Aku tumbuh besar dengan menyaksikan sebuah keajaiban yang kusebut "Mama". Di mataku, Mama adalah pusat dari segala hal yang ada di rumah kami. Ia adalah mesin yang tidak pernah mengenal kata lelah, seorang istri dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan, ibu yang mencintai tanpa syarat, dan sosok kakak yang selalu ada sebelum kata "tolong" sempat terucap. Mama mengurus ribuan hal sekaligus dengan ketenangan yang menakutkan, seolah-olah dunia kami akan runtuh berkeping-keping jika ia berhenti bernapas sejenak saja.
Dan jujur saja, mungkin sebagian dari dunia kami memang akan benar-benar runtuh tanpanya.
Dulu, aku percaya itulah definisi sejati dari kekuatan. Aku memandang punggungnya yang sibuk di dapur atau tangannya yang lincah menyelesaikan pekerjaan kantor dengan rasa bangga yang meluap. Aku berpikir, "Suatu hari nanti, aku ingin menjadi perempuan sehebat itu." Aku ingin menjadi pilar yang tidak bisa digoyahkan oleh badai apa pun.
Namun, semakin aku dewasa, semakin aku mulai melihat dunia dengan kacamata yang kupakai sendiri. Aku mulai menyadari ada sesuatu yang retak di balik bayangan hebat itu, sesuatu yang membuat dadaku sesak setiap kali aku memperhatikannya diam-diam. Aku mulai merasa marah.
Awalnya aku tidak mengerti dari mana rasa marah itu muncul. Namun kini aku tahu: aku marah karena Mama terlalu baik. Aku marah karena ia selalu menaruh dirinya di urutan paling belakang, setelah urusan suami, anak-anak, pekerjaan, dan keluarga besarnya selesai. Aku marah karena ia mencintai orang-orang di sekitarnya sampai-sampai dirinya sendiri tidak lagi tersisa. Mama memberikan segalanya, hingga ia lupa menyisakan sedikit saja untuk jiwanya sendiri.
Mama tidak pernah belajar cara berkata “tidak.” Ia tetap berdiri tegak saat tubuhnya sudah menjerit minta istirahat. Ia tetap tersenyum lebar saat hatinya sedang patah berkeping-keping. Ia lebih memilih diam seribu bahasa saat ia merasa kecewa atau dikhianati. Ia hampir tidak pernah menuntut, jarang sekali meminta, dan yang paling menyedihkan: bahkan ketika ia benar-benar butuh bantuan, ia tidak tahu bagaimana caranya mendahulukan dirinya sendiri tanpa merasa bersalah.
Dan yang membuatku jauh lebih marah lagi adalah kenyataan bahwa aku menyerap semua itu darinya.
Tanpa sadar, aku belajar menjadi perempuan "kuat" dengan cara menahan sakit sendirian. Aku belajar mencintai dengan cara mengorbankan keinginanku demi kenyamanan orang lain. Aku tumbuh dengan keyakinan bawah sadar bahwa menjadi perempuan yang baik berarti tidak boleh merepotkan, tidak boleh terlalu berisik, tidak boleh banyak menuntut, dan harus selalu ada untuk kebutuhan dunia di luar sana.
Aku tahu, Mama tidak pernah bermaksud mewariskan luka ini padaku. Ia hanya melakukan yang terbaik yang ia tahu. Ia mencintai dengan cara yang dulu diajarkan padanya, cara yang mungkin dianggap "mulia" oleh generasi sebelumnya. Tapi aku, yang tumbuh tepat di sampingnya, ikut menghirup aroma pengorbanan itu setiap hari. Dan di satu titik, aku tersadar siklus ini tidak boleh berlanjut padaku.
Aku menginginkan sesuatu yang lain. Aku ingin menjadi perempuan yang baik dan penuh kasih, tapi bukan dengan cara menghapus eksistensi diriku sendiri. Aku ingin menjadi sosok yang bisa diandalkan, tapi tanpa harus memikul seluruh beban dunia sendirian di pundakku. Aku ingin mencintai dengan hebat, tapi tanpa harus menyerahkan seluruh kebebasan dan impianku sebagai harga tebusannya.
Aku ingin menjadi seperti Mama: kuat, setia, dan penuh kasih sayang yang tulus. Tapi aku juga ingin melakukan hal yang tidak pernah sempat Mama lakukan untuk dirinya sendiri: aku ingin merawat luka-luka itu. Aku ingin belajar berkata "tidak" tanpa rasa berdosa. Aku ingin belajar untuk beristirahat saat lelah, bukannya malah merasa gagal. Aku ingin belajar bahwa mencintai diriku sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan syarat utama agar aku bisa mencintai orang lain dengan sehat.
Mungkin, cara terbaik untuk menghormati pengorbanan Mama bukanlah dengan menirunya mentah-mentah, melainkan dengan menjadi versi perempuan yang lebih bahagia. Perempuan yang berani bersuara, berani meminta, dan berani untuk merasa cukup. Aku ingin sembuh dari luka yang tak pernah sempat ia rawat, agar kelak, jika aku memiliki anak perempuan, aku tidak akan mewariskan koper yang sama beratnya.
Mama adalah pahlawanku, tapi aku ingin menjadi perempuan yang utuh, yang mencintai dunia, tapi tetap menyisakan ruang yang luas untuk mencintai dirinya sendiri.
Catatan Kecil untuk Memutus Rantai itu
Mengatakan "tidak" pada hal yang sudah melampaui batasmu bukan berarti kamu egois. Itu artinya kamu tahu kapasitasmu, dan itu tidak apa - apa.
Kamu nggak bisa kasih minum ke orang lain kalau gelasmu sendiri kosong. Mengurus diri sendiri adalah modal utama supaya kamu bisa terus ada untuk orang-orang tersayang.
Menjadi sosok yang bisa diandalkan itu keren, tapi bukan berarti kamu harus angkut semua beban sendirian di pundakmu. Kamu punya hak untuk minta bantuan.
Menjadi perempuan yang baik nggak harus berarti jadi malaikat yang nggak pernah lelah atau marah. Kamu manusia, dan itu sudah lebih dari cukup.
Cara terbaik untuk membalas kasih sayang orang tua bukan dengan mengikuti jejak luka mereka, tapi dengan menjadi versi dirimu yang paling bahagia dan utuh.
