Tanah basah pasca guyuran hujan semalam. Embun berada di ujung rerumputan terseok langkah kaki yang terburu-buru. Setengah lari, Rinjani mengejar waktu, disambut teriakan para Dasamuka, 'Cepaaatt!! Cepaatt!! Yang terlambat siap-siap push up ...," Tak hanya Rinjani yang terengah, ratusan mahasiswa baru di Kampus Lautan Api itu berlarian memasuki barisan demi barisan. Mereka berdesakan dalam kepanikan. Kaki mereka terburu-buru, tetapi langkah mereka tertahan oleh mata yang sibuk di bawah kegelapan subuh hari, mencari nama kelompok di mana mereka harus berdiri di antara barisan-barisan yang tersedia di area seluas tiga kali lapangan basket itu.
Bahu Rinjani terus tertabrak oleh bahu maba lain, yang melaju dari arah kanan, depan, dan kiri secara bergantian. Keringat mulai mengucur, saat ia hampir tidak menemukan nama kelompoknya. Hitungan mundur sudah dimulai, "Tujuh, delapan, ...," seorang laki-laki jangkung menabrak bahunya dari arah belakang, menarik tangannya ke arah kerumuman yang semakin kacau, menyeretnya ke barisan "Kelompok 3.5", lalu menghilang dalam kerumunan.
Rinjani tidak sempat melihat wajah pahlawannya pagi itu. Ia hanya melihat punggung yang kurus di atas kaki yang panjang, serta bentuk potongan rambut pada batok kepala belakangnya saat sosok itu memasuki barisan "Kelompok 3.3". Bentuk kepala dan potongan rambut bagian belakang lelaki itu meninggalkan kesan tampan di kacamata Rinjani yang bahkan tidak sempat bertanya siapa laki-laki itu. Rinjani tidak mengenal siapapun di kota itu. Ia adalah perantau. Dia adalah satu-satunya lulusan SMA Binakarsa yang lolos masuk ke Poltek Lautan Api. Lalu siapa orang itu? bagaimana ia tahu kelompok mana yang sedang dicari oleh Rinjani?
"Dua ... satu! Yang belum masuk barisan push up di tempat!!" teriakan membahana itu membuyarkan lamunan Rinjani. Pagi ini ia terselamatkan oleh sosok tak dikenal. Suara alam sempat terdengar selama hampir tiga detik, sampai seseorang dengan ikat kepala berwarna merah muncul dari balik layar dan berkata, "MAHASISWA BARU! Mulai hari ini kalian akan dipanggil Adhyayana, sampai kalian kami nyatakan resmi menjadi bagian dari Poltek Lautan Api, mengerti?" sosok sangar itu rupanya komandan apel pagi ini. "CandraBirawa," demikian ia memperkenalkan dirinya.
Orang gagah itu terus mengoceh, samar-samar Rinjani mendengar, "Jam 5. Apakah terlalu sulit bagi kalian untuk hadir tepat jam 5? Masih ada yang telat?" kalimat selanjutnya mulai tak bisa ditangkap oleh telinga Rinjani, karena indranya sibuk penasaran dengan sosok orang asing yang berani-beraninya menyeret tangannya, walau pada akhirnya ia berhasil masuk ke dalam barisan tepat waktu. Ia ingin kesal dan berterima kasih pada saat yang sama, atau ingin mengenalnya? atau perasaan apa yang mengganggu Rinjani ini?
"Adhayana yang berdiri di kelompok 3.5, FOKUS!" Chandrabirawa menegur barisan Rinjani yang ketahuan melamun. "Ngantuk kamu?" tanyanya dengan nada galak, langkah kaki para dasamuka mulai mendekat. DEG ... Rinjani gemetar, keringatnya meneters, "Siap tidak, Kak". Teguran itu membuat Rinjani menunda rasa penasarannya pada sosok punggung cengkek yang mengejutkannya pagi ini.
Sambil menarik nafas panjang, Rinjani ingat kalimat gurunya, "Kamu sudah yakin mau masuk kampus ini? Belajarnya kayak anak STM loh, dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore!" Rinjani ingat betul dia mengangguk penuh keyakinan. Merasa dirinya kurang disiplin dan perlu bantuan sistem untuk mendisiplinkan diri, Rinjani mantap memilih Poltek Lautan Api sebagai kampusnya.