Masa ospek telah berlalu. Masing-masing Adhyayana telah saling menyapa dengan nama asli dan panggilan akrab mereka. Mereka memakai jas almamaternya setiap hari kuliah, selama satu bulan penuh. Memulai kelas tepat jam 7 pagi sampai matahari hampir tenggelam. Bagi yang terlambat, push up masih berlaku di beberapa kelas, bukan atas perintah Chandrabirawa ataupun Dasamuka, melainkan dari dosen-dosen legendaris dunia teknik Lautan Api, sebut saja beberapa, Pak Sur, Pak Wan, dan Pak Yan.
Kelas sedang memulai do'a sebelum mulai belajar. Tiba-tiba sebuah kepala muncul di balik pintu. Tangannya mengetuk pintu yang terbuka setengah itu, lalu dengan penuh malu bertanya, "Permisi Pak, maaf saya terlambat, tadi ..." belum selesai ia berbicara, Pak Sur sudah menahannya di depan pintu hanya dengan mengangkat kelima jari tangan kanannya. Kelas sedang berdo'a, dan mahasiswa itu menimbulkan distraksi pada kekhusyuan. Selesai berdo'a, Pak Sur langsung mempersilakan mahasiswa itu masuk, dengan syarat push up 10 kali di depan pintu.
Tidak ada yang protes, tidak ada yang kesal atau marah. Semua orang di kelas itu paham bahwa hal ini adalah pelajaran mengenai konsekuensi, bahwa kampus ini mengajarkan simulasi dunia manufaktur dan dunia kerja nyata dalam kesehariannya. Ketidak-disiplinan akan membawa kerugian bagi diri sendiri. Bahkan mahasiswa yang terlambat itu pun tidak kesal, "Masih untung dikasih masuk, padahal udah telat, ganggu sesi do'a lagi. Parah banget tadi (gue)," ia mengomentari nasibnya.
'Jam ke-empat' berakhir, saatnya istirahat makan siang. Bagi mahasiswa baru di dalam budaya kampus seperti ini, makan siang menjadi satu-satunya waktu healing di tengah padatnya materi dan tugas. Kebersamaan masa-masa ospek yang lalu belum pudar sepenuhnya, masing-masing kelompok yang terdiri dari berbagai perwakilan kelas dan jurusan masih saling berbaur per kelompok. Diantara kelompok-kelompok yang ada di satu angkatan ini, kelompok 3 memang agak lain. Mereka masih sesolid itu. Selalu makan siang di meja yang sama, saling bertukar informasi, tertawa dan berbicara cukup lantang. Kelompok ini sepertinya didominasi oleh orang-orang ekstrovert garis keras. Rinjani tidak pernah duduk bersama mereka, ia memilih fokus mengakrabkan diri dengan teman sekelasnya yang menjadi teman juang sepanjang hari dan tahun. Rinjani sering mencuri pandang ke arah meja yang riuh dan ramai itu, tetapi ia tidak pernah menemukan si Punggung Cengkek di sana.
Sempat ketahuan melirik meja kelompok 3, Rinjani disapa oleh salah satu dari mereka, "Jan!" Rinjani langsung menundukkan kepalanya, pura-pura mencari barang yang jatuh. Tak disangkanya, orang itu malah menghampiri. Kakinya tiba-tiba sudah mendarat di bawah meja tepat saat Rinjani menunduk. "Nanti ikutan ya! ajakin teman-teman kelompok 3 lain juga yang kamu kenal. Kita mau ada photoshoot angkatan khusus kelompok 3 Haha," katanya to the point. Rinjani yang belum siap hanya bisa mengangguk.
Hari Jumat sore akhirnya tiba. Rinjani bersama teman sekelasnya Rima, datang bersama ke studio foto Phoebe, studio foto paling trending yang pernah ada di kota itu. Photobox, wisuda, foto angkatan, semuanya bisa di Phoebe. Rinjani yang masih malu-malu memasuki studio mengikuti jejak langkah Rima. Ia berhati-hati khawatir menyenggol salah satu bingkai yang dipajang di sepangang jalur lalu lalang. Kakinya menaiki satu per satu anak tangga yang ikonik sambil kepalanya mendongak memperhatikan satu demi satu foto yang dipajang di dinding.
Sayup mulai terdengar suara keramaian yang teredam, suasana hening dan elegan yang tidak pernah ia temukan di studio foto di kampungnya berubah menjadi suara keramaian seperti pasar saat pintu studio 6 dibuka. Orang-orang yang ada di ruangan itu tampak sangat akrab satu sama lain. Semua berebut bicara. Rinjani melihat sosok yang selama ini mengusik pikirannya. Diantara sekian banyak orang itu, matanya langsung tertuju pada punggung yang tidak asing. Kakinya melaju ke arah bayangan tempat punggung itu berdiri, tapi satu langkah sepatu menghadangnya. "Hai, Jani, dateng juga. Kirain ga akan dateng," ucap orang itu lagi. Orang yang mengundangnya ke studio ini, jani juga belum mengenal namanya, 'Unta Gimbal', begitu yang ada di pikiran Rinjani sebelum mengetahui namanya.
Sesi foto berlangsung meriah bagi sebagian besar orang di sana, tetapi bagi Rinjani, momen itu adalah kesendirian di tengah keramaian. Bayangkan suatu scene di dalam drama, saat dunia bergerak begitu cepat di belakang seorang tokoh yang sedang mengalami efek slowmotion. Begitulan Rinjani saat ia melihat wajah dari si Punggung Cengkak untuk pertama kalinya. Teduh.