Bab ini bukan lagi tentang Jakarta, bukan tentang pekerjaan, dan bukan lagi tentang target-target yang menghimpit dada. Bab ini adalah tentangmu. Tentang kita. Tentang sebuah perjalanan panjang menembus kabut tebal yang kita kira tidak akan pernah berakhir.
Untukmu yang dipaksa berdamai dengan kesunyian karena dunia tidak memberi kita pilihan lain. Kamu, yang sempat merasa hampir kehilangan akal di tengah isolasi, namun justru menemukan ketenangan kecil di dalam jiwamu sendiri, sebuah jenis ketenangan yang tidak pernah kamu duga bisa tumbuh dari tempat yang begitu gelap dan lembap. Kamu belajar bahwa di dasar sumur yang paling dalam pun, cahaya bintang masih bisa terlihat jika kita cukup tenang untuk menengadah.
Untukmu yang kehilangan seseorang tanpa sempat membisikkan satu kata pun sebagai tanda selamat tinggal. Kamu, yang harus merelakan kepergian orang tercinta dari kejauhan, ketika jarak seratus kilometer mendadak berubah menjadi tembok yang angkuh dan ketakutan membatasi setiap pelukan yang seharusnya ada.
Untukmu yang menahan tangis sendirian di antara bisingnya notifikasi berita yang mencekam, raung sirine ambulans yang membelah malam Jakarta, dan doa-doa lirih yang dipanjatkan dengan jemari yang bergetar hebat. Termasuk aku, yang tidak bisa memeluk nenekku untuk terakhir kalinya di Bandung, dan harus belajar dengan paksa bahwa mencintai kadang berarti merelakan tanpa pamit, tanpa tatap akhir, dan tanpa genggaman tangan yang mampu menuntaskan duka di ujung napas. Kita belajar bahwa cinta tidak butuh kehadiran fisik untuk tetap menjadi utuh.
Untukmu yang seluruh rencananya luluh lantah dalam semalam. Yang menghapus tanggal-tanggal penting di kalender dengan berat hati. Yang menghapus tanggal-tanggal penting di kalender dengan berat hati. Yang mengganti hangatnya pesta dengan dinginnya layar panggilan video. Yang terpaksa menunda mimpi yang telah dirajut dengan rapi selama bertahun-tahun.
Untukmu yang sempat berpikir bahwa ini adalah akhir dari segalanya. Untuk kita semua yang pernah merasa yakin tidak akan sanggup melangkah sejauh ini. Yang pernah berbisik di tengah malam yang paling kelam, “Aku tidak kuat lagi,”namun anehnya, tetap memilih untuk memejamkan mata, bangun, dan mencoba kembali keesokan harinya dengan sisa tenaga yang ada.
Lihatlah ke cermin sekarang. Lihatlah dirimu baik-baik. Kita masih di sini.
Kita masih bernapas. Kita masih berjalan, meskipun langkah kita pernah terseret, lutut kita pernah berdarah karena jatuh, dan napas kita pernah tersengal hebat karena kecemasan yang mencekik. Terima kasih karena telah memilih untuk bertahan. Terima kasih karena telah menjadi pahlawan bagi dirimu sendiri di saat tidak ada orang lain yang melihat perjuanganmu di balik pintu kamar yang tertutup.
Dunia mungkin tidak akan pernah kembali sama seperti dulu. Aspal Jakarta mungkin masih sama panasnya, tapi cara kita memandangnya telah berubah. Dan mungkin, itu bukan hal yang sepenuhnya buruk. Karena kini kita tahu betapa tak ternilainya sebuah pelukan yang tulus. Kita tahu betapa sakralnya makna duduk melingkar dan makan bersama di satu meja dengan orang-orang tersayang. Dan di atas segalanya, kini kita tahu betapa kuatnya diri kita, meskipun kita pernah merasa begitu rapuh dan hancur berkeping-keping.
Untuk tahun-tahun yang akan datang, biarlah satu hal ini menetap di dalam ingatanmu: bahwa kita telah berubah. Kita bukan lagi orang yang sama yang membawa koper kecil itu ke Jakarta beberapa tahun lalu. Kita telah ditempa oleh api ketidakpastian yang membakar semua kepalsuan kita. Dan kita telah lulus dari sekolah kehidupan yang paling keras, yang mengajarkan kita cara berjalan di dalam kegelapan tanpa perlu memegang senter, karena cahaya itu sudah menyala di dalam dada kita.
Untukmu yang berhasil bertahan, aku kirimkan pelukan paling hangat dan rasa syukur yang paling dalam dari sudut Jakarta ini. Terima kasih karena sudah melangkah sampai ke titik ini. Terima kasih karena telah membuktikan bahwa harapan selalu memiliki cara untuk tumbuh, bahkan di antara retakan aspal yang paling keras sekalipun.
Dan yang terpenting, terima kasih karena kamu menolak untuk menyerah pada dirimu sendiri. Kamu hebat. Kamu cukup. Dan kamu lebih dari sekadar layak.
