Dubai, Agustus 2025
Ada frekuensi sunyi di Dubai yang hanya bisa didengar oleh orang-orang yang gagal melupakan. Soka berdiri di depan jendela apartemennya, menatap pendar lampu jalanan yang menyerupai barisan kode biner di bawah kegelapan gurun. Ia menyadari bahwa memori batinnya bekerja seperti sistem operasi yang mengalami memory leak; fragmen masa lalu terus merembes masuk, mengonsumsi seluruh kapasitas logikanya hingga sistemnya crash.
Malam ini, ia tidak sedang mencium bau pasir atau aroma mewah kota. Pikirannya justru menarik paksa aroma kecemasan yang dulu memenuhi udara Jakarta di bulan Maret 2024—bau kertas laporan yang lembap dan sisa kopi yang mendingin di ruang rapat. Soka memejamkan mata, membiarkan narasi memorinya memutar kembali saat-saat di mana stabilitas batin Lizzy mulai retak di bawah tekanan garis patahan bernama AlphaLab.
Jakarta, Maret 2024
Ketegangan di kantor pusat Isoke Space mencapai titik didih. Sebuah eskalasi teknis yang dikirimkan tim Soka telah memaksa AlphaLab mengumpulkan seluruh konsultan mereka dalam satu ruangan sempit yang seolah kekurangan pasokan oksigen.
Lizzy duduk di pojokan ruangan—posisi yang ia pilih agar tidak ada yang bisa menyerangnya dari belakang secara literal. Ia tampak kecil di antara barisan konsultan pria yang sedang mencari kambing hitam atas keterlambatan deployment. Hery, sang pemimpin proyek, mengetukkan pulpennya ke meja dengan ritme yang menekan.
"Mungkin masalahnya bukan di kode atau infrastruktur," ujar Hery sambil melirik tajam ke arah Lizzy. "Tapi karena ada 'anak kesayangan' klien SS yang terlalu sibuk menyenangkan klien sampai lupa melakukan quality control pada tim sendiri.".
Sindiran itu tajam dan presisi. Tenry, rekan yang selama ini Lizzy anggap sebagai pendukung, justru terdiam dan menunduk, membiarkan Lizzy dikeroyok oleh ego rekan-rekannya sendiri. Lizzy membeku. Ia meremas ujung notebook spiral krem miliknya hingga buku jarinya memutih, mencoba memproses pengkhianatan profesional yang terjadi di depan matanya. Saat ruangan itu terasa benar-benar kehabisan udara, Lizzy berdiri tanpa kata, meminta izin sebentar, lalu berlari menuju toilet.
Di dalam bilik toilet yang dingin, Lizzy membiarkan seluruh pertahanannya runtuh. Air matanya jatuh di atas lantai marmer, membasahi wajahnya yang selama ini ia coba jaga agar tetap terlihat sebagai "Zen Mode". Dengan jemari yang gemetar, ia menekan nomor ponsel Soka.
"Lizzy?" suara Soka terdengar jernih di seberang sana, kontras dengan kekacauan di hati Lizzy.
"..."
"Hey, kamu di mana?" tanya Soka lagi, nadanya mulai menunjukkan kekhawatiran.
"Aku... aku lagi ngumpet di toilet," bisik Lizzy, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan. "Aku capek, Soka.".
Soka terdiam sejenak di ruang kerjanya yang hanya berjarak beberapa lantai. Ia menahan napas, bisa merasakan luka yang sedang dialami wanita itu. "Aku tahu," jawab Soka pendek namun penuh penekanan.
"Mereka semua kayak udah kompak, nyerbu pelan-pelan," lanjut Lizzy dengan napas yang memburu. "Nunggu aku salah ngomong dikit aja. Rasanya kayak ruangan tiba-tiba kehabisan udara. Lucu ya? Aku bahkan harus izin ke diriku sendiri cuma buat nangis.".
Mendengar itu, rahang Soka mengeras. Logika manajerialnya yang biasanya dingin kini terbakar oleh insting pelindung. Ia menyadari bahwa perannya sebagai "penyejuk" tidak lagi cukup; ia harus menjadi tembok api yang melindungi sistem Lizzy dari serangan luar.
"Jangan menangis lagi di sana," kata Soka dengan nada yang sekarang sangat mantap. "Keluar dari ruangan itu. Pulanglah. Besok Sabtu, kan? Jangan pikirkan kerjaan dulu. Tidur saja. Besok kamu buat itinerary Jepangmu, yang kamu bilang mau solo trip itu.".
Lizzy tertawa kecil di sela napas berat. "Itinerary?"
"Iya. Kyoto, Osaka, Tokyo—terserah. Tulis aja, biar otakmu mikirin hal-hal yang indah."
"Kamu nyuruh aku healing?"
"Enggak."
"Terus apa?"
"Aku cuma mau ngingetin kalau dunia masih punya sudut yang nggak kejam," sahut Soka.
Hening sejenak. Angin malam Jakarta terdengar lewat mikrofon, dan di latar belakang ruangan Soka, petikan gitar akustik "Your Guardian Angel" mulai meredup.
"Kamu nggak marah aku nangis?" tanya Lizzy pelan.
"Enggak."
"Kamu nggak kecewa aku nggak kuat?"
"Aku malah lega kamu masih bisa nangis," balas Soka jujur.
"Kenapa?"
"Karena berarti kamu belum mati rasa.".
Lizzy tertawa pelan. Soka bisa membayangkan wanita itu sedang menunduk di balik pintu toilet, dengan cahaya lampu neon yang memantul di wajahnya yang basah.
"Kamu selalu punya cara aneh buat bikin aku berhenti ngerasa sendirian," bisik Lizzy.
"Aku tahu aku nggak bisa nyelametin semuanya, Liz. Tapi kalau aku berhenti dengerin kamu, aku nggak tahu lagi buat apa aku di sini."
Lizzy menghela napas panjang, menertawakan kenyataan yang sebenarnya menyakitkan. "Lucu, ya. Kamu datang pas aku udah rusak dengan rapi. Kadang aku benci mikir gini, tapi kalau aja kamu datang sedikit lebih cepat... mungkin kamu masih sempat kenal bagian aku yang belum serumit ini buat kamu cintai.".
Soka terdiam lama. Kalimat Lizzy seperti sebuah pesan enkripsi yang sulit dipecahkan. Namun suaranya keluar dengan kemantapan seorang manajer yang telah menemukan solusi permanen.
"Tapi aku tetap datang, kan?"
Lizzy tersenyum kecil. "Iya. Dan itu justru bikin semuanya makin susah buat nggak jatuh."
Hening kembali menyelimuti. Suara kendaraan di jalanan Kuningan terdengar menjauh. Soka menyadari bahwa Lizzy adalah "solusi yang datang terlambat," namun tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Soka?"
"Ya?"
"Jangan jadi baik banget, ya."
"Kenapa?"
"Karena setiap kali kamu kayak gini, aku makin susah berhenti nyari kamu.".
Malam itu, di dunia yang sedang membusuk oleh tekanan deadline dan politik kantor, satu panggilan telepon berubah menjadi doa yang tak terucapkan. Soka berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan pernah membiarkan Lizzy jatuh sendirian. Ia tidak tahu bahwa janji itu akan membawanya menuju protokol Private Space keesokan harinya—sebuah benteng terakhir yang ia bangun sebelum sistem mereka dipisahkan oleh lima belas hari di Jepang.
Dubai, Agustus 2025
Soka membuka matanya kembali. Angka digital di ponselnya menunjukkan pukul 22:08. Ia menyadari ironi dari kenangan itu: Di Jakarta dulu, ia berhasil memenangkan pertempuran melawan AlphaLab untuk Lizzy. Ia mengirimkan email "pedas" yang membuat manajemen mereka bungkam. Namun di Dubai, ia menyadari bahwa ia tidak pernah bisa memenangkan pertempuran melawan jarak dan janji yang membusuk.
Soka mematikan layar ponselnya. Meninggalkan pantulan wajahnya yang letih di layar hitam. Janji "I will never let you fall" dulu terasa begitu perkasa di Jakarta. Namun di Dubai, ia menyadari ironinya: terkadang, cara terbaik untuk memastikan seseorang tidak jatuh adalah dengan melepaskannya agar ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri, meski itu berarti ia harus berdiri di samping orang lain. Soka memejamkan mata, membiarkan gema tawa rapuh Lizzy di ujung malam Kuningan itu menjadi satu-satunya file yang tidak akan pernah ia hapus dari sistem memorinya.
Aroma parfum Lizzy yang dulu ia "rekam" sebagai oksigen batin, kini telah menguap sepenuhnya. Soka kembali menatap langit Dubai yang steril, menyadari bahwa sistem batinnya sedang menuju system collapse yang permanen, tepat seperti apa yang ia takuti sejak awal.
