Menjadi dewasa itu melelahkan. Kadang rasanya ingin sekali rebahan di hari libur, tapi panggilan kerja bakti sudah memasuki tahap Last Call, 'denda bagi yang tidak datang'. Terlebih lagi, teras rumah Raka memang sering dijadikan markas koordinasi, karena lokasinya yang strategis di perumahan itu. Baru saja ia berpikir untuk tidur lebih lama, tapi suara-suara di luar sana terlalu membahana untuk diabaikan begitu saja. Bagi Raka, sebagai bungsu diantara Bapak-bapak perumahan ini, ketahuan sakit adalah tabu. Entah gengsi atau tidak mau membuat orang lain repot-repot harus menjenguk, atau sekedar terlalu malas untuk tanya-jawab mengenai kesehatan dan penyakit, ia selalu memilih untuk menyembunyikan ketidak-enakannya. Entah tidak enak badan, atau tidak enak hati. Apapun yang terjadi, selama masih bisa bangkit, maka ia pun akan hadir.
Singkat cerita selesailah agenda Bapak-bapak hari itu. Akhir pekan yang sangat produktif, perumahan itu pun tampak glow-up, 'bersih berkilau'. Sayangnya, badan 'kuat' Raka tidak mampu lagi menyembunyikan ketidak-sanggupannya. Sehingga, sepanjang hari selepas kesibukan itu, Raka hanya terbaring di tempat tidur. Ayu paham betul suaminya kelelahan, ia pun membiarkan Raka untuk beristirahat penuh.
Hari Senin tiba, pagi tersibuk telah dimulai, tapi Raka masih terbaring di tempat tidur. Ayu tidak ingin mengganggu istirahatnya, karena Ayu paham betul rasanya ingin memejamkan mata 'lima menit lagi please' di tengah bunyi alarm yang semakin kencang. Ayu mematikan alarm, menyalakan diffuser, menutup pintu kamar, dan bergegas ke dapur untuk memulai pertarungannya.
Kakek Iwan Fals memulai lagunya dengan 'Denting piano...", sedangkan Ayu memulai pertempurannya dengan denting gelas, piring, sutil dan alat masak lainnya. Pisau adalah salah satu senjatanya, dengan bantuan talenan SUS 304 favoritnya yang menambah efek suara thriller dari dapurnya, sound-effect yang membuat tetangga meringgis saat mendengar kedua stainless steel itu beradu. Terdengar seperti adu pedang daripada acara memasak. Suara ini juga mengusik telinga Raka yang sedang terbaring di kamar. yang jaraknya hanya satu meter dari tempat Ayu bermain pisau. Raka tidak punya pilihan lain selain bangun dan menenangkan diri di kamar mandi, setalah memastikan bahwa anaknya sudah lebih dulu mandi agar tidak terlambat ke sekolah.
Pagi itu berlalu begitu cepat. Anak-anak sudah berangkat ke sekolah. Ayu pun memulai pertarungan di babak lain. Saat jarum jam dinding kompak bertengger di angka 10 pagi itu, waktu dar-der-dor dimulai. Ayu harus segera mengemas dan menutup meeting online pagi, juga menjelang waktu jemput Si Sulung. Seluruh anggota tubuh kompak berbenah demi mengemas semua dalam waktu sepuluh menit, ucapkan "thank you" sambil leave meeting, menggendong si kecil dengan M-shapenya lalu "ngeeeng..." gas ditancap sejadi-jadinya menuju sekolah. Keseharian Ayu, di pagi hari, tepat setelah membuka laman tulisan onlinenya dan meeting paginya.
Raka yang sedang berniat rebahan seharian mendadak bangkit mengingat hatinya yang terusik karena sedari pagi ia menyaksikan kesibukan Ayu. Hari sudah siang, Raka mengambil sikap dan mulai merapikan rumah. Tepat saat Ayu dan anak-anak tiba, Raka sedang menyapu area luar rumah. Ia memarkir sapu yang dipegangnya, dan menyambar pegangan pintu, berniat membukakan akses lebih luas untuk anak dan istrinya.
Sayangnya, tanpa lampu kuning, tanpa kode atau peringatan apapun. Terlalu mendadak. Tepat saat pintu terbuka, badan Raka kaku, kemudian mengayun ke arah yang berlawanan dengan daun pintu.
BRAKKK, ...
Raka terbanting sejadi-jadinya. Badannya tergeletak di lantai, kepalanya terbentur, lengannya terluka, dan matanya terbelalak. Dalam satu per sekian detik Superhero di rumah itu telah tumbang tanpa aba-aba.
