Langkahku terasa berat namun penuh harap saat menyusuri selasar beton kampus yang masih beraroma cat basah dan debu konstruksi, seperti ritual menyambut mahasiswa baru, di bawah terik matahari pertengahan 2006. Aku menggenggam erat tali ransel, sembari sesekali menyeka keringat yang mulai membasahi dahi, perjalanan panjang dari utara ke barat, menahan getaran mesin motor yang sudah menjadi default alat berkendaraku sejaka setahun yang lalu. Sementara mataku terus menyisir tajam ribuan wajah mahasiswa baru yang berdesakan di depan papan pengumuman fakultas. Aku tidak sedang mencari jadwal kuliah atau letak ruang kelas; aku sedang mencari satu nama yang menjadi alasan tunggalku membuang pilihan universitas yang banyak menjadi pilihan teman-teman kelas demi berada di gedung kampus baru dari Universitas terkemuka di Jakarta Barat ini: nama gadis yang merupakan mantanku saat SMA.
Namun, setelah tiga kali menyisir daftar nama yang tertempel kaku di papan kayu itu, dadaku terasa seperti dihantam palu godam hingga sesak. Nama yang kucari tidak ada di sana. Informasi yang kuterima sebelumnya—atau mungkin hanya imajinasiku yang terlalu kuat—ternyata salah besar. Ia tidak pernah mendaftar di sini. Di tengah keriuhan yel-yel mahasiswa senior yang memekakkan telinga, aku menyadari sebuah kenyataan pahit: aku telah melakukan pengorbanan besar untuk seseorang yang bahkan tidak ada di tempat ini.
Cepat aku ambil handphone dari saku celana, mencari nama yagn sanagat aku kenal, tekan tombol dial dan kembali tamparan datang, suara wanita di ujung sana dengan sopan meminta maaf sembari menginformasikan "Maaf, sisa pulsa Anda, tidak bisa melakukan panggilan". Pulsa adalah barang yang sangat langka dan termasuk kategori barang mewah, sulit untuk anak baru lulus SMA untuk selalu punya pulsa. Naas.
Inilah awal dari apa yang kusebut sebagai "Two-Way Monologue". Sebuah kondisi di mana aku berbicara pada bayangan masa lalu di kepalaku, namun bayangan itu tidak pernah benar-benar mendengarkan apa yang aku sampaikan, apalagi membalas. Aku terjebak dalam percakapan satu arah yang kukira adalah sebuah hubungan. Ingatan tentangnya menetap di kepalaku, ingatan yang siap teringat kapan saja tanpa mengenal situasi, bahkan saat aku berdiri sendirian di tengah kampus yang kini terasa seperti penjara asing.
Untuk ukuran anak berusia 18 tahun yang memilih kampus bukan karena kampusnya, tapi karna hanya ingin bisa mempunyai kesempatan kedua untuk bersama mantannya adalah tindakan paling bodoh, yang seharusnya hanya dilakukan oelh anak berkemampuan cukup dan diatasnya, bukan anak berkemampuan finansial yang pas. Untuk ukuran anak yang tumbuh dan besar di Jakarta Utara, lebih tepatnya lagi di tanjung priok, untuk bisa mendaftar dan kuliah di kampus ini adalah, sesuatu yang di paksakan. Dasar, anak tidak tahu diri, kerjaan nya bikin susah orang tua.
Aku sempat ingin berbalik dan menyerah. Namun, di sinilah pelajaran pertama itu menghampiriku: aku boleh salah dalam memulai sesuatu, salah dalam membuat niat dalam memilih kampus, tetapi setiap usaha yang sudah dipijakkan harus dipertahankan hingga paripurna. Aku memutuskan untuk tetap tinggal, bukan untuk mengejar bayangannya lagi, melainkan untuk menuntaskan apa yang sudah kumulai sebagai seorang pria. Walau lebih takut dimarahin sama orang tua kalau harus minta pindah kampus.
Aku tidak tahu bahwa keputusan untuk bertahan di kampus ini akan membawaku pada pertemuan-pertemuan lain yang jauh lebih menguras emosi. Aku menatap lapangan kampus yang luas, mencoba menyambut apa yang ada di masa depan sambil perlahan melepas apa yang tertinggal di masa lalu. Aku belum tahu, bahwa setahun kemudian, di tahun 2007, seorang wanita Chindo akan hadir dan menjungkirbalikkan duniaku—dari puncak prestasi menuju jurang patah hati yang paling dalam. Tragis.
