Di awal pandemi, rasa takutku tidak langsung tertuju pada virus yang tidak kasat mata itu. Yang pertama kali kurasakan justru kebingungan. Perasaan aneh ketika bangun pagi dan menyadari bahwa dunia yang biasanya bergerak cepat, tiba-tiba berhenti. Dan aku ikut diam bersamanya.
Tiba-tiba saja, tidak ada alarm yang terasa benar-benar penting. Tidak ada tujuan di luar sana yang mendesak untuk segera dicapai. Hari-hari tidak lagi tersusun sebagai deretan rencana besar, melainkan hanya sebagai pengulangan yang monoton dan melelahkan.
Aku terbangun di kamar kos yang sama, membuka laptop di meja yang sama, dan menatap layar yang sama selama belasan jam. Bekerja, makan, tidur, lalu mengulanginya lagi besok pagi. Aku kehilangan navigasi waktu. Aku tidak tahu apakah ini bisa disebut sebagai istirahat yang dipaksakan, ataukah aku sedang perlahan-lahan kehilangan arah hidup di tengah ketidakpastian ini.
Kantor tiba-tiba pindah ke dalam kos. Ruang kecil berukuran beberapa meter persegi yang dulu hanya menjadi tempat untuk pulang dan melepas lelah, kini bermutasi menjadi satu-satunya dunia yang kupunya. Kamar itu menjadi ruang meeting, kafetaria, tempat menangis, sekaligus tempat tidur. Semuanya menyatu tanpa sekat. Tidak ada lagi jarak fisik maupun mental yang jelas antara "menjalani hidup" dan sekadar "bertahan hidup".
Di luar jendela, Jakarta ikut berubah. Jalanan yang biasanya penuh sesak dan berisik kini sepi mencekam. Suara klakson yang dulu mendarah daging dalam keseharianku menghilang begitu saja. Jakarta yang biasanya sombong karena tidak pernah tidur, mendadak seperti sedang menahan napas dalam ketakutan yang kolektif. Kota ini terasa asing, seolah-olah ia sedang menolak siapa pun untuk menyentuhnya.
Namun, keheningan kota itu ternyata sama sekali tidak menenangkan. Ia justru membuatku lebih sering mendengar isi kepalaku sendiri. Tubuhku pun mulai bereaksi secara berlebihan. Setiap kali tenggorokan terasa gatal atau ada batuk kecil yang tidak sengaja keluar, pikiranku langsung berlari kencang menuju kemungkinan terburuk. Aku mulai membaca berita secara obsesif, bukan karena aku ingin tahu, tapi karena aku sedang berusaha keras untuk merasa memiliki "kendali" atas situasi, meski kenyataannya aku tidak punya kendali apa-apa.
Dan di tengah semua kekacauan itu, rencana-rencana yang dulu kususun dengan yakin harus dibatalkan begitu saja. Tanpa penjelasan. Tanpa kepastian kapan bisa dilanjutkan. Tanpa kesempatan untuk benar-benar berpamitan pada versi hidup yang sebelumnya.
Di fase isolasi itulah, aku mulai memahami sesuatu: hidup ternyata serapuh itu. Dan aku? Aku ternyata tidak sekuat yang selama ini kubayangkan. Aku belajar bahwa berhenti ternyata jauh lebih sulit daripada terus berlari. Berlari itu mudah karena kita punya momentum, tapi berhenti memaksa kita untuk benar-benar menatap diri sendiri di dalam cermin, tanpa gangguan, tanpa topeng.
Malam-malam di kosan saat pandemi mengajarkanku bahwa bertahan hidup bukan hanya soal menjaga kesehatan fisik, tapi soal menjaga agar api di dalam jiwa tidak padam saat dunia di luar sedang gelap gulita. Aku belajar untuk memaafkan diriku yang tidak produktif. Aku belajar bahwa tidak apa-apa jika satu-satunya pencapaianku hari ini hanyalah berhasil bangun pagi dan mencuci piring.
Ternyata, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa takut. Menjadi kuat adalah ketika kamu merasa gemetar, merasa tersesat di dalam kamarmu sendiri, namun tetap memilih untuk bernapas dan menunggu pagi datang sekali lagi. Pandemi ini, pada akhirnya, bukan hanya tentang jarak aman dari virus, tapi tentang jarak aman yang kubangun untuk melindungi kewarasanku sendiri.
Hal-Hal Kecil yang Membuatku Bertahan di Awal Pandemi
Minum jamu setiap hari. Awalnya kulakukan demi imunitas tubuh, namun lama-kelamaan itu menjadi ritual untuk meyakinkan diri sendiri bahwa: "Setidaknya, aku sedang melakukan sesuatu untuk bertahan."
Berjemur di pagi hari bukan karena aku mendadak paham tentang manfaat Vitamin D, tapi karena itu adalah satu-satunya alasan yang sah untuk keluar rumah tanpa merasa bersalah.
Jalan pagi berkeliling kompleks agar tidak terkena cabin fever. Meski rutenya hanya itu-itu saja, setiap langkah di luar terasa seperti perjalanan wisata singkat ke dunia yang kurindukan.
Mengikuti kelas meditasi online. Ternyata, duduk diam dan berhadapan langsung dengan pikiran sendiri jauh lebih menantang daripada mengejar deadline kantor yang paling gila sekalipun.
Belajar bahwa terlalu sering memantau media sosial adalah racun bagi ketenangan. Dunia sedang sakit, dan algoritma sama sekali tidak memiliki niat baik untuk menenangkan jiwamu.
Terpaksa belajar memasak karena tidak ada warung yang buka. Dari sekadar ahli memasak mi instan, pelan-pelan naik level menjadi masakan yang layak dimakan tanpa perlu berakhir dengan penyesalan.
Pertanyaan sederhana seperti "Apa kabar?" dari teman atau keluarga kini bukan lagi sekadar basa-basi. Ia terasa seperti pegangan tangan yang kuat di tengah hari-hari yang goyah dan penuh ketidakpastian.
