Lima tahun telah berlalu dari insiden buruk yang dialami Raka. Memori yang mengandung trauma terbangun di 600km dari TKP. Kini Ayu terhenyak melihat Raka tergeletak di lantai. Dalam kekalutan itu, Ayu berusaha membangunkan Raka, "Sayaang...bangun..."
Raka merespon, tetapi Ayu tidak dapat mendengarnya. Raka melihat dirinya sendiri dalam pelukan istrinya. Batinnya terguncang, ia juga melihat Si Sulung shock menyaksikan adegan tanpa aba-aba ini. Dengan polosnya anak kecil itu menutup kedua matanya dengan kedua lengan kecilnya. Ia mencoba menenangkan diri dengan perlahan tetap merapikan sepatunya kemuadian berlari ke kamar, menatap langit-langit, rembeslah air matanya, ia mulai terisak.
Raka terbaring, tetapi ia melihat semua kejadian itu. Bagaimana bisa? Apakah ini yang dinamakan akhir hayat? Dalam sekejap semua itu berubah menjadi gelap. Raka tidak lagi melihat raganya, dan keluarganya. Yang ia lihat hanya kegelapan . Lalu sekilas ia melihat sosok gelap di dalam kegelapan itu. Sosok yang sama sekali tidak ia kenali. Siapa dia? Apakah malaikat maut? "Apakah ajalku sudah tiba? Apakah aku benar-benar mati?" pikir Raka.
Ia mencoba berontak sekuat tenaga. Ia mencoba meraih sesuatu apapun itu dengan tanganya, tetapi tidak bisa, yang ada hanya kegelapan. ketegangan semamkin memuncak saat ia mencoba menggerakkan kakinya, tapi ia tidak bisa merasakannya. Ia terus menerus mendengar suara Ayu memanggil namanya. Ia mencoba memanggil Ayu sekuat tenaga tapi Ayu tidak mendengarnya. Ia mencoba berteriak, "Allaaahh..." tapi mulutnya bahkan tak bergetar sedikitpun.
Inikah saat ia harus berhenti berjuang untuk hidup dan menghidupi keluarga yang dicintainya?
Inikah saat ia harus pergi meninggalkan kekasih hatinya bersama kedua jagoannya yang masih kecil?
Inikah saat ia harus berpulang kepada Pemilik Segala Kerajaan tanpa sempat berpamitan kepada ibunya?
"Tidak, jangan sekarang. Tolong jangan sekarang" Raka berontak sekuat tenaga. Nafasnya tersentak dan ia tiba-tiba menangis, "Mama..., tolong panggilkan Mamah, Yu," Raka berhasil membuat kalimat pertamanya lagi setelah kembali dari kegelapan itu. Ayu yang sibuk mengucap syukur karena hampir kehilangan suaminya, belum sempat memberi respon pada permintaan Raka. Raka mengulang permintaanya, "Tolong panggilkan Mama," rengak Raka seperti seorang anak kecil. "Panggilkan Mama Yu, aku takut."
Sambil tetap memeluk tubuh Raka, Ayu mencoba meraih hpnya yang sempat dibantingnya karena panik. Tempat tinggal mereka memang sepi, tidak ada tetangga di kiri dan kanan rumah. Ia sudah berusaha menelepon ambulance dan layanan gawat darurat. Akan tetapi, di negeri yang ia tinggali itu, dan dalam kekalutan itu, ia tidak mendapat jawaban.
Sambil menangis ia pun menelepon mertuanya, memberi kabar. Ia sudah mencoba setenang mungkin tetapi keadaan tetap tidak terkendali. Akhirnya seseorang yang tinggal di belakang rumah pun datang. Mereka segera membawa Raka ke Rumah Sakit.
Hari itu kotak pandora milik Raka terbuka. Kotak yang memuat ketakutan yang selama ini tersembunyi rapat-rapat di balik gagahnya seorang Raka. Rasa takut meniggalkan kesayangan-kesayangannya tanpa persiapan seperti ini membayangi Raka sepanjang waktu.
