Hujan mulai rintik. Musim telah berganti. Dunia masih sama saja. Raka yang sedang menjalani hari-hari sebagai pendiri usaha masih berjuang dengan progress proyek perdananya. Ia bekerja sama dengan teman lamanya, Gege. Mereka berdua memenangkan tender restorasi saluran air di sebuah gedung suatu instansi pemerintahan.
Raka dan Gege saling urun dana untuk memenuhi kebutuhan proyek tersebut. Menurut Anggaran Dana, target return positif dari investasi mereka sebanyak 20% yang berarti 10% untuk modal proyek berikutnya, 5% untuk Raka, dan 5% untuk Gege. Gege bertugas sebagai koordinator lapangan dan pemegang rekening sumber dana, sedangkan Rakabertugas di belakang layar, sebgai analis, perancang, dan budget custody.
Ini adalah proyek pertama Raka, ia percaya sepenuhnya kepada Gege yang lebih berpengalaman dalam proyek-proyek serupa. Modal yang Raka investasikan pada proyek ini sebanyak 50% dari nilai kebutuhan proyek. Dana yang cukup besar untuk seorang Raka, hasil diskusi yang alot dengan Ayu. Merekan harus memecahkan tabungan sekolah anak-anak mereka, dan menggadaikan perhiasan Ayu. Sebelumnya Raka mengusulkan akan mencairkan dana BPJSTKnya, tetapi Ayu membantah keras. Ayu bilang uang itu biar digunakan untuk masa tua nanti saja. "Tapi janji ya, nanti sebelum April, uangnya harus sudah kembali, buat daftar sekolah," akhirnya Ayu luluh juga.
Sehari-hari Raka, berfokus pada proyeknya, dalam beberapa hari Raka pun bertugas di lapangan membackup Gege yang sibuk dengan prospek proyek lainnya. Dua minggu sudah berlalu, Gege sering sekali meninggalkan lapangan. Sehingga Raka, lebih sering turun di lapangan dan tak jarang menambal kebutuhan ad hoc proyek, yang tidak bisa menunggu transferan dari Gege.
Hampir satu bulan berlalu, Gege semakin jarang berkabar. Ayu sudah sering mengomel, "Kamu terlalu positif thingking, Bang," oceh Ayu bawel, "Bisa jadi kamu ditipu sama teman kamu kalo kayak gini terus." Raka membantah, "Aku kenal Mas Gege sudah lama. Pikiran kamu yang jelek. Istri itu harus berhati-hati dengan lidahnya. Jangan sampai kata-kata kamu diaminkan malaikat."
Tiba saat hari pelunasan proyek pertama Raka sebagai pendiri usaha. Dia mendapat kabar dari Pak Akbar bahwa dana sudah ditransfer ke rekening Gege. Drama dimulai. Gege mulai berbelit-belit. Raka tidak suka dengan ketidaktegasan. "Jadi ada atau gaada ni Mas uangnya?" tanyanya lugas. "Ada, cuma ... ," Raka tidak puas dengan jawaban yang ngambang itu.
Raka menyalakan motornya, menancap gas kencang menuju ke rumah Gege. Jalanan padat itu dilaluinya dengan playback suara-suara sumbang Gege di kepalanya. Sesampainya di rumah Gege, ia mendapati istri Gege sedang menyuapi anaknya di teras, dengan sepiring nasi dan sepotong bakwan goreng. Dengan penuh kebingungan, Raka bertanya, "Mas Gege ada Bu?"
"Loh, Mas Raka, bukannya Mas Gege lagi ada proyek di luar kota sama Mas Raka?" DEG perut Raka langsung mual. Kepalanya langsung pening mendengar hal ini, "Kebohongan apa lagi ini," kata Raka membatin dalam hati. Raka bingung harus merespon bagaimana. Ia terlanjur memasang ekspresi bingung. Semakin jelas kecurigaan istri Gege, "Kan, sudah kuduga dia berbohong sama kami Mas. Sudah lama dia tidak pulang, dan dia tidak ada memberi kami uang untuk makan. Biarlah saya tidak makan, tapi kan anak saya harus tetep makan Mas. Kurang ajar emang dia itu. ... " demikian dan seterusnya istri Gege memuntahkan unek-uneknya.
Raka semakin pusing mendengarnya. "Maaf Mba, ini ada sedikit untuk Mba dan anak Mba," Raka mencoba mengakhiri obrolan. Ia dalam kebingungan yang nyata, apakah ini skenario yang dibuat Gege dengan istrinya, atau Gege ini emang sejahat itu. Raka tidak ingin mendengar lebih banyak. Ia hanya ingin segera pulang. Ia khawatir stress ini membuatnya tumbang di sembarang tempat.
Ada benarnya kata Ayu, "Jangan terlalu percaya sama orang," Raka kira hidupnya baik-baik saja, ternyata tidak juga. Ia mendapatkan hantaman keras dari kejadian ini. Jangankan mendapat keuntungan, tabungan sekolah anak-anak dan perhiasan Ayu juga belum tentu bisa ia kembalikan tepat waktu kalau begini caranya. Sepanjang perjalanan pulang, raka berpikir keras, bagaimana menyampaikan kabar ini kepada Ayu yang sedari awal sudah tidak setuju. Raka mengambil jalan pulang membawa kehampaan.
