Matahari terik pagi itu, para mahasiswa berkumpul di lapangan. Sebenarnya mereka ini mahasiswa atau siswa SMK? Tapi begitulah budaya kampus ini. 'Membentuk disiplin demi menjaga standar kualitas lulusan,' kata Wakil Direktur Bidang Akademik pada pidato panjangnya dalam pembukaan Ajang Mahasiswa Berprestasi. Aneh memang, ketika kampus lain dipimpin seorang rektor, kampus ini dipimpin seorang direktur. Dari pidato panjang beliau hari ini, Rinjani hanya mendengar, "Beasiswa akan diberikan kepada Mahasiswa Berprestasi. Siapakah mahasiswa berprestasi itu? yang bisa seimbang antara prestasi akademik, organisasi dan leadership, ditambah olahraganya," sorak sorai pesimisme para mahasiswa menyambut kalimat Pak Is. Tampak tidak mungkin, "Gaada manusia yang sempurna Pak," teriak seorang mahasiswa dari arah kanan. Suaranya tidak asing. Paul, lagi.
Bagi Rinjani ini adalah tantangan. Ia sangat bergantung pada beasiswa itu agar orang tuanya di kampung tenang dan tidak terlalu terbebani dengan kehidupan rantaunya ini. "Tahun lalu Pak Kur, di SMA, udah ngasih tau sih untuk dapat beasiswa harus pinter akademik sama harus aktif di organisasi. Ditambah harus pintar bikin karya tulis. Aku ga nyangka sih kalo tahun ini harus ditambah sama olahraga juga," bisik Rinjani pada diri sendiri. Dia optimis dengan nilai akademisnya, dia juga sudah mendaftar sebagai anggota Himpunan Mahasiswa, dia bahkan menambah kesibukan dengan mendaftarkan diri sebagai anggota tim Paduan Suara. Sekarang, dia harus berlatih olahraga juga?
Satu-satunya olahraga yang pernah dilakukan Rinjani sepanjang hidupnya hanya berlari. Berlari setiap berangkat dan pulang sekolah dari SD sampai SMP, berlari mengejar jadwal keberangkatan kereta selama SMA. Dia tertarik dengan basket, tetapi ia sadar bahwa ini bukan ajang mencari pengalaman, tetapi harus berprestasi. Rinjani yakin bahwa prestasi pada basket aga sulit dikejar. Kalaupun dia masuk tim basket, dia mungkin hanya akan menjadi penonton di kursi pemain cadangan. Lain halnya dengan lari, walaupun tidak pernah ikut pelatihan formal, ia yakin, ia bisa setidaknya mengejar ketertinggalan dan mencoba mendapat prestasi olahraga lewat jalur lari.
Ia mencoba mengatur jadwal, khawatir ada kegiatan rutin organisasi yang bentrok. "Paduan Suara setiap Jumat, Lari setiap Selasa dan Kamis, . . . wah cocok nih," Rinjani langsung mendaftarkan dirinya ke klub lari. Dira teman sekelasnya komentar, "Wah ga kebayang sih, lu ga semaput? istirahatnya kapan itu? Emang lu gamau apa nongkrong-nongkrong bareng kita-kita. Explore tempat-tempat seru di luar kampus. Jangan ngendoq di kampus mulu napa?" Rinjani tidak terpengaruh, Rima membantu menjawab komentar Dira, "Biarin tau dia sibuk, daripada bengong di kosan tiap malem, nanti malah kesurupan, hahaha."
Empat hari kemudian, Rinjani sudah bersiap dengan celana training dan jaket larinya. Rambutnya terikat seperti ekor kuda, sedangkan tali sepatunya lupa ia ikat. "hal pertama yang paling penting dalam berlari adalah tali sepatu, ..." tiba-tiba suara Alif terdengar dari dekat, "Jangan sampai nyelakain diri sendiri. Iket yang bener coba tali sepatunya."
Dunia terlalu sempit, atau Rinjani yang terlalu ada di mana-mana. Di setiap kegiatan kampus. Faktanya, di Keluarga Paduan Suara ILA dia bertemu dengan Paul, sedangkan di klub lari dia bertemu dengan Alif. Yang jelas fokus Rinjani adalah mendapatkan beasiswa, dan ia harus berusaha keras untuk mendapatkannya.
Coach Ferry yang saat itu menjadi pelatih lari di klub lari ILA banyak membantu perkembangan kemampuan Rinjani dalam bidang lari. Yang dikagumi oleh Rima dan Dira adalah bagaimana monster lugu ini melahap semua kegiatan yang ada di kalendernya dengan fokus dan sukacita. Jadwal kuliah dari jam 7 pagi sampai hampir jam 5 sore, ditambah setelah itu:
Senin : Himpunan
Selasa: Lari
Rabu: istirahat/tugas akademik
Kamis: Lari
Jumat: Padus
Sabtu: Himpunan
Minggu: Istirahat
Karena itu Rinjani dijuluki monster lugu oleh dua teman terdekatnya. Prestasi akademik di kampus ini ditandai dengan IPK minimal 3.30, dan di tahun pertama ini Rinjani menoreh angka 3.60, permulaan yang baik walaupun meleset dari target ambisiusnya: 4.00 untuk tahun pertama. "Haloo, gimana mau dapet IPK 4,00 lu kan waktu nya kebagi-bagi sama ini itu, dih, gw sih ikut lari sekali doang aja udah gw pake buat molor tu sisa hari dalam seminggu," celetuk Dira, disambut kelakar Rima dan tawa miris Rinjani.
Bulan demi bulan telah berlalu, Rinjani tetap melanjutkan larinya menjadi hobi produktif. Ia menambah porsi larinya selain Selasa dan Kamis dengan Minggu pagi. Akan tetapi ia merelakan berhenti dari Keluarga Paduan Suara ILA karena komentar guru vokalnya, "Bukan pakai tenggorokan, dari diafragma. Aaaa~." Rinjani mencoba, "Aaaa~" rupanya masih salah, "Bukan, coba keluarin suara asli kamu, udah tau belum suara asli kamu sendiri?" tanya guru vokalnya pada sesi test individu. "AAaa~," Rinjani mencoba kembali, dan menyerah setelah komentar terakhir gurunya,"Udah udah, emang ga bisa nyanyi kamu itu sih." Hancur hati Rinjani saat itu, dan ia menumpahkan kekesalannya dan 'merasa gagalnya' pada kegiatan lari.