Aku tumbuh besar di sebuah lingkungan yang sering kali memiliki timbangan yang sangat sempit untuk mengukur seorang perempuan. Timbangan itu hanya mengenal angka-angka fisik: wajah yang harus mulus, kulit yang harus cerah, rambut yang harus panjang, dan tubuh yang harus ramping. Rasanya, setiap inci keberadaan perempuan perlu disaring terlebih dahulu melalui standar kecantikan sebelum ia diizinkan merasa berharga. Dan aku? Di hadapan timbangan itu, aku merasa sudah gagal bahkan sebelum aku sempat memulai.
Aku masih ingat jelas satu momen di masa SMA yang menempel di kepalaku seperti bekas luka yang enggan pudar. Seorang teman berkata dengan sangat ringan, seolah-olah ia tidak sadar betapa tajamnya kalimat itu: “Di antara kita semua, cuma kamu yang nggak cantik.”
Aku tersenyum hambar waktu itu. Aku berpura-pura tidak peduli, seolah-olah kata-katanya hanyalah angin lalu. Namun, di dalam hati, kalimat itu meledak pelan seperti bom waktu. Aku pulang ke rumah dengan kepala yang bising oleh pertanyaan-pertanyaan yang menyakitkan: Apa benar? Apa aku memang tidak cantik? Jika aku tidak cantik, apakah aku masih pantas untuk dicintai? Apakah aku masih pantas untuk dipilih?
Sejak hari itu, aku terbiasa menjadi hakim bagi diriku sendiri. Aku belajar menghindari lensa kamera, merasa bahwa setiap foto adalah bukti dari ketidaksempurnaanku. Aku bersembunyi di balik seragam yang longgar, berharap orang-orang tidak terlalu memperhatikanku. Aku tumbuh dalam keyakinan yang keliru: bahwa jika aku tidak cantik, maka aku tidak akan pernah menjadi "cukup".
Namun, waktu ternyata memiliki caranya sendiri yang ajaib untuk menyembuhkan mata yang salah melihat. Seiring aku beranjak dewasa dan mulai merantau, aku mulai melihat kehidupan dari sisi yang jauh lebih luas. Aku bertemu dengan perempuan-perempuan hebat yang mengubah definisiku tentang pesona.
Aku melihat perempuan yang begitu memikat karena caranya berdebat dengan cerdas. Aku melihat mereka yang berani mati-matian memperjuangkan keyakinannya. Aku melihat para pekerja keras yang bergerak tanpa pamrih. Aku menyaksikan bagaimana dunia ini bergerak bukan karena polesan wajah, melainkan karena keberanian, kepintaran, dan ketulusan hati.
Di situlah aku mulai paham: menjadi perempuan tidak bisa disederhanakan hanya dengan label "cantik" atau "tidak cantik". Aku akhirnya memilih untuk menurunkan kalimat temanku dulu dari ruang utama hatiku dan meletakkannya di rak kenangan yang berdebu, sebuah benda lama yang tidak lagi punya kuasa atas hidupku. Aku belajar melihat diriku dengan cara yang sepenuhnya baru:
Aku bukan sekadar cantik. Aku jauh lebih luas daripada itu. Aku adalah pikiranku yang kritis saat menghadapi dunia. Aku adalah keteguhan yang menolak menyerah di tengah masa-masa paling sulit dalam hidupku. Aku adalah tawa yang tulus, doa-doa lirih yang kupanjatkan di sepertiga malam, dan pelukan hangat untuk teman-teman yang sedang rapuh. Aku adalah keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika tidak ada satu orang pun yang percaya padaku.
Cantik? Itu hanyalah bonus, sebuah permukaan yang akan memudar seiring waktu. Tapi bukan segalanya. Kini, jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku ingin merangkul gadis SMA yang duduk termenung itu. Aku ingin berbisik padanya: “Kamu tidak perlu menjadi cantik untuk menjadi berharga. Kamu sudah sangat berharga sejak awal, hanya dengan menjadi dirimu sendiri.”
Dan mungkin, kamu yang sedang membaca halaman ini, juga pernah merasakan hal yang sama: merasa dihakimi, diremehkan, atau dinilai hanya dari apa yang terlihat di cermin. Aku ingin kamu tahu satu hal yang pasti: nilai kita tidak berhenti di permukaan kulit. Kita bukan sekadar wajah yang dilihat dunia; kita adalah sebuah kehidupan yang penuh makna. Kita tumbuh, kita belajar, kita berjuang, dan kita hidup.
Semua itu terlalu besar, terlalu agung, untuk diukur hanya dengan satu kata pendek bernama "cantik".
Catatan untuk diriku sendiri, supaya nggak gampang ketipu standar dunia
Standar kecantikan itu punya tanggal kedaluwarsa. Hari ini trennya begini, besok begitu. Mengejar standar kecantikan itu kayak lari di atas treadmill: capek banget, tapi nggak nyampe mana-mana.
Wajah glowing nggak bisa nyelesein masalah hidup dan kerjaan. Skincare 10 tahap nggak bakal bantu aku saat buat strategi untuk project yang berantakan. Tapi pikiranku punya nilai tukar yang jauh lebih tinggi daripada sekadar pori-pori yang samar.
Senyum di depan cermin itu buat aku, senyum di kamera itu buat mereka. Belajarlah untuk bilang "Eh, keren juga ya kamu" ke bayangan diri yang baru bangun tidur. Itu bentuk perdamaian paling tulus yang bisa aku kasih ke diri sendiri.
Aku bukan barang dagangan yang nunggu dipilih. Aku adalah pemilik tokonya. Kalau ada yang bilang aku "kurang", silakan cari di toko sebelah. Aku nggak lagi jualan penampilan aku sedang nawarin perjalanan bareng manusia yang utuh.
Kamera itu tukang bohong, jadi nggak usah baper. Kamera butuh angle dan cahaya. Cermin cuma butuh kejujuran. Aku lebih milih damai sama bayangan di cermin daripada stres nyari angle di depan lensa.
Standar kecantikan itu punya tanggal kedaluwarsa. Hari ini trennya begini, besok begitu. Mengejar standar kecantikan itu kayak lari di atas treadmill: capek banget, tapi nggak nyampe mana-mana.
