Pintu kamar 705 itu berdecit tepat jam 01:00 malam, suster dan dokter masuk terburu-buru. Raka dan Ayu yang sedang terlelap terbangun kaget. Mereka kira pasien sebelah dalam keadaan genting. Rupanya pasien sebelah pun kaget. "Pasien Raka Budiman," suara suster menambah ketegangan. "Saya," sahut Raka sambil mengusap matanya.
Tugas Ayu belum selesai. Ia berlari ke loket administrasi untuk mengurus surat kepulangan suaminya. Tak lupa ia mintakan surat keterangan istirahat untuk diserahkan ke PT. Delapan Bintang Perkasa, sebagai keterangan absensi Raka. Lima hari ke depan Raka murni dalam perawatan Ayu di rumah. Yang lebih baik dari rumah sakit adalah mereka bisa melihat anak-anak setiap hari walaupun lebih banyak energi terkuras. "Setidaknya bisa tidur di kasur, hehe" ucap Ayu menghibur diri setelah hampir seminggu bermalam di ruang kelas 3 rumah sakit. Kretekk bunyi sendi-sendi Ayu melepaskan belenggu-belenggu gelembung gas nitrogen pada sendinya, bersama sedikit rasa lelah.
"Hasil darah masih jauh di bawah normal tapi sudah ada tanda kenaikan. Besok sudah boleh pulang, tapi bedrest dulu beberapa hari. Kontrol hari Rabu, ya. Silakan lanjutkan istirahat kembali." Informasi lugas, "Jam 1 malam, yang benar saja," batin Ayu, "Ada ya ternyata dokter yang kerja sampai jam segini". Hampir mengeluh, tapi mereka sadar untuk fokus pada kabar baik, "Darah sudah naik, besok boleh pulang."
Hari itu si sulung pulang dari sekolah membawa beberapa balon untuk adiknya. Karena Raka belum bisa diajak bermain bola, si sulung memilih balon untuk mereka main bersama. Ada warna merah, biru, pink dan hijau. "Seorang satu ya," katanya menirukan Mamanya, "Jangan rebutan." Cekikikan haha hihi bersahutan diantara mereka siang itu. Makan siang, tidur siang, berjalan tanpa gangguan. Semesta mendukung pemulihan Raka.
Saat mereka bangun, si kecil langsung mencari balonnya lagi menagih bermain. Tampak bola biru kempis lebih dulu. Si kecil menangis karena biru adalah warna kesukaannya. Lalu si sulung mengambil balon hijaunya. Ia mencoba menghibur adiknya, "Ini pake punya Kakak aja, sama serunya," Tepat saat tangan kecil itu hampir menggapai tali, balon hijau itu meletus, DUARR, bersamaan dengan bunyi blip tanda pesan masuk di hp Raka, "Besok sudah bisa masuk? Ada perbaikan adhoc di ruang Bu Is ..." Riuh tangis si kecil dan gemuruh di hati Raka berkolaborasi, menghasilkan chaos yang memecah atensi.
