Pandemi, bagiku, adalah sebuah kelas sunyi yang mengajarkan kita tentang kehilangan. Di kelas ini, tidak ada guru yang berdiri di depan papan tulis. Tidak ada kurikulum yang bisa dipelajari semalam suntuk. Tidak ada pula jeda istirahat untuk sekadar menghela napas. Kita semua dipaksa belajar sambil berjalan, melewati kehilangan demi kehilangan yang pelan-pelan merenggut apa yang dulu kita sebut sebagai "hidup".
Awalnya, aku kehilangan hal-hal kecil yang dulu terasa remeh. Aku kehilangan rutinitas bangun pagi sambil mengeluh mengantuk, terburu-buru berangkat kerja, hingga sapaan santai dari satpam kantor yang senyumnya selalu sama setiap harinya. Aku kehilangan riuhnya makan siang di warung murah bersama teman-teman, tempat kami menertawakan hal-hal sepele yang entah kenapa selalu berhasil meringankan beban di kepala.
Dulu, aku menyebut semua itu "biasa saja". Ternyata, aku salah. Semua itu adalah kemewahan kecil yang hilang sebelum sempat aku ucapkan terima kasih. Namun, kehilangan yang paling berat datang tanpa aba-aba, tanpa sopan santun, dan tanpa memberikan ruang untuk bersiap.
Nenekku meninggal di Bandung. Saat itu, aku sedang terkurung di kamar kos, menjalani isolasi mandiri di Jakarta. Aku duduk di tepi tempat tidur, menunggu demamku turun, sambil menelan kenyataan pahit bahwa aku tidak bisa pulang. Aku tidak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali. Aku tidak bisa menggenggam tangannya yang hangat. Aku tidak bisa berdiri di samping keluargaku untuk saling menguatkan. Ada jarak sekitar seratus lima puluh kilometer antara Jakarta dan Bandung, tapi hari itu, jarak tersebut terasa seperti jurang tak berdasar yang mustahil untuk diseberangi.
Ada rasa bersalah yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Rasa bersalah karena tubuhku sedang ringkih di saat orang yang kucintai pergi. Pandemi ini ternyata bukan hanya soal ketakutan akan tertular virus, melainkan soal ketidakberdayaan untuk hadir ketika orang tersayang mengembuskan napas terakhirnya.
Kabar itu datang lewat sebuah pesan singkat. Hanya satu kalimat pendek yang sanggup membuat seluruh tubuhku terasa dingin seketika: “Neng, Ibu meninggal.”
Dunia di sekitarku mendadak berhenti berputar. Tidak ada pelukan hangat dari keluarga. Tidak ada genggaman tangan di pemakaman. Tidak ada kesempatan untuk memandang wajahnya yang tenang untuk terakhir kalinya. Hanya ada aku, duduk bersimpuh sendirian di kamar kos yang sempit, menatap tembok putih yang bisu. Tembok yang sama sekali tidak mengerti apa-apa tentang duka yang sedang menghancurkan hatiku.
Di dalam kesunyian kamar kos itu, aku belajar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ingin kupelajari: bahwa beberapa jenis kehilangan tidak pernah benar-benar sembuh. Kita tidak "melupakan" atau "merelakan" sepenuhnya; kita hanya belajar untuk hidup berdampingan dengan ruang kosong yang ditinggalkannya. Kita belajar untuk bernapas di sekitar lubang di hati kita.
Pandemi mengajarkanku bahwa bagian yang paling menyakitkan dari sebuah kematian bukanlah perpisahan itu sendiri, melainkan kehilangan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Kehilangan momen untuk membisikkan doa terakhir di telinganya. Kehilangan upacara pamit yang layak.
Duka di masa pandemi adalah duka yang terisolasi. Ia adalah tangis yang tertahan di balik masker, doa yang dikirim lewat layar ponsel, dan pelukan yang hanya bisa dibayangkan. Aku belajar bahwa cinta tetap bisa dirasakan menembus batas kota, namun pedihnya jarak tetaplah nyata.
Hari ini, jika aku mengingat masa itu, aku menyadari bahwa aku telah lulus dari "kelas kehilangan" tersebut dengan cara yang paling keras. Aku belajar menghargai setiap detik keberadaan orang-orang di sekitarku. Aku belajar bahwa "sampai jumpa esok" adalah sebuah janji yang sangat mahal harganya. Dan di atas segalanya, aku belajar bahwa meski aku tidak bisa hadir di pemakamannya, kasih sayang yang nenek berikan selama hidupnya telah membangun fondasi yang cukup kuat di dalam diriku untuk tetap bertahan, bahkan di saat dunia terasa runtuh.
Hal-Hal yang Diam-Diam Direnggut Pandemi Dariku:
Perayaan yang seharusnya dirayakan bersama. Ulang tahun, kelulusan, pernikahan semuanya terjadi, tapi tanpa pelukan.
Kesempatan untuk berpamitan dengan layak. Beberapa perpisahan datang tanpa salam, tanpa sentuhan, tanpa kalimat terakhir.
Keyakinan bahwa aku selalu punya waktu. Waktu untuk pulang. Untuk menunda. Untuk berkata, nanti saja. Pandemi mengajarkanku bahwa tidak semua hal mau menunggu dan beberapa kesempatan hilang justru saat kita merasa masih punya banyak waktu.
Keangkuhanku terhadap hidup. Dulu aku percaya bisa mengendalikan segalanya sepenuhnya. Aku merasa kebal dari kehilangan selama aku berusaha keras. Kini aku tahu, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang bisa merenggut segalanya dalam satu kedipan mata.
