Hari ini adalah hari dimana keputusan dari kantor pusat dibacakan, antara Raya jadi mutasi ke solo atau tidak, didalam hati kecil Raya yang paling dalam ia tidak mau dimutasi, kenapa? karena semua kehidupan Raya sudah pindah di Jakarta. Bagaimana suasana kotanya, teman-temannya, pergaulannya, dan dia juga ada di Jakarta, walau sudah jarang bertemu, tapi setidaknya kita masih di satu kota yang sama
Apapun keputusan yang diberikan oleh kantor untuk Raya, Raya siap untuk menjalaninya, dikarenakan ini kesempatan Raya untuk menunjukan kemampuannya
"Ray, dipanggil sama Pak Tius keruangannya, yukk bareng sama saya" Pak Roy memberikan instruksi agar mengikuti langkahnya menuju ruangan Pak Tius
Raya menghela nafas lalu berdiri dan langsung jalan menuju keruangan Pak Tius
Teman-teman kerja Raya memberikan semangat kepada Raya, agar tetap tenang dan semangat
"Kamu apa kabar Ray?" Pak Tius membuka percakapan yang basa basi untuk membuka obrolan siang ini
"Baik Pak, tapi lumayan deg-degan, hehehe" Raya menjawab dengan nada sedikit bercanda
"Geg-degan apa happy mau mutasi?" Timpal Pak Roy tidak kalah dengan nada bercandanya
"Yyaa semuanya lah pak"
"Ok, Raya ini surat mutasi kamu sudah di ACC oleh HR , mulai senin depan kamu sudah berkantor di cabang Solo, untuk penempatan di Griya mana, nanti AOHnya yang akan memberitahukan selanjutnya" Pak Tius memberikan surat mutasi tersebut yang sudah di tandatanginya lengkap dengan tandatangan dari HR , itu tandanya Raya sudah sah mutasi ke kota yang terkenal dengan slogan slowliving-nya.
Raya menerima surat tersebut " Terimakasih pak untuk suratnya dan terimakasih untuk semua ilmu yang diberikan saat Raya berada di divisi ini, semoga ditempat Raya yang baru, Raya bisa jauh lebih baik lagi"
"Pesan saya 1 Raya, jaga nama baik perusahan ini dimanapun kamu berada"
"Baik pak"
"Ok Raya, silahkan kamu kembali ke tempat kerja kamu, dan nikmati hari-hari terakhir bersama teman-teman kerjamu, and doing the best for the last target in this month"
"Sure Sir, Raya pamit ya Pak " Raya berdiri tak lupa bersalaman dengan Pak Tius dan membawa surat mutasi tersebut
Raya keluar dari ruangan Pak Tius, dan melambaikan surat mutasi ke teman-temannya, tandanya surat mutasi Raya sudah keluar, dan teman-teman kerjanya bersorak "horree, selamaatt kak"
Sejujurnya Raya masih ragu, apakah keputusan ini sudah benar atau belum, mengingat perdebatan panjang yang dilakukan dengan Nufis beberapa hari ini tentang mutasinya ke Solo. Debat itu dilakukan sebelum Nufis akhirnya memilih untuk menikahi Via, bisa saja Tuhan menyelamatkan hidup Raya agar bisa jauh lebih baik lagi dan cepat untuk moveon dari Nufis
Raya bingung dengan sikap Nufis yang seolah-olah tidak mau melepas Raya pergi namun disisi lain, Nufis sudah ada seseorang yang selalu mendampinginya kemanapun Nufis pergi. Tapi Raya tau , cepat atau lambat Raya harus bisa melupakan Nufis, karena sudah tidak mungkin Nufis akan memilihnya
Raya memfoto surat mutasi tersebut kemudian mengirimkan ke Nufis, dia ingin tau bagaimana tanggapan Nufis tentang hal tersebut
"Aku main ke Apartemen kamu malam ini, after office " Jawabannya sudah tertebak oleh Raya, pasti Nufis akan menemuinya malam ini, Raya hanya menghela nafas panjang, yyaaa apapun yang terjadi malam nanti Raya siaapp, dan mau tidak mau Raya harus menghadapinya
Lampu-lampu kota menyala dengan indahnya, ditambah terlihat dari lantai 16 Apartemen Raya yang terletak didaerah Kalibata, terdengar suara sirine dari pintu palang kereta ketika Commuterline akan melintas, dan suara klakson dari Commuterline tersebut, dikarenakan apartemen Raya tidak jauh dari stasiun Kalibata
Raya duduk disofa dekat jendela dengan tangan kanan yang memegang secangkir kopi hangat, pelan-pelan dia menyeruput kopi tersebut dan menikmati sensasi pahit dari kopi tersebut.
tiba-tiba terdengar suara bel kamar Raya , dan Raya sudah tau itu pasti Nufis yang datang. Raya bergegas menaruh gelas tersebut ke meja depan sofa dan membuka pintu apartementnya
"Hai, cepet banget sudah sampai, ga macet?" Raya basa basi menyapa Nufis
Nufis segera masuk, dan menaruh bungkus plastik yang ternyata isinya martabak coklat keju dari Pecenongan yang menjadi favorite Raya selama ini, Raya segera membuka martabak tersebut yang ternyata masih hangat pasti belum lama Nufis membelinya
Raya segera duduk disofa samping Nufis dan menyodorkan teh melati hangat dengan gula sedikit yang menjadi favorite minuman Nufis ketika main ke apartemen Raya
"Selamat yaa untuk mutasi kamu ke solo"
"Terimakasih"
"Di bagian apa kamu mutasinya?"
"Masih bagian collection tapi ini bagian penagihan langsung ke rumah konsumen, biasanya kan nagih via telp nah ini langsung ketemu dengan konsumen" Raya menjawab dengan santai sambil menikmati martabak yang dibawa oleh Nufis
Nufis meletakkan gelas ke meja depannya dan beralih pandangannya ke jendela dengan pemandangan lampu-lampu kota disekitar daerah Kalibata
"kamu yakin dengan keputusan kamu itu"
"hhmmm, apa?" Raya meyakinkan apakah benar itu pertanyaan yang ditanyakan oleh Nufis
"iyyaa, kamu yakin mutasi ke solo? Kamu ga bakal kangen sama aku"
"aku yakiinn mutasi kesana, dunia baru buat aku, walaauu ga baru-baru banget tapi setidaknya suasana dan lingkungan baru buat aku, kenapa kamu tanya kaya gitu?"
Nufis berganti posisi dengan menatap Raya "apapun keputusan kamu, aku mendukung sepenuhnya, tapi ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku"
"apa itu?"
Nufis menghela nafas panjang "Aku tau, aku jahat dan anggap aku laki-laki yang plin plan, aku tidak mau melepas Via dan juga melepas kamu, kamu pasti tau yang aku maksud"
"Ga , aku ga ngerti maksud kamu" Raya menggeleng-gelengkan kepalanya, dan kemudian beralih menatap jendela, Raya sebenarnya tau apa yang dimaksud oleh Nufis, namun Raya ingin lebih jelas keluar dari mulut Nufis langsung
"Aku masih sayang sama kamu Raya, dan aku nyaman ketika sama kamu, tapi aku ga bisa melepaskan Via begitu aja, aku jahat kalo sampai melepaskan Via , karena orangtua Via sudah begitu percayanya sama aku, dan aku juga udah bertunganan dengannya, ga mungkin aku batalkan begitu aja" Nufis menunduk sambil memegang cincin dijari kiri Nufis
Raya tau Nufis sudah menikah dengan Via beberapa minggu yang lalu, dan salah satu kenapa Raya akhirnya menerima mutasi tersebut dikarenakan hal tersebut, untuk apa Raya tinggal di Jakarta, sedangkan orang yang paling dicintainya sudah memilih orang lain
"Ya itu salah satu tujuan aku pada akhirnya aku memilih mutasi ke Solo, ga mungkin aku bertahan disini, aku udah ga ada alasan untukku bertahan disini Fis, semua sudah berakhir, aku ingin membuka lembaran baru dikota yang baru pula untukku"
"Maafkan aku Ray" Nufis sambil memegang kedua tangan Raya
"Untuk apa minta maaf Fis? semua kan sudah terlanjut terjadi, dan kamu sudah menentukan pilihan , aku bisa apaa?" Raya melepas genggaman tangan nufis dan beralih ke gelas yang berisi kopi dan meminumnya sedikit, berhara rasa pahit kopi Raya bisa mengalihkan sedikit rasa pahit dihatinya
Tidak ada obrolan selanjutnya, Raya masih fokus dengan martabak dan kopinya, sedangkan Nufis dengan pikirannya sendiri dengan menatap jendala apartemen Raya
waktu demi waktu bergulir, waktu menujukan pukul 21.00, waktu yang seharusnya Nufis sudah pulang, walau Raya tau besok adalah hari sabtu yang tandanya Nufis libur kerja, namun Raya tetap kerja dikarenakan Raya kerja Senin sampai Sabtu
"Kamu mau menginap atau pulang? sudah malam, nanti kamu dicariin sama orang rumah, sama kamu udah bilang Via belum kalo kamu main ke apartemen aku" raya membereskan bekas martabak yang masih tersisa 3/4, Nufis tidak ikut makan karena Raya tau, Nufis tidak begitu suka dengan martabak, sisanya pasti akan masuk kulkas untuk dinikmati besok pagi untuk menu sarapannya sebelum ke kantor dan membawanya untuk bekal cemilannya selama dikantor
"Aku menginap aja, suasana hatiku sedang kacau"
"Ok, aku bereskan kamar kamu"
Raya melempar handuk yang biasanya Nufis pakai jika sedang menginap di apartemen Raya, walau Nufis sering menginap di apartemen Raya, mereka tidak melakukan hal diluar batas, mereka tau batasan sampai mana yang bisa dilakukan
"Mandi sana, baauuu, bajunya udah siap dikasur kamar kamu, aku tinggal kekamar kalo butuh apa, ketuk aja kamarku"
"Hhmmmm" Nufis hanya menyaut dengan nada lirih, mata dan pikirannya entah berada dimana
Didalam kamar Raya bertarung dengan pikirannya sendiri, apakah semua ini sudah tepat? apakah semua ini jalannya? apakah ini takdir untuk Raya?apakah Raya sudah siap melepaskan semua yang ada disini?
Rayaa terus memandang langit2 kamarnya dan jendela kamarnya bergantian? pakah Raya siap dengan lingkungan barunya? teman-teman baru? suasana kota yang baru? semua memang belum dijalani, tapi berasa sangat berat diawal-awal sudah pasti, Raya berusaha sekali lagi untuk meyakinkan dirinyaa
tok tok tok, suara pintu kamar Raya ada yang mengetok, Raya tau siapa itu
"Ray, udah tidur belum? aku masuk yyaa?" Ucap Nufis sembari membuka pintu kamarnya
"kenapa Fis?" Raya menepuk kasurnya pertanda mempersilahkan Nufis untuk masuk dan duduk disampingnya. Nufis duduk dikasur dan Raya mengeser badannya agar muat untuk berdua
Nufis hanya diam sambil menggengam tangan Raya tanpa ingin bicara, Nufis tau malam ini adalah malah terakhir yang bisa mereka nikmati berdua, karena nufis tau hari minggu pasti Raya sudah pergi ke kota yang baru
"Aku malam ini tidur disini yyaaa?" izin Nufis, dan Raya mengangguk pertanda setuju
"Kamu tau ga pertama kali aku liat kamu dan pada akhirnya itu menjadi hari dimana aku jatuh cinta untuk pertama kalinya sama kamu?" Raya membuka percakapan, dan Nufis menjawab dengan gelengan kepala pertanda ia tidak tahu
"Kamu inget ga kita hmmm aku, temen-temenku , kamu dan temen-temen kamu pergi kekampus yang didepok untuk mendaftar workshop? karena kita semua tau kalo dikampus kalimalang jarang banget ada workshop, aku liat kamu lagi bercanda sama temen-temen kamu, aku baru pertama kali liat kamu karena aku mungkin jarang kumpul sama anak-anak kampus, aku tanya sama temenku yang namanya sari , pada akhirnya aku tau nama kamu, terus aku sempet stalking semua sosmed kamu, pada jaman itu cuman ada FB dan baru-baru muncul twitter. Sumpah aku baru kali ini nyari-nyari cowok yang aku suka dengan serius, hahahha" Raya mulai flashback masa lalu bersama Nufis, yang ternyata Nufis baru tau karena Raya baru menceritakan semuanya
"Teruuss?" Nufis menyimak dengan sungguh-sungguh
"Yyaa aku cari-cari siapa kamu, kamu kelas mana, sosmed kamu aku kepoin, pokoknya aku pengen tau tentang kamu tanpa orang-orang tau kalo aku suka kamu, hahahahah" Raya mencoba mencari duduk yang nyaman untuk melanjutkan ceritanya, namun Nufis lalu menepuk pahanya, supaya Raya bisa tiduran dengan paha Nufis sebagai bantalnya, kemudian Raya memilih untuk tiduran dipaha Raya supaya Raya bisa bercerita sambil memandangi muka Nufis
Raya menggengam tangan nufis seolah-olah tidak mau lepas "Akhirnya aku tau siapa nama kamu, terus kita sempet satu workshop waktu itu, tapi mungkin kamu ga ngeh kali yyaaa, waktu itu aku selalu bareng sama temen-temenku, kamu sendirian naik kereta, aku sering menebak-nebak kenapa kamu memilih sendiiri, pasti kamu ga nyaman pergi sama temen-temen kamu, karena kamu tipe yang tertutup, sotoyyy banget yyaa aku waktu itu wkkwkw"
Nufis ikut tertawa menandakan benar tebakan aku yang menandakan Nufis orang yang tertutup pada waktu itu, " terus kamu inget ga? awal kedekatan kita itu pas kita pulang dari ujian mandiri, aku mencoba manggil nama kamu, terus tanya kamu naik apa? SKSD bangeett yyaa aku waktu itu? hahahahah, terus pas dikereta kan keadaan penuh, kamu mencoba melindungi aku dari orang-orang yang berdesakan, teruuss sebelum kita pisah kita tukeran nomer HP"
Raut muka Nufis mencoba mengingat semua cerita yang barusan Raya ceritakan " yyaa aku inget, waktu itu masih jaman KRL dibedakan kelas-kelasnya, ada KRL ekspress, KRL ekonomi biasa sama KRL ekonomi, terus kita waktu itu naik KRL ekonomi ga sih? yang tiketnya masih kertas? " Raya membalas dengan mengangguk-anggukan kepala tanda setuju
"Iyyaa ingeett, terus aku juga waktu itu sendiri, ya udah aku coba deketin kamu aja, ternyata kamu anaknya seru juga"
Raya kemudian duduk didepan Nufis dengan semangat "aku penasaran kenapa dulu kamu ga mau publish hubungan kita? kamu malu pacaran sama aku, dulu kan aku jeleeekk bangeett , genduutt pulaa eehh sampe sekarang aku juga masih jelek yyaa kwkwkwk"
Nufis kembali menggenggam tangan Raya "Bukan malu, tapi karena aku ga suka publish-publish hubungan aja, aku ga mau kena bahan ceng-cengan anak-anak yang pada akhirnya bikin kamu ga nyaman, kita kan waktu itu satu kampus, satu jurusan pula , jadi yyaa aku ga mau aja kita jadi bahan omongan satu jurusan"
"hhmmm okok" Raya kembali tiduran dipaha Nufis
Raya menatap muka nufis lekat-lekat, genggaman tangan nufis dilepasnya beralih memegang muka nufis, menyusuri setiap detail wajahnya, untuk dia simpan sampai nanti. entah dorongan mana, muka nufis lama-lama menunduk matanya terus menatap lekat mata Raya dan pada akhirnya bibir Nufis menyentuh bibir Raya
Raya mencoba menikmati setiap sentuhan bibir Nufis, dia ingin menyimpan semua kenangan malam ini, biarkan malam ini mengalir begitu saja tanpa dia ingin mengakhirinya, ciuman itu dalam dan penuh dengan makna, ciuman antara cinta, kesedihan dan nafsu menjadi satu, ciuman itu semakin dalam dan tak satupun ingin melepaskan, biarkan ciuman itu menjadi ciuman terakhir sebelum semua kembali kekehidupan masing-masing
"maaf" hanya kata-kata itu terucap dari mulut nufis
Nufis memilih untuk memposisikan dirinya tiduran disamping Raya, dan Raya memeluk erat tubuh nufis yang tak ingin dipisahkan malam itu, biarkan malam itu menjadi malam perpisahan antara Raya dan Nufis
Raya membiarkan tertidur dengan pelukan dengan Nufis yang sudah lama tidak dia rasakan semenjak Nufis memilih menikah dengan Via, yya anggap saja Raya wanita bodoh karena sudah tau Nufis sudah menikah tapi masih memilih untuk terus berhubungan dengan Nufis
Bagi Raya, Nufis bukan hanya cintanya tapi juga jiwanya, karena dengan Nufis Raya bisa mendapatkan rasa yang aman dan nyaman
Sekali kagi biarkan langit malam jakarta malam ini mejadi saksi betapa sakitnya perpisahan ini