Rinjani terpaku di samping sosok seorang laki-laki bertubuh tinggi yang duduk di sampingnya. "Makan apa?" tanya pria itu seolah mereka sudah saling kenal dan akrab. Rinjani menengok perlahan ke arah kanan, di mana pria itu duduk. Benar saja, "Alif," ucapnya spontan karena kaget. "Iya. Halo!" sapanya, "... ku duduk di sini boleh ya?"
Apa hal? Tiba-tiba duduk di sebelah, mengagetkan. Lalu tiba-tiba menyapa. Hampir mau kesal, tapi Rinjani tidak bisa mebohongi diri, hatinya tersenyum. Tanpa perlu berkenalan, tiba-tiba pria itu duduk di sampingnya, seolah-olah mereka sudah berteman lama.
'Sebentar ...,' pikir Rinjani, 'bukannya ini lancang? Dari awal orang ini lancang sekali. Menyeret tanganku tiba-tiba, sekarang duduk di sampingku juga tiba-tiba, bukannya aku harusnya kesal?' batin Rinjani beradu. Karena diskusi antar batinnya ini, Rinjani tampak seperti orang yang lambat merespon. Alif pun bertanya, "Ga boleh ya? Oyauda aku pind...," "Gapapa," Tangan Rinjani bergerak lebih cepat daripada mulutnya.
Tangan Alif diraihnya, seolah tidak mau kehilangan, 'jangan pergi, plis, di sini aja' kurang lebih demikian yang diucapkan tangan Rinjani, seandainya bisa bicara. Sadar tindakannya diluar kendali, Rinjani menarik kembali tangannya. Momen awkward pun tak bisa dihindari.
Tapi Alif berusaha mencairkan suasana, "Udah pesen? Daritadi nanya, belum dijawab," Rinjani masih malu, ia hanya bisa mengangguk. Dalam hatinya masih bergumam, "Duh malu banget, kenapa harus pake segala narik tangannya," Nampaknya tangan Rinjani tidak bisa menahan diri merindukan tangan Alif yang pernah menariknya ke arah barisan. Dan ini terjadi di luar kendali Rinjani sendiri.
Alif duduk percaya diri di samping Rinjani, seolah-olah teidak ada hal aneh yang terjadi di antara mereka. Tapi menurut kacamata Alif, sebenarnya memang tidak ada hal aneh yang terjadi. Dia hanya melihat Rinjani duduk sendirian di meja ini, dan berinisiatif untuk duduk agar mereka sama-sama tidak sendiri di tengah keramaian itu. Dia pun memesan makan siangnya, dan Rinjani masih menahan malu, dan membatin, "Kenapa duduk di sampingku? bukan di hadapanku?"
Makanan Rinjani datang lebih dulu, tetapi ia tidak berani menyentuh makanan itu. Sungkan sekali rasanya ini, 'Tuhaan tolong, kemana teman-teman sekelasku itu, tolong datangkan mereka Ya Tuhan supaya aku tidak kikuk begini' satu batinnya memohon, tetapi satu lainnya berontak 'Jangan Tuhan, biarkan kami berdua lebih lama, tolong' LOH? Rupanya Rinjani menaruh hati kepada Alif. Hanya dengan sentuhan tanpa izin di tangannya yang menyelamatkan nasibnya hari itu? Mudah sekali bagi Rinjani jatuh hati.
"Kok ga dimakan?" Tanya Alif, "Nunggu temen-temen," jawab Rinjani terbata. Makan siang Alif datang, ia mengajak Rinjani untuk segera makan siang, "Udah makan duluan aja, ga usah nungu yang lain. nanti keburu asam lambung naik." Benar saja, sebenarnya Rinjani sudah lapar dari tadi. Ia inisiatif mengambil tugas booking meja awalnya supaya bisa makan lebih cepat, tetapi keadaannya malah menjadi begini.
Belum sempat masuk suapan pertama Rinjani ke mulutnya, datang satu orang lagi ke meja itu. Paul, duduk di sebelah kirinya. Dengan skill basa-basinya dia santai menyapa, "Ngga ngajak-ngajak ya..." Rinjani semakin tidak bisa makan, batinnya menjerit, "O Tuhaaan, apa lagi ini?" Kali ini ia benar-benar berharap teman-teman sekelasnya cepat datang menyelamatkannya dari keadaan yang canggung ini. Merasakan dadanya seolah terbakar, Rinjani pamit ke belakang. Ia mual, asam lambungnya benar-benar naik.