Beberapa pekan berlalu. Jam istirahat kembali mempertemukan beragam macam mahasiswa di kampus aneh itu. Rinjani masih belum bisa melupakan amarahnya tentang rengekan Alif yang minta dijenguk. Ia melihat sebuah meja kosong di depan kios Bude Wati. Ia teringat saat ia duduk sendiri di sana, menunggu teman-temannya, Alif datang membawa dirinya sebagai kejutan tanpa pita, yang tak lama kemudian disusul oleh Paul. Momen saat Rinjani tidak bisa menikmati makanannya sampai asam lambungnya naik.
Lamunan ini membuat ia terlambat menduduki satu-satunya meja kosong itu. Seorang gadis berambut agak merah kecoklatan beserta teman-temannya menyerobot, dan segera duduk di sana. Anggi. wearpack yang dipakainya memuat nama itu di dada kirinya. dan dilengannya terdapat emblem Aeronautika. Oh, ini orangnya. Pacar Alif. Seakan mendengar suara hati Rinjani, Anggi mendadak menoleh ke arah Rinjani, menatapnya sedetik, lalu beralih ke arah Bude Wati dan mulai memesan makan siangnya.
Rinjani menjauh dari meja itu, belakangan Paul sibuk dengan kaderisasi di himpunannya, sehingga lebih sering makan di kantin gedung sebelah daripada di kantin utama. Sambil menarik nafas panjang, Rinjani mulai duduk di antara teman-teman kelas lain yang ia kenal dari Keluarga Paduan Suara. Ia duduk dengan rasa hambar karena mau tidak mau harus terjebak diantara kawan-kawan yang tidak begitu akrab dan himpitan memori pahit akan guru vokalnya dulu.
Rinjani semakin kehilangan nafsu makannya, saat melihat Alif masuk melalui pintu kanan, dengan tangan yang ditopang. Ia berjalan menghampiri Anggi di meja bersejarah itu. Ingin rasanya ia memesan Ayam Penyet Bude Wati sambil berteriak dari kursinya saat itu, 'Bude...ayam penyetnya satu, yang pedes banget, sekalian ulek orang ini nih!" Lihat saja sikapnya di depan Anggi, lalu bandingkan dengan rengekan chatnya kepada Rinjani. "Menyebalkan sekali," keluh Rinjani. Mas Erwin, pemilik kedai Warmindo di lingkungan kantin ini datang di saat yang kurang tepat, "Pesan apa Mba?" tanyanya sewajarnya. Rinjani, masih dengan tatapan sinisnya (bekas tatapan untuk Alif), menjawab, "Indomie goreng 1, pake telor, cabe yang banyak." "Galak bener," tanya Mas Erwin. Rinjani tak menjawab, hanya menyipitkan mata. Mas Erwin pun berbalik badan, "Siap, kita proses, tunggu ya, Mba."
Teman-teman yang duduk di sebelah Rinjani terheran-heran, "kenapa kamu? PMS?" "Iya," Jawab Rinjani, 'biar cepet aja' pikirnya. Rinjani membayar pesanannya tanpa menyicipinya sama sekali. "Mba-mba, pesanannya belum diambil iki, gimana, malah mlengos. Opoo salahku rek?" Mas Erwin kena batunya. Rinjani tidak tahan melihat Alif dan Anggi. Dia kembali ke kelas, dan duduk menatap papan tulis. Belum lama duduk, dia teringat, "Waktunya pengumuman beasiswa"
Ia langsung ngacir ke gedung direktorat, dan membaca papan pengumuman. Saat itu semuanya masih serba manual. Pengumuman resmi ditempel pada sebuh Papan Pengumuman. Rinjani mengamati daftar nama pada pengumuman itu dengan seksama. Namanya tercantum di urutan ke-tiga. Ia mengucap syukur, setidaknya dia masuk podium, dan dapat tunjangan untuk beberapa bulan ke depan. Hal ini juga jadi berita penghiburan untuk Rinjani yang sejak tadi merengut tak karuan.
Ia hendak mengabari Paul, tapi Paul meneleponnya lebih dulu, "Selamat yaa, pacarku emang hebat," puji Paul. Rinjani senang, ada teman untuk berbagi kabar gembira. Kali ini ia sedang tiba-tiba berharap, apakah Paul akan memberikan kejutan lagi? Rupanya Rinjani sudah mulai ter-brainwash, dan ketagihan dengan kejutan-kejutan menarik dari Paul. Dia menunggu, tetapi belum ada kabar atau tawaran apapun dari Paul. "Oh iya, sibuk," Rinjani teringat bahwa Paul sedang sibuk. Sebagaimana Paul yang selalu memberikan pengertian saat Rinjani sibuk, Rinjani pun berusaha demikian. Dia hanya berterimakasih atsa ucapan selamat dari paul, dan tidak bertanya apapun.