Sayup-sayup suara pagi menggelitik telinga. Kelopak mata masih rapat terikat kantuk. Otak memberi sinyal untuk bangun, tapi badan gempal itu mengabaikannya. Tubuh Ayu sulit bergerak, rasanya seperti remuk tertimbun batu raksasa. Ayu merasakan buntelan menggemaskan merangkak dan mendaki perutnya yang masih terbaring. Tiba-tiba sesuatu yang lembut, hangat, dan kecil menyentuh pipi. "Mmmm ... ," suara kecil itu menggugah. "Mmmamama ... ," gumamman itu terus berlanjut. Mata yang rapat mulai berusaha melepaskan diri dari lem kantuk yang masih merekat.
Dalam sepersekian detik Ayu sempat berpikir, "Yang benar saja, sudah pagi lagi? Uuh aku benar-benar ngantuuk." Sampai bunyi keras mengusiknya: alarm dengan label 'School Time'.
"OH TIDAK!" sahutnya kaget.
Ayu merasa menjadi ibu paling buruk pagi ini. Bisa-bisanya dia sempat berpikir untuk menunda bangun dan melanjutkan tidur, sedangkan anak kecilnya sudah menagih sarapannya, "Mmmam...mamamamamam..mamama," dan si sulung tampak berlari menuju kamar mandi, bersiap berangkat sekolah.
Terkadang Ayu juga merasa iri melihat muda-mudi seusianya yang produktif dengan kegiatan club-nya, entah Paddle, Poundfit, atau Zumba. Bagi Ayu, rasanya ia sudah seperti Zombie. Iya tidak ingat kapan terakhir kali ia keramas dan menyisir rambut sambil bersenandung. Setiap kali melihat cermin, ia mendapati bayangan dirinya dengan daster butut dan rambut yang berantakan. "Sejak kapan aku punya surai?" Ayu sudah lupa kapan terakhir kali ia berdandan untuk diri sendiri. Ayu bahkan sudah tak pernah ingat hari ulang tahunnya. Dia tidak punya energi cadangan untuk ngopi cantik bareng teman-teman, atau bahkan untuk sekedar jogging di taman.
Menyadari bahwa rasanya ia takkan sanggup menjalani hari-hari sebagai seorang ibu beranak dua, Ayu pun merindukan Ibunya. Ia merindukan saat-saat hanya menjadi anak: Bangun paling siang, sarapan tinggal makan, tidak ada to-do-list yang panjang di pagi hari, selain, sekolah atau bekerja.
Saat ingin mengeluh mengenai lelahnya menjadi seorang Ibu, ia selalu teringat kata-kata Ibunya, “Apa yang kau keluhkan mungkin impian bagi orang lain. Gusti Nu Agung gak akan ngasih kamu cobaan melebihi kesanggupanmu, Yu. Ini berarti kamu memang sekuat itu untuk menjalani amanah ini.” Jika disandingkan dengan ayat yang diulang 31 kali, “Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?”, kata-kata ini menjelma menjadi sebuah tamparan keras bagi Ayu.
Seorang ibu seperti motor penggerak bagi kehidupan di rumah. Ayu bergegas bangun dan berkata pada dirinya di balik cermin, "Tuhan telah amat baik kepadaku, ia memberiku anugerah dan amanah yang besar. Aku adalah dunia bagi anakku. Rezeki suamiku, suasana hati keluargaku, semangat atau tidaknya mereka menjalani hari, bagaimana mereka menyikapi hari, bergantung pada wajah apa yang aku suguhkan di pagi hari. Bagaimana mungkin anakku akan ceria jika yang ia lihat pertama kali adalah wajah ibunya yang cemberut? Jika bukan dari seorang istri, dari mana suami akan mendapatkan energi positif di pagi hari?" Tampak agak gila memang, baru saja bangun pagi ia sudah mengoceh sendiri. Bukan ocehan yang sia-sia, melainkan mantra penyemangat diri untuk menghadapi hari.
Jika gojek adalah superapp, maka ibu adalah superhuman. Semua layanan tersedia: jasa antar-jemput, menyediakan makanan, mengantar barang yang tertinggal, menyiapkan pakaian, mencari benda yang hilang, memijat ---tanpa tarif, hanya dalam satu 'touchpoint'. Bahkan saat sedang menikmati makanannya, ibu tidak akan mengabaikan panggilan balitanya dari kamar mandi, "Maah, udaaah...". Ibu pasti akan langsung datang dengan segala kekuatan supernya, "Siap, laksanakan!"
