Tepat satu malam sebelum Raka kembali bekerja, ia berdiskusi dengan Ayu. Mengenai keadaannya, kesehatannya, kondisi di kantornya, pendapat ibunya, dan kekhawatirannya tentang masa depan. Raka mengakui bahwa kotak pandoranya mengungkap ketakutannya. Ia takut meninggalkan orang-orang yang ia sayangi di masa (yang seharusnya menjadi masa) produktifnya. Ayupun mengkhawatirkan hal serupa, bahkan Ayu mengutip kekhawatiran Bu Nur, "Bagaimana caranya agar hal ini tidak terulang kembali, apalagi pada saat Raka jauh dari rumah?"
Raka bicara panjang lebar, "Aku sudah lama menyimpan keinginan berhenti dari kantor ini. Terlepas dari jaraknya, budaya kerja di sana sudah tidak sehat. Saling sikut, saling curiga, saling mengadu, aku tidak nyaman dengan budaya kerja seperti itu. Aku tidak pernah minta lemburan walaupun aku sering bekerja sampai larut malam, bahkan sampai pagi. Aku sering bekerja di bawah tanah, di atas atap, di dalam penampungan air, sendirian, tanpa partner atau pengawasan."
Ayu mendengarkan dengan seksama, tidak menyela bahkan saat Raka memberi jeda ceritanya dengan satu tarikan nafas panjang. Raka melanjutkan, "Di sana semua pekerjaan itu kulakukan sendiri. Atasanku tidak mengerti teknis pekerjaanku. Posisiku berada di bawah bagan organisasi yang kurang sesuai dengan jobdesc dan resiko pekerjaanku. Aku sempat khawatir, kejadian paling buruk terjadi padaku, tanpa ada satupun orang di gedung itu yang mengetahuinya. Bagaimana jika, saat aku berada di dalam instalasi bawah tanah, dan kejadian kemarin menimpaku di sana? Aku bukan mengeluh ya Ayu. Aku hanya mengungkapkan kehawatiranku. Jika menurutmu aku harus melanjutkan perjuanganku di sana, maka aku akan mencoba sekuat tenaga untuk bertahan di sana. Aku meminta pendapat istriku yang bijak."
Ayu merespon dengan tangisan. Pikirannya memutar ulang kejadian mencekam itu di kepala Ayu. Terlalu tragis untuk dibayangkan apalagi dialami. Raka memang seorang laki-laki, kepala keluarga dan pencari nafkah. Tapi dibalik semua tanggung jawab beratnya itu, dia juga seorang manusia. Dalam satu tahun ini, ia telah kehilangan dua rekan kerjanya. Dan ia tidak ingin menjadi orang ke-tiga yang meninggalkan kantor karena harus exit dari dunia.
Ayu jelas tidak ingin hal buruk itu terjadi pada suaminya. Mereka pun mulai melanjutkan diskusi ke arah rencana aksi nyata. Step by step ... Langkah demi langkah, mulai brainstorming dan menjalakan design thinking akan rencana masa depan yang akan segera dirilis dalam waktu dekat. Kick-off segera dilaksanakan. Mereka sepakat akan menjalani kehidupan baru sesuai prioritas dan kapasitas yang mereka miliki.
Lampu hijau telah menyala. Raka sudah sangat siap dengan rencana barunya. Dengan dukungan dari Ayu, ia melepas belenggu beban-beban yang merantai mentalnya. Ia segera bebas dari penjara batinnya. Ia akan memulai hidup baru, sebagai Raka yang memprioritaskan dirinya saking dalamnya rasa sayang pada keluarganya. Ia memprioritaskan kehadiran utuh dan kesehatannya di tengah keluarganya, daridapa gaji kantoran yang terus dibayangi resiko maut setiap harinya.
