Seseorang pernah bilang bahwa masa setelah lulus sekolah adalah masa paling membingungkan dalam hidup. Dan aku mengerti kenapa. Karena di titik itu, sesuatu yang selama ini kita andalkan tiba-tiba hilang: struktur.
Selama bertahun-tahun hidup terasa seperti garis lurus. Kita tahu ke mana harus pergi, apa yang harus dikerjakan, siapa yang akan menilai hasilnya. Ada kelas yang menunggu. Ada tugas yang harus dikumpulkan. Ada deretan nilai di atas kertas yang menjadi hakim mutlak, menandai apakah kamu berhasil, atau kamu harus menunduk malu dan mengulang lagi. Semuanya terukur. Semuanya terprediksi. Hidup kita hanyalah sebuah rangkaian instruksi yang sudah dijilid rapi.
Lalu, hari itu datang. Toga dilipat dengan kaku ke dalam lemari, bersanding dengan sepatu formal yang kini mulai berdebu. Bunga-bunga ucapan dari teman mulai layu, kelopaknya mengering dan rontok satu per satu di sudut kamar. Dan tiba-tiba, dunia menjadi sangat senyap.
Bukan senyap karena kamu sendirian di ruangan itu. Tapi senyap karena tidak ada lagi suara dari luar yang memberitahu: "Setelah ini, kamu harus ke sana." Tidak ada jadwal kuliah yang menempel di pintu kulkas. Tidak ada dosen yang menagih revisi bab terakhir. Tidak ada nilai IPK yang bisa ditukarkan dengan jaminan bahwa besok pagi segalanya akan baik-baik saja.
Hanya ada kamu. Dan sebuah dunia luas yang menatapmu dengan sorot mata menantang, seolah berbisik di antara deru suara kipas angin: “Sekarang, silahkan buat aturanmu sendiri. Silakan bertahan hidup.”
Di situlah sesak itu mulai terasa. Selama ini, kita tidak pernah benar-benar diajarkan cara hidup tanpa peta. Kita tumbuh dalam sebuah dongeng kolektif; bahwa jika kita kuliah sungguh-sungguh, meraih nilai tinggi, aktif berorganisasi, dan menyusun CV dengan tata bahasa yang sempurna, maka pintu-pintu kesuksesan akan terbuka lebar dengan karpet merah yang terbentang. Kita tumbuh dalam keyakinan bahwa peta itu ada, bahwa kalau kita kuliah sungguh-sungguh, dapat IPK tinggi, ikut organisasi, menulis CV dengan rapi, maka pintu-pintu kesuksesan akan terbuka dengan sendirinya.
Tapi ketika semua itu sudah kamu lakukan, kamu sadar: tidak ada peta menuju kesuksesan. Yang ada hanyalah tumpukan lamaran kerja yang belum dibalas, tabungan yang mulai menipis, dan dirimu duduk di depan laptop, menatap layar kosong, menulis “Dear HR” dengan jari yang sedikit gemetar, berusaha terdengar seperti seseorang yang tahu arah hidupnya.
Ada suara-suara lain yang ikut menekan. Suara tetangga yang bertanya, "Sudah kerja di mana?" atau tatapan penuh harap dari orang tua yang membuatmu merasa setiap suap nasi yang kamu makan adalah beban hutang yang belum terbayar.
Aku dulu mengira setelah lulus, semuanya akan terasa masuk akal. Bahwa hidup akan mengikuti rencana seperti garis lurus di kertas: melamar kerja, diterima, punya penghasilan, lalu mulai menata hidup perlahan. Tapi ternyata hidup tidak sesederhana itu. Ternyata tidak ada kepastian yang menunggumu di ujung toga.
Yang ada hanyalah ruang kosong. Dan aku, yang mencoba mengisi ruang itu dengan segala sisa keberanian yang kupunya. Pelan-pelan, aku mulai belajar bahwa "sukses" itu punya banyak wajah. Kadang, ia memang berupa surat penerimaan kerja yang sudah lama ditunggu. Tapi kadang, sukses justru adalah keberanianmu untuk berkata "tidak" pada pekerjaan yang tidak membuatmu bahagia, meski saat itu kamu sedang sangat membutuhkan uang. Kadang, sukses sesederhana kemampuan untuk tetap bangun di pagi hari, menarik napas dalam-dalam, dan tetap memilih untuk mencoba walau hatimu masih terasa sangat berat dan duniamu masih tampak gelap gulita.
Kita tidak pernah benar-benar kehilangan arah. Kita hanya belum menemukan jalur yang terasa seperti milik kita. Karena peta itu, ternyata, tidak pernah diberikan. Ia tidak tercetak di kertas atau tertulis di buku panduan mana pun. Ia terbentuk di setiap langkah yang kita ambil, di setiap pilihan yang kamu sesali tapi akhirnya mengajarkan sesuatu, di setiap malam di mana kamu menangis diam-diam, tapi tetap bangun keesokan harinya untuk mencoba lagi.
Hal-hal Kecil yang Aku Pelajari tentang "Tersesat"
Ijazah adalah kunci untuk membuka pintu, tapi karaktermu adalah yang menentukan apakah kamu akan betah tinggal di dalam ruangan itu atau tidak.
Melihat pencapaian teman di LinkedIn itu seperti melihat cuplikan film trailer, kamu tidak pernah tahu berapa banyak adegan gagal yang harus mereka potong sebelum sampai ke sana.
Berhenti membandingkan "awal" perjalananmu dengan "pertengahan" perjalanan orang lain. Setiap orang punya zona waktunya masing-masing.
Ternyata, mengakui bahwa kamu sedang "tidak tahu harus melakukan apa" adalah langkah pertama yang paling jujur untuk menemukan apa yang benar-benar ingin kamu lakukan.
