Rinjani akhirnya melihat wajah sosok penyelamatnya hari itu, "Sempurna," besit pikiran Rinjani sesaat sebelum lagi-lagi si Unta Gimbal menyela adegan, "Rinjani, pendiem banget sih, kenalan dulu yuk biar akrab. Paul." 'kirain Abdul,' celetuk polos Rinjani dalam hati. Nama Paul memang kontras dengan wajahnya yang ke-Arab-an. "Oh halo, . . ." seperti biasa Rinjani hemat kata. Rinjani menghela nafas panjang tanpa sadar, mengusik rasa penasaran Paul yang sontak langsung bertanya, "Cape ya, di tengah banyak orang kayak gini, introvert kehabisan energi nih, kayaknya?" Rinjani kaget 'sotoy sekali' pikirnya. Paul menatap Rima sedetik, matanya memainkan kode.
Tak lama Rima tiba-tiba meminta maaf, "Jani, sorry ya, aku ga bisa pulang bareng kamu, aku harus mampir ke suatu tempat." Tak tahu jalan pulang tapi tak bisa menahan Rima, Jani pun hanya bisa mengangguk, "iya Rima." Paul langsung mengambil sikap, "Pulang bareng aku aja yok! aku anterin deh, gratis!" Katanya meyakinkan Rinjani yang masih buta arah di kota asing itu.
Entah Paul pakai jurus apa, tiba-tiba Rinjani menyetujui ajakannya. Di sudut sana, rupanya Alif, Si Punggung Cengkak sedang memperhatikan dua orang ini yang tak lama berlalu dari pandangannya. Rinjani pulang bersama Paul. Mereka menuju parkiran, Rinjani mengikuti jejak Paul yang terhenti di depan sebuah Vespa antik. Paul mengambil helm bogo yang tergantung di motornya, dan menyerahkannya kepada Rinjani, memberi kode supaya Rinjani memakainya. Sedangkan Paul sendiri memakai helm hitam tanpa kaca yang tergantung di spion kanan motornya.
Cletak... bunyi helm yang sudah terpasang sempurna di kepala Paul. Rambut gimbalnya berontak dari dalam helm. Sebagian berhasil keluar, dan berkibar tertiup angin. Paul yang berbadan tinggi mulai menyalakan motornya. Suara vespa yang khas mulai terdengar, tepat saat Alif sampai di parkiran. Rinjani yang tersembunyi di balik badan Paul, sempat tidak terlihat, sampai mereka akhirnya mereka melaju dan melewati Alif. Rinjani kaget, dan tidak sengaja menarik baju Paul untuk menyembunyikan wajahnya dari Alif.
Alif sendiri malah bingung, "Kenapa harus sembunyi?" Entah apa yang ada di pikiran Rinjani saat itu, yang jelas, Paul yang membaca situasi, tidak berhenti mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan dan obrolan-obrolan ringannya. Rinjani menatap langit, tidak begitu menghiraukan Paul, ranting dan dedaunan berlalu silih berganti di atas kepalanya, bersamaan dengan awan-awan yang lalu lalang. Tiba-tiba di langit yang biru itu terpancar senyuman Alif. Sontak Rinjani kembali menunduk.
Paul melihat gelagat aneh Rinjani. Ia pun memancing topik dan mulai menceritakan tentang satu per satu dari orang-orang yang tadi berfoto bersama mereka. Paul hafal semuanya, dan semuanya tampak mengenalnya. Ia sangat populer di antara kelompok ini. Sedangkan Rinjani yang malu-malu, secara resmi hanya mengenal 2 orang saja. Dari obrolan itulah nama Alif muncul. Akhirnya Rinjani mengetahui nama sosok yang menghantui rasa penasarannya selama ini. Terima kasih untuk paul yang tidak berhenti menbocorkan informasi.
Mereka tiba di depan gang, "Turunin di sini aja," kata Jani, "terima kasih ya sudah mau mengantar. Maaf ngerepotin, aku belum begitu tahu arah." Paul merespon, "Ngerepotin apa sih, aku senang bisa nganter kamu, jadi kita bisa ngobrol banyak sepanjang jalan tadi. Kan aku jadi tahu kalo kamu yang sebetulnya suka . . . nyanyi." Sedikit deg jantung Rinjani, mengira Paul akan menyebut nama Alif. Untungnya, bukan.
Jumat telah berakhir. Sabtu-Minggu berlalu begitu cepat. Hari Senin tiba-tiba terjadi begitu saja. Lagi-lagi waktu makan siang. Rinjani kali ini bertugas berburu meja untuk teman-temannya, sehingga ia harus berangkat ke kantin lebih dulu, sementara teman-teman yang lainya ke mushola terlebih dahulu. Rinjani duduk sendiri, menunggu teman-temannya menyusul.
Tiba-tiba seorang laki-laki duduk di sebelahnya. "Udah pesen?" tanyanya. Suara itu tampak asing namun tidak begitu asing. Tapi kharismanya sangat Rinjani kenal. Bukannya langsung menengok wajah orang itu, Rinjani malah terpaku. Bahunya kaku, hatinya mencelos sehingga ia hanya bisa menarik nafas panjang. Apakah itu Paul? Atau Alif yang belum pernah bertegur sapa dengan Jani? Masa Alif? Kenapa tiba-tiba kepikiran Alif? Apa itu hanya harapan Rinjani?