Paul memang teman favorit di setiap circle-nya. Manusia se-seru itu, siapa yang tidak suka berteman dengannya? Yang membuat Rinjani malu adalah dia selalu menggembor-gemborkan, "Wii,,,pacarku ...," di depan khalayak ramai. Hal ini agak menggelikan bagi Rinjani. Sampai-sampai Rinjani memberi ultimatum, "Mulai sekarang tidak ada kencan di kampus." Bukannya protes, Paul malah menerima tantangan Rinjani, "Oke. Mulai pekan ini kita pacaran di luar kampus."
Rinjani tidak yakin apa yang dimaksud dengan seruan itu. Tapi setidaknya ia lega. ia tetap bisa fokus kembali menyusun pengajuan Beasiswa Mahasiswa Berprestasinya. Paul bilang, "Untuk kamu yang cape setiap hari ngejar beasiswa, aku mau ajak kamu ke tempat yang tenang. Supaya kamu bisa ngasih diri kamu jeda. Siap-siap pakai sepatu Converse se-betismu itu. Hari Kamis kita akan ke tempat yang tinggi." Rinjani belum paham dengan 'tempat yang tinggi' yang dimaksud Paul, apakah gunung? "Mau ngajak tracking atau apa sih?" tanya Jani penasaran. "Rahasia," jawab Paul. "Dih," keluh Rinjani kesal.
Mereka akhirnya bertemu selepas kelas terakhir. Rinjani menurut, hari itu ia memakai sepatu Converse High Tops sebetisnya. "Waah cantik banget emang pacarku ini. Siap-siap yaa, pakai jaketnya," Paul memberi Rinjani sebuah jaket dan helm bogo orange. Mereka pun berangkat dengan Jupiternya Paul. Paul memperingatkan untuk berpegangan erat karena jalanannya akan sangat menanjak. Dan benar saja, tanjakannya curam.
Magrib sudah menyalip mereka. Mereka berangkat dengan background langit biru-orange senja hari, dan sampai saat langit mulai gelap. Agak merinding bulu kuduk Rinjani, khawatir dengan apa sebenarnya Rencana Paul ini. Tetapi ia benar-benar menurut, ia berpegangan erat sekali karena tanjakkan tidak kunjung mereda. Paul tiba-tiba berkata, "Dalam 200 meter tolong tutup mata, sampai kita tiba di lokasi ya. Jangan buka mata sebelum aku bilang boleh." Rinjani sudah seperti kucing peliharaan yang menuruti setiap kata-kata majikannya. Walaupun begitu, dalam bibirnya terus komat-kamit, ia meminta perlindungan dari hal-hal yang tidak diharapkan, dan dari pikiran jahat manusia.
"Kita hampir sampai, jangan buka mata dulu" ucap Paul sambil melepas gas dan mengerem perlahan. Ia memarkir motornya dan bilang, "Sekarang udah boleh buka mata." Rinjani semakin deg-degan. Gelap sekali hutan di belakang Paul itu. "Tenang, bukan hutan itu tujuan kita, itu cuma background. Kamu boleh balik badan, di sana ada resto, aku cuma mau ngajak makan," ucap Paul sambil tersenyum. Rinjani melihat resto itu, sangat sepi, begitupun parkirannya. Tidak ada pelanggan yang datang, selain mereka. "Tapi sebelum kita masuk, kamu lihat dulu ke arah sana. Itu menu utama yang aku siapin buat kamu. Aku akan berhenti ngomong beberapa saat," tambahnya.
Wajah Rinjani mengikuti arah telunjuk Paul yang hening sejenak saat itu. Ia melihat kelap-kelip lampu kota, di balik gelapnya langit magrib di hutan itu. Ia mendengar suara tonggeret dan suara hembusan angin. Hening, hanya ada suara alam yang masuk ke telinga Rinjani saat itu, ditambah siulan suara nafasnya yang menandai ia kedinginan di luar sana.
"Kalau sudah selesai nikmati viewnya, kita masuk yuk. Kayaknya kamu udah kedinginan," ajak Paul sambil menggandeng bahu Rinjani. Malam itu benar-benar hanya mereka berdua pelanggan yang datang. Ini tampak mencurigakan, tapi Rinjani tak bertanya apa-apa. Ia hanya melihat ke arah lampu kota yang berkelap-keli seperti bintang, tak lama setelah magrib. Ini benar-benar penghiburan sejenak yang tak Rinjani sadari ternyata ia butuhkan. Ia sekarang sedang berpikir bahwa penjahatnya adalah pikirannya sendiri yang sempat berpikir Paul mungkin akan macam-macam.