“Sebenarnya kampus kamu nggak masuk daftar universitas target kami, tapi… kami mau coba dulu.”
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sangat biasa. Datar, hampir ramah, bahkan mungkin si pembicara menganggapnya sebagai sebuah pujian atau "kesempatan emas". Namun, ada jenis kalimat tertentu yang tidak perlu diteriakkan dengan keras untuk bisa melukai. Ia hanya perlu mendarat di tempat yang tepat: di celah keraguan yang sudah lama kita simpan rapat-rapat di dalam kepala.
Hari itu, di sebuah ruang pertemuan yang dingin di Bandung, aku merasa seperti sebuah barang percobaan. Aku diterima, tapi dengan catatan kaki. Aku diizinkan masuk, tapi dengan tanda tanya besar di belakang namaku. Kejadian itu menjadi titik awal dari sebuah kebiasaan yang tumbuh tanpa kusadari: kebiasaan untuk terus-menerus membuktikan diri.
Aku bekerja lebih keras dari yang diminta. Datang lebih pagi daripada orang lain. Mengambil lebih banyak tugas dari yang sanggup aku tangani. Bukan karena aku ambisius. Tapi sebenarnya karena aku takut. Takut terlihat tidak cukup. Takut dianggap sebagai pilihan yang salah. Takut suatu hari keberadaanku dipertanyakan.
Untuk waktu yang lama, aku percaya bahwa kelayakan adalah sesuatu yang harus dikejar. Bahwa ia menunggu di ujung kelelahan, di balik lembur yang tak tercatat, di dalam daftar pencapaian yang terus bertambah. Padahal tidak ada yang benar-benar memintaku untuk sejauh itu. Tidak ada yang menuntutku untuk mengorbankan diri. Yang ada hanyalah aku, yang belum percaya bahwa keberadaanku sudah cukup.
Jika orang melihatku dari luar, mereka mungkin akan menyebutku ambisius atau high-achiever. Tapi jujur saja, mesin penggerak ku saat itu bukanlah ambisi. Mesin penggerakku adalah ketakutan.
Aku takut terlihat tidak cukup. Aku takut dianggap sebagai "kesalahan rekrutmen". Aku takut jika suatu hari nanti, keberadaanku di ruangan itu akan dipertanyakan karena latar belakang pendidikan atau asal usulku yang dianggap "tidak masuk standar". Aku merasa harus membayar "utang kelayakan" yang sebenarnya tidak pernah ditagihkan oleh siapapun kecuali diriku sendiri.
Pelajaran terpenting dari pekerjaan pertamaku ternyata bukanlah tentang profesionalisme, teknis pekerjaan, atau cara mencapai target KPI. Pelajaran terbesarnya adalah tentang menyadari bahwa aku tidak perlu terus-menerus membenarkan keberadaanku di dunia ini. Aku tidak perlu meminta maaf karena aku ada disini.
Kelayakan bukanlah sesuatu yang baru akan datang ketika kita akhirnya menjadi sempurna atau mencapai posisi direktur. Kelayakan itu hadir justru ketika kita berhenti memintanya dari orang lain. Ia muncul saat kita berhenti bertanya apakah kita pantas, dan mulai bertanya apakah kita sudah jujur pada nilai-nilai yang kita pegang sendiri.
Hari ini, jika aku menoleh ke belakang dan melihat diriku yang dulu duduk gemetar di ruang interview itu, aku tidak ingin memeluknya karena dia berhasil mencapai target penjualan atau promosi jabatan. Aku ingin memeluknya karena dia berhasil bertahan di masa-masa sulit ketika dia belum percaya pada dirinya sendiri, namun tetap memilih untuk melangkah.
Karena ternyata, kelayakan tidak pernah menunggu untuk diberikan oleh bos, HR, atau label universitas ternama. Ia selalu ada di sana, di dalam diri kita. Kita hanya terlalu sibuk mencoba membuktikannya ke dunia luar, sampai-sampai kita lupa untuk merasakannya sendiri di dalam dada.
Hal-Hal yang Baru Kamu Sadari Setelah Masuk Dunia Kerja
Kamu kira kerja keras akan membuatmu merasa keren seperti di film-film. Ternyata, kerja keras yang berlebihan lebih sering membuatmu cepat lapar dan hobi mencari lowongan kerja baru di tengah jam kantor.
Bos tidak selalu benar, tapi kamu akan belajar bahwa ada seni dalam memilih kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan harus segera pulang tepat waktu tanpa rasa bersalah.
Percayalah, tidak semua orang yang terlihat percaya diri di ruang meeting benar-benar tahu apa yang mereka lakukan. Sebagian dari mereka hanya mengetik dengan sangat cepat agar terlihat sibuk saat kamu lewat.
Email pertama yang kamu kirim ke klien atau atasan akan kamu baca ulang sepuluh kali sebelum menekan tombol send, hanya untuk memastikan tidak ada typo yang bisa menghancurkan reputasimu (padahal mereka mungkin tidak menyadarinya).
Kamu layak saat kamu bangun tidur, kamu layak saat kamu bekerja, dan kamu tetap layak saat kamu membuat kesalahan. Kelayakanmu tidak naik turun mengikuti grafik performa kantormu.
Berhentilah bertanya "Apakah aku pantas di sini?" dan mulailah bertanya "Apa yang bisa kupelajari di sini?"
