"Masih melek?" tanya Soka pelan. Ia tidak menoleh, matanya masih terpaku pada pendar lampu Sheikh Zayed Road yang tampak seperti barisan kode biner di bawah jendela apartemennya.
"Masih. Kenapa?" Suara Lizzy terdengar begitu dekat, seolah perempuan itu sedang bersandar di ambang pintu kamar sambil memutar-mutar gantungan ponsel karakter 'Toad' miliknya.
Soka tersenyum tipis. "Iseng aja. Katanya kamu orang malam."
"Dulu," sahut Lizzy. Soka bisa membayangkan wajahnya sekarang—mengenakan kaos hijau Monster Inc. bermata satu yang kedodoran, dengan beberapa helai rambut jatuh menutupi pipi. "Sekarang aku cuma orang yang sedang belajar cara untuk tidak pecah saat dunia sedang retak."
Soka akhirnya memutar tubuh, hendak meraih tangan Lizzy. Namun, tangannya hanya menyapu udara dingin yang dihembuskan AC apartemen lantai dua puluh itu. Di sana, di depan matanya, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada sebuah ponsel yang tergeletak bisu dengan layar hitam yang memantulkan wajah lelahnya sendiri.
Dubai, Agustus 2025
Refleks itu masih ada. Soka menyadari bahwa ia baru saja melakukan percakapan imajiner dengan hantu yang ia ciptakan sendiri dari folder "Archive". Sudah tiga puluh hari sejak Elizabeth Warren memutus komunikasi, namun barisan kata yang mereka tenun sejak Desember 2023 telah menjadi sistem operasi yang berjalan otomatis di kepala Soka. Ia telah menjadi makhluk fungsional yang merapikan spreadsheet di siang hari, namun menjadi narapidana ingatan saat malam tiba.
Jakarta, Desember 2023
Semuanya dimulai di antara garis percakapan digital, tepat setelah Emergency Ops War Room berakhir pukul dua pagi. Soka masih bisa merasakan aroma tanah basah yang menyelinap masuk lewat jendela kamarnya di Jakarta malam itu. Bayangan Lizzy di layar Zoom—yang menulis dengan pulpen hitam di notebook spiral krem—menolak untuk hilang saat ia mematikan laptop.
Pukul 23:45, jari Soka melayang di atas keyboard ponsel. Ada perdebatan batin yang singkat namun tajam. Sebagai manajer, ia seharusnya menutup hari. Namun, kalimat penutup Lizzy di rapat tadi—"Kadang solusi terbaik datang terlambat. Tapi tetap lebih baik daripada tidak sama sekali"—terasa seperti pesan enkripsi yang hanya ditujukan untuknya.
Ia mengetik dua kata pendek yang meruntuhkan tembok profesionalismenya: "Masih melek?"
Balasan datang hampir seketika. Seolah Lizzy memang sedang menunggu frekuensi yang sama. "Masih. Why?"
"Iseng aja. Katanya kamu orang malam," balas Soka, mencoba terdengar santai padahal jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"Dulu. Sekarang cuma tuntutan deploy aplikasi yang nggak kenal waktu."
"Dulu tapi masih on jam dua pagi 😏. Lagi nungguin siapa?" goda Soka.
Malam itu, tawa digital mereka melompati perbedaan usia sembilan tahun. Soka menyukai bagaimana Lizzy bercerita tentang Mike Wazowski dan mimpinya yang seringkali absurd. Namun, di antara candaan itu, Soka mendeteksi sebuah "bug" dalam sistem hidup Lizzy.
"Kamu nggak dicariin pacar chat jam segini?" tanya Soka, mencoba memetakan wilayah. Jeda balasan terasa lebih lama. Tiga titik typing... muncul dan menghilang seperti napas yang tertahan.
"Daniel sudah tidur," jawab Lizzy akhirnya. "Dia bukan orang malam. Dia... berbeda."
Melalui barisan kata berikutnya, Lizzy mulai membuka celah. Ia bercerita tentang Daniel Harper, pria yang bersamanya sejak 2017. Hubungan yang dari luar tampak sempurna, namun di dalamnya membuat Lizzy merasa seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa—selalu disalahkan, selalu merasa kerdil di bawah sikap Daniel yang dingin dan kasar.
Di kamar yang remang itu, Soka menyadari perannya telah bergeser. Ia bukan lagi sekadar rekan kerja yang membahas database timeout. Ia telah memilih untuk menjadi "penyejuk" bagi jiwa yang sedang menuju system collapse.
Dubai, Agustus 2025
Soka mematikan layar ponselnya, membiarkan kegelapan menelan angka 22:08—stigma kegagalan masa lalu yang kini kembali menghantui dalam bentuk kerinduan pada Lizzy. Ia menyadari tragedi yang ia hadapi: ia telah jatuh hati pada seseorang yang memiliki trauma mendalam, namun terjebak pada komitmen masa lalu yang tak kunjung ia lepaskan.
Ia memejamkan mata, menyadari bahwa Between the Lines bukan hanya tentang apa yang mereka bicarakan, tapi tentang pengakuan bahwa perasaan mereka tumbuh di atas "patahan" yang salah. Soka tidak tahu bahwa di babak berikutnya, janji "U'll be the first to know" akan menjadi alasan mengapa ia harus berlari ke bandara tanpa koper, demi mengejar sebuah perpisahan yang ia sendiri belum siap terima.
