Dubai, Agustus 2025
"Berapa persen trust level-mu hari ini?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Soka, pecah di tengah kesunyian apartemennya di Dubai. Tentu saja, tidak ada jawaban. Di lantai dua puluh ini, satu-satunya yang menyahut hanyalah desis pendingin ruangan yang bekerja terlalu keras melawan panas gurun. Soka menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap; seorang pria yang ahli mengelola basis data, namun selalu gagal melakukan debugging pada hidupnya sendiri.
Baginya, kegagalan memiliki pola yang terbaca, seperti barisan kode yang berulang. Menikah di usia dua puluh lima dan bercerai setahun kemudian adalah sebuah system crash yang tidak pernah ia temukan patch perbaikannya. Kegagalan itu meninggalkan stigma, sebuah folder tersembunyi berisi ketakutan bahwa ia hanyalah perangkat keras lama yang dipaksa menjalankan sistem operasi baru—penuh bug dan sangat mudah overheat. Di bawah pendar lampu Sheikh Zayed Road yang menyerupai sirkuit listrik raksasa, ingatannya ditarik paksa kembali ke Februari 2024, saat logika manajerialnya harus berbenturan dengan realitas hari kasih sayang di Jakarta.
Jakarta, Februari 2024
Jakarta sedang gila-gilanya dengan warna merah muda. Di setiap sudut kantor Isoke Space, balon berbentuk hati dan buket bunga mawar tampak seperti pengingat visual tentang apa yang tidak Soka miliki. Ia memilih untuk tetap terpaku di depan spreadsheet, menganggap tanggal 14 Februari hanyalah Selasa yang biasa—sebuah variabel waktu yang tidak perlu diberi perlakuan khusus.
Namun, pengamatan batinnya mencatat detail yang menyakitkan. Ia melihat Lizzy bersiap pulang lebih awal. Wanita itu mengenakan kemeja rapi yang biasa, namun ada binar yang berbeda di matanya—binar yang bukan ditujukan untuk Soka, melainkan untuk Daniel Harper, pria yang telah berdiri di hidup Lizzy sejak 2017. Di posisi itu, Soka menyadari statusnya dengan sangat jernih: ia hanyalah "penumpang gelap". Ia memiliki perasaan yang membuncah, namun ia tidak memiliki slot di kalender resmi hidup Lizzy.
Malam itu, di tengah sunyi kamarnya, Soka mencoba melakukan apa yang ia sebut sebagai "Reality Check". Ia mengirimkan sebuah pesan singkat, sebuah upaya teknis untuk memetakan wilayah emosional yang tidak pasti.
"Happy Valentine, mari berantem secukupnya," ketik Soka dengan jemari yang sedikit ragu.
"Sayangg... sedih banget. Mari berantem secukupnya maksudnya gimana coba?" balas Lizzy hampir seketika.
"Biar dinamis," sahut Soka singkat, mencoba menyembunyikan rasa pahit di pangkal lidahnya.
Percakapan itu kemudian bergeser menuju wilayah yang lebih dalam, menembus enkripsi masa lalu yang selama ini Soka sembunyikan. Di bawah temaram lampu kamar, Soka mulai mengetikkan pengakuan yang berat. Ia bercerita tentang kegagalan pernikahannya, tentang bagaimana ia merasa bukan pria romantis dan cenderung menggunakan logika untuk menutupi rasa takut akan kehilangan.
"You just need to make sure, aku ga salah pilih kamu," tulis Soka. "I failed twice. I don't want to fail with you."
Ada jeda yang cukup lama sebelum layar ponselnya kembali menyala.
"I know. Me too. Siapa si yang mau gagal dalam pernikahan," jawab Lizzy pelan melalui teks. "Trust level-ku hari ini... delapan koma delapan, kurasa."
Soka menatap angka 8.8 itu. Baginya, itu adalah angka yang sangat jujur. Tidak bulat, tidak sempurna, namun sangat stabil. Ia sadar angka itu berfluktuasi karena Lizzy masih terjebak dalam siklus kedinginan Daniel Harper, namun Soka tetap memilih untuk menjadi "penyejuk". Ia sadar bahwa meski ia gagal dalam pernikahan di masa lalu, ia tidak boleh gagal menjaga "Rumah Aman" yang baru saja ia bangun untuk Lizzy.
Dubai, Agustus 2025
Soka mematikan layar ponselnya. Angka digital berpindah ke pukul 22:08. Hantu Catty sempat melintas di benaknya, namun segera terhapus oleh gema suara Lizzy dari folder memori "Archive". Ia menyadari bahwa logika Valentine-nya di Jakarta dulu tetaplah sama: ia selalu menjadi pria yang menunggu di luar garis batas, menjaga seseorang yang pada akhirnya mungkin akan berjalan menuju altar bersama orang lain.
Soka memejamkan mata, membiarkan kesunyian Dubai menelan sisa-sisa kegelisahannya. Ia tidak tahu bahwa di babak berikutnya, ketenangan di Isoke Space akan segera diguncang oleh badai eskalasi dari AlphaLab—sebuah krisis yang akan memaksanya keluar dari zona nyaman profesionalnya demi melindungi satu-satunya sistem yang masih ia percayai: Lizzy.
