Sorot lampu mendekati pekarangan rumah, motor Supra hitam kemudian parkir perlahan. Helm, sarung tangan dan jaket anti angin mulai dilucuti, diiringi seruan anak-anak dari dalam rumah, “Ayah … Hore Ayah pulang!”
Raka menelan semua kisah yang dialaminya hari ini, bersama satu tarikan nafas panjang. Melihat senyuman Ayu di ambang pintu, dan sambutan meriah dari anak-anak mereka, Raka memasang senyuman dan sapaan hangat. Segera anak-anak mencium tangan Raka, dan berebut sesi bercerita.
“Biar Ayah cuci tangan dan kaki dulu ya, Nak,” Ayu mencoba menenangkan. Raka bergegas membersihkan diri mengingat antrian anak-anak yang tak sabar ingin bercerita dengan mata yang penuh harap. Sorot mata mereka menyampaikan pesan, “Aku dulu, ya, aku dulu.”
Raka melangkahkan kaki kiri memasuki kamar mandi. Ia putar keran besi yang berkarat itu, perlahan membasuh tangan, dan wajahnya. “Cuci yang bersih. Jangan lupa pakai sabun!” terngiang pengingat setiap kali anak-anak mencuci tangan. Sebagai kepala keluarga tentu Raka melakukan hal-hal yang sepatutnya menjadi teladan. Bunyi ‘flop’ botol sabun yang ia buka, kompak duet dengan denting putaran sendok yang beradu dengan cangkir berisi kopi panas di dapur. Pada saat yang sama, anak-anak sedang suit, menentukan siapa yang akan bercerita lebih dulu. Semuanya terdengar jelas karena jarak antar ruang di dalam rumah subsidi itu sangat rapat.
Saat Raka selesai membersihkan diri, Ayu berjalan perlahan membawa cangkir berisi kopi panas dari dapur, menuju ruang berkumpul. Anak-anak sudah tertib, sepertinya mereka sudah menentukan siapa yang akan bercerita lebih dulu. Dimulailah sesi menceritakan pengalaman hari ini. Anak kedua mereka menyerobot antrian untuk bercerita, dia membawa topi koki hasil prakaryanya di sekolah. Sedangkan anak pertama menekuk muka karena sudah kehilangan mood untuk berkisah. Raka mengeluarkan jurus bujuk rayu sampai Si Sulung berbicara satu kalimat, "Hariku biasa saja, tak jauh beda dari kemarin."
Waktu berjalan begitu cepat, mata mereka mulai layu. Setelah sesi sikat gigi bersama, Raka mengantar mereka ke kamar untuk tidur. Jarum pada jam dinding menunjukkan pukul 21:15. Kini giliran Raka membacakan buku sebelum tidur: Kisah Para Pendahulu. Tampak membosankan ya, tapi ini adalah buku favorit si kecil. Satu per satu mulai menguap, bergantian. Tak lama mereka pun pulas.
Dengan sangat perlahan Raka menyelimuti mereka, dan melangkah keluar dari kamar anak-anak. Saat itu, aku mendapati rumah sudah rapi kembali. Ayu sudah bekerja keras di rumah hari ini. Biasanya inilah saat kami saling bertukar pikiran atau cerita. Akan tetapi hari ini, Raka sedang tidak ingin bercerita. Melihat wajah lelah Ayu, Raka menyuruhnya tidur lebih dulu.
Inilah saat rumah sangat senyap, tapi pikirannya sangat bising seperti knalpot racing. Raka membawa cangkir kopi ke teras. Kursi teras seakan sudah bersiap menjadi sandaran untuk menatap langit. Awan di langit malam ini tampak suram. Gelap, sama sekali tak ada bintang berkedip. Semenit telah berlalu dengan beberapa tarikan nafas panjang. Tiba-tiba sesuatu bercahaya muram terbang perlahan dari arah sebrang. Rupanya sebuah lentera.
Pelan-pelan langit mulai dipenuhi dengan muntahan kata-kata yang berisik di kepala Raka:
… tentang perjalanan hari ini …
… tentang tanggung jawab …
… tentang pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab,
… tentang esok hari,
... tentang mimpi yang belum terwujud,
… tentang kata-kata baik dan buruk yang didengarnya hari ini …
... dan tentang berita yang masih terlalu berat untuk diceritakan kepada Ayu.
Tepat hari ini Raka merasa bahwa dirinya bukan siapa-siapa, hanya seorang buruh yang setiap hari menghadapi telunjuk penguasa, lalu diberi amplop apresiasi sebulan sekali. Dalam hati kecilnya, Raka menyadari sadar bahwa nilai dirinya jauh lebih tinggi dari traktiran makan siang pasca cacian yang merendahkan, ditambah gaji yang ia bawa pulang setelah dipotong ini dan itu.
Raka merasa agak terlambat baginya menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk menjadi mesin tempur sampai-sampai belum sempat mengakui bahwa ia juga punya mimpi lain. Mimpi yang cukup besar untuk menggetarkan arsy'. Mimpi yang ingin ia wujudkan setidaknya sekali saja di dunia ini, sebagai dirinya sendiri, terlepas dari statusnya sebagai seorang ayah, suami, dan sebagai anak, tetapi sebagai seorang Raka.
Neuron di dalam kepalanya berkelap-kelip seperti bintang di langit, sibuk mencari kotak mimpi yang tersembunyi di balik penuhnya isi kepala. Raka teringat pernah punya mimpi, yang belum sempat dinyatakan. Jangankan mengambil tindakan untuk mewujudkannya, mengakuinya saja Raka belum berani. Mimpi yang disembunyikan itu masih terbenam di dalam otaknya.
Ia memimpikan dirinya bebas dari jeratan instansi dan korporasi. Ia memvisualisasikan dirinya membangun satu demi satu kebebasan berekspresi dan mulai memberi manfaat. Usianya 30 … Raka menyeruput kopi yang sudah tidak hangat lagi. Lalu ia mulai mendengar suara-suara di dalam kepalanya. Suara pertama berkata, "Persetan dengan mimpi! Ingat umur," tetapi suara kedua jelas lebih lantang:
“Kamu belum terlambat.”
Suara hangat yang dirindukan dari dalam dirinya. Seketika ia melihat visual samar senyuman istrinya di langit, tawa ceria anak-anak, senyum teduh ibu, seolah mereka semua setuju akan mimpi itu. Visual yang menyajikan pelukan hangat dan sengatan semangat. Saat itu juga, Raka beranjak dari kursi. Aku mulai membuka blueprint susunan rencana yang lama tertunda.
Kesempatan yang sudah berlalu biar jadi pelajaran. Fokus pada peluang di masa sekarang dan yang akan datang. Saat yang paling tepat untuk memulai adalah sekarang. Sebuah lentera terbang telah menuntun kembali diri Raka pada tujuan hidup yang lama terlupa. Dirakitnya kembali lentera mimpi itu agar bisa mengudara. Dinyalakannya api semangat agar lentera mimpi itu bisa terbang tinggi mencapai keberhasilan dan kebermanfaatan yang hakiki.
