Prolog
Ketika suara bising petugas bandara yang memanggil penumpang terakhir untuk penerbangan tujuan Dubai, terdengar melengking, keluar dengan nada yang tidak bersahabat untuk kuping. Dari kejauhan terlihat seorang berlari dengan menarik paksa koper kecil beroda tanpa memperdulikan apakah koper itu mau dia tarik kesana kemari, seakan akan koper tersebut adalah kambing yang baru dibeli dari pasar.
Bandara internasional Soekarno Hatta, termasuk bandara yang paling modern di Indonesia, dengan tiga terminal yang aktif, dan puluhan gate, atau mungkin ratusan gate, siap untuk menjadi pintu penghubung seseorang dengan dunia yang lebih luas.
Ironisnya, bandara sering kali menjadi tempat yang memisahkan pasangan, keluarga, orang tua dengan anaknya, atau bahkan tetangga yang sering kali hanya bertegur sapa, namun tetap mampu memberikan senyum atau lambaian tangan bahkan tetesan air mata ketika seseorang mengantarkan tetangganya itu, yang tak pernah bertegur sapa sebelumnya, untuk pergi umroh.
Daniel Harper berdiri sudah lebih dari setengah jam, menunggu flight ke Jepang, yang ter-delay karna cuaca yang tidak memungkina untuk pesawat untuk melakukan take-off . Dia berdiri di samping seorang wanita yang sejak dari tadi hanya diam dan menatap layar ponsel genggamnya, yagn diberi gantungan karkater "Toad", jamur yang menjadi teman Mario Bros, sangat kontras dengan baju hijau bergambar karakter Monster Inc, bermata satu. Sepertinya memang seorang penggemar berat yang akan menggunakan baju kaos bergambar karakter di usia yang sudah dewasa.
Ketika cuaca mulai mereda, panggilan boarding beberapa maskapai penerbangan sudah mulai terdengar, kondisi jalur pacu pesawat sudah bisa digunakan.
"Elizabeth Warren?" sapa seorang wanita muda ketika Daniel dan pasangannya itu sedang bersiap untuk panggilan boarding.
"Eh, Talia?" jawab Lizzy nama panggilan Elizabeth. "Ih.. udah lama ga ketemu, kamu apa kabar? mau kemana?" kata Lizzy sumringah melihat teman kuliah nya dulu.
"Gw baik..." jawab Talia cepat, sambil melirik ke Daniel. "Elo masih sama Daniel Liz?" tanya talia cepat "Ya ampun, kalian awet ya, pasangan dari jaman semester satu kuliah, wow dari 2017, ah lovely couple"
"Hahahahaha bisa aja kamu.." tawa Lizzy singkat sembari menahan rona merah di mukanya karna tersipu malu. "Kamu mau kemana?" sapu Lizzy mengalihkan pembicaraan.
"Gw baru aja miss flight ke Dubai" jawab Talia cepat. "Tapi emang sengaja gw ga berangkat, nunggu flight berikutnya, karena tadi cuacanya ga bagus" jawab Talia.
Tidak jauh dari acara reuni singkat pasangan nya, Daniel hanya berdiri memasang senyuman template sembari mendengarkan percakapan pacarnya dengan temannya yang sudah lama tidak bertemu.
"Hai, Daniel" sapa Talia lembut
"Hai Lia, sudah lama ya ga ketemu" jawab Daniel lembut.
"Kalian mau kemana nih?" tanya Talia dengan senyum menggoda pasangan tersebut.
"Kita lagi nunggu boarding call Cathay air nih" jawab Daniel "Kita mau liburan ke Jepang tapi transit dulu di Hongkong" jelas Daniel..
"Ehem.. ehem.." Talia menggoda teman nya. "Ada yang mau bulan madu nih..."
"Ih kamu apaan sih..." jawab Lizzy cepat, menanggapi candaan teman nya sambil tak bisa menahan malu. Senyuman kecil tergambar di wajahnya yang putih. "Kita mau liburan aja, dapet tiket murah" sapu Lizzy.
"It's Ok Girl..." jawab Talia cepat
Bandara Soekarno Hatta tetap bising, tetap banyak orang berlari, dan tidak memperdulikan percakapan kedua sahabat tersebut. Seakan memberitahukan kepada dunia, kehadiran satu, dua atau lebih orang tidak bisa memberhentikan waktu untuk orang lain. Walau ada percakapan antara dua orang, boarding time tidak berubah, panggilan untuk semua orang yang ingin naik pesawat tetap bersautan, seperti para pemilik toko di pasar yang memanggil pelanggan nya untuk cepat datang ke tokonya.
Panggilan terakhir untuk Emirates Air, juga tidak terhenti, "Final Call. Passenger Hyosoka Hoshikawa, traveling on Emirates Air to Dubai, please proceed to gate nine immediately to board the aircraft. Thank you." Untungnya Soka sudah berada di ujung kerumunan menuju gate sembilan.
Hyosoka Hoshikawa menabrak arus penumpang dengan nafas yang menyangkut di tenggorokan, tangan kanan nya memegang boarding pass dan tangan lain nya menarik koper kecil yang mengeluarkan suara aneh, tek-tek-tek, seakan kopernyapun tidak ingin untuk ikut pergi. Semakin banyak lagnkahyagn dia ambil, semakin sepi suara bising bandara, suara - suara bising yang dia dengar di bandara, terasa tertinggal jauh di belakang sana, yang tersisa hanyalah satu hal, ketika pintu pesawat sudah tertutup, bukan hanya pesawat, dia dan koper kecil itu yang pergi ke Dubai, tetapi juga kesempatan pertama yang dia pertaruhkan seluruh tabungannya.
Dengan tersengal - sengal, Hyosoka melangkah memasuki garbarata, melangkah pasti untuk menuju dunia baru baginya, Dubai, tempat semua sultan menghabiskan uang nya untuk membeli teknologi baru, yang menurutnya receh, namun siapa yang peduli? uang sultan Dubai ngga ada seri nya, pikir Hyosoka untuk menyemangati dirinya untuk bisa goal project di Dubai agar bisa berhenti bekerja kantoran, dan fokus di bisnisnya sendiri.
Dia pernah melihat dari beberapa postingan IG, tentang bagaimana orang bisa merubah hidupnya di Dubai, dengan mempercayai hal itu, Hyosoka menghabiskan hampir seluruh tabungannya selama ini untuk memulai bisnis rintisan, dan mencoba peruntungan di Dubai, tempat dimana bangunan tertinggi dunia, menjulang di atas gurun pasir. Tempat dimana hujan jarang turun, namun lampu kota tak pernah padam.
Seperti itulah bandara, tempat semua orang mencoba untuk menemukan hal baru, ada yang membawa pasangannya, dan ada yang membawa mimpinya.