Tahun pertama, Rinjani penuhi dengan pengembangan diri. Memasuki tahun kedua, Rinjani sudah siap bertarung dalam ajang mahasiswa berprestasi. Nilai akademiknya sudah memeuhi syarat, posisi dalam organisasi juga sudah aman, tinggal olahraga. Rinjani disiplin latihan, dia mulai mengikuti event-event lari. Sendiri. Rima dan Dira, sahabatnya, bukan tipe orang yang suka olahraga. Sedangkan di klub lari, dia belum menemukan orang yang se-frekuensi.
Kabar baiknya adalah, walaupun sering bertemu denga Alif, Rinjani sudah tidak terlalu gemetar atau bertingkah aneh. Dia sudah mulai terbiasa. "Selama ini cuma penasaran aja deh kayaknya," monolog Jani terkait Alif. Mereka sering bertemu di track lari. Karena jam terbang dan kaki panjangnya, angka pace Alif lebih rendah dari Rinjani, seringnya Rinjani tersusul kemudian tertinggal kembali oleh Alif. Saat berpapasan mereka mengobrol seperti kawan pada umumnya, seperlunya.
Rinjani malah semakin akrab dengan Paul. Kepribadian yang kontras, juga keseruan obrolan Paul perlahan mewarnai hari-hari Rinjani yang kaku dan monoton. Paul ini disiplin melukiskan pena pada hari-hari Rinjani, walaupun pada awalnya sering bertepuk sebelah tangan, tapi ia tetap meresponnya dengan seru, seperti "Tos dulu dong," tapi Rinjani tidak bergeming, "Yaah,,meleset..." tangan Paul mengayun di udara menangkap angin kosong. Paul memberi percikan energi yang 'lain' pada Rinjani. Rinjani yang garing dan kaku seperti kanebo kering pun sedikit banyak berubah menjadi lebih ceria.
Rinjani disiplin dengan jadwal akademis dan lari-nya. Tiba saat ILA Half Marathon, Rinjani dengan bib F217 di dadanya tampak mencolok dengan kaos kuningnya. Alif berada pada barisan start yang sama dengan kaos putih dan bib M073. Seorang starter sudah mulai menghitung mundur, dan menyalakan sirine start atau tanda dimulainya half marathon itu. Alif dan Rinjani memulai langkah yang sama.
Mereka tampak sejajar pada 100 meter pertama, lalu Alif berlalu lebih cepat. Lagi-lagi, Rinjani menatap punggung itu. Sebuah ditraksi nyata bagi Rinjani, ia berusaha melambat tetapi sadar, bahwa berapapun jaraknya, punggung itu akan tetap dilihatnya jika posisinya terus berada di belakang. Ia harus mendahului, agar tak perlu lagi menatap punggung itu. Rinjani mengayuh kakinya lebih cepat, ia berusaha menyusul setidaknya untuk mempertahankan posisi di sebelah Alif, karena menyalipnya rasanya hampir tidak mungkin. Rinjani berusaha menyusul bukan untuk berdekatan, tetapi justru agar berdampingan, sehingga ia tidak perlu melihat Alif dan punggungnya itu.
Di barisan penonton, Paul heboh dengan segala keunikannya, memberikan dukungan untuk Rinjani. Seorang Marshal sampai harus menertibkannya. Rinjani terus melaju. Tepat saat Alif hampir tersusul, Alif menurunkan kecepatannya, seolah sengaja sampai ia akhirnya berdampingan dengan Rinjani. Mereka akhirnya melaju pada pace yang sama. Langkah mereka padu, ... kanan, kiri ... nafas mereka kompak. Dunia seakan melambat pada garis lari mereka. Sedangkan lalu lalang peserta lain seolah menjadi samar. Satu, dua langkah, dan seterusnya, mereka berlari bersama, tanpa kata, tanpa suara, hanya irama nafas yang sinergis. Langkah mereka searah pada garis yang menuntun ke garis finish, dengan sesekali sorak sorai dari kiri dan kanan, dan berlalunya beberapa pelari yang menyusul dan tersusul.
Alif sebenarnya sedang menikmati moment hening yang ia nanti. Sedangkan Rinjani, sedang menikmati kebebasan dari punggung Alif. Alif menepi mengambil botol. "Lemah sekali," batin Rinjani yang terus memacu langkahnya. Baru saja kalimat itu ditelannya, Alif sudah mendarat kembali di sebelahnya, menyodorkan botol yang baru saja diambilnya, tanpa kata-kata. Rupanya sebuah botol untuk Rinjani. Mereka tetap melaju dalam kecepatan konstan. Rinjani menerima botol itu, sambil tetap menyelesaikan tracknya. Hampir sampai di garis finish, Alif melambat. Matanya melihat lebih dulu apa yang masih samar di mata Rinjani yang menderita miopia.
Di ujung sana, tepat di depan garis finish. Paul sudah menunggu, dengan sebuah pengeras suara dan spanduk bertuliskan: Rinjani, dan sebuah tanda hati. Rinjani dengan miopianya belum sadar dengan apa yang menantinya di garis finish. Ia melihat orang jangkung berambut ikal gondrong sedang berdiri memegang spanduk dan sebuah alat pengeras suara. Sampai saat orang itu mengangkat TOA nya, dan mulai berbicara, "Rinjani...Rinjani...Rinjani...," barulah ia tahu bahwa itu Paul. Para marshal dan petugas keamanan sempat mencoba membuatnya minggir, tetapi dengan lobby kelas kakapnya, Paul berhasil memenagi izin bicara 1 menit, 'Rinjani... ayo jadian!"
Sorak sorai semua orang yang ada di lokasi bergemuruh, Rinjani baru saja menyelesaikan finish half marathonnya. Dalam nafas yang terengah, ia sempat menengok ke belakang, matanya mencari Alif yang hilang dalam bayangan kerumunan. Belum bisa berpikir jernih, ia berusaha bertarung dengan watak people pleasernya, tetapi keadaan membuat logika dan perasaanya kalah. Ia merasa harus menjawab, "Ya," pada saat itu juga. Dalam riuh suara manusia di sekitarnya, tanpa ia sadari, matanya merasa sepi, mencari sebidang punggung yang sering menghantui.