2007
Membayangkan awal mula masuk ke kampus adalah satu hal yang terlalu sering membuat kejutan - kejutan kecil di kantong. Adegan -adegan pembayaran uang kuliah adalaha adegan - adegan paling ga masuk akal, kok bisa, anak yang tinggal dan main di terminal Tanjung Priok ini bisa masuk ke kampus elite yang terkenal dengan juruan IT nya, loh kok bisa.
Semester awal terlwati hari demi hari, kelas demi kelas, dan malas demi malas yang datang silih berganti, terasa mudah pada bagian pembelajaran untuk semester awal ini, karna bekal di SMA—lebih tepatnya SMK karna ada kejuruan disana— yang sedikit banyak membantu melewatkan berbagai kuis dadakan dari dosen - dosen tahu bulat, yang sering ngasih kuis dadakan. Dosen seperti ini mungkin dosen yang belum bisa mengatur waktu dan melakukan perencanaan, karna ketika kamu gagal dalam merencanakan, maka kamu merencanakan ke gagalan, jangan seperti itu pak.
Despite every struggle that I made back then, akhirnya penghujung semester satu merupakan blessing yang perlu dirayakan. Ujian tengah semester, kuis wajib, dan pada akhirnya "semesteran" datang berurutan, tanpa mencoba saling mengejar. Nilai semester satu ini bisa dibilang bagus lah, cenderung seperti make cheat. Dengan jatah boleh bolos per-mata kuliah tidak tersia-siakan, full terpakai, tapi masih bisa mendapatkan index prestasi 3,2 out of 4.0. Jumawa sudah bawaan nya.
Banyak teman - teman kelas mulai mendekat, dan sering berkunjung ke kosan untuk belajar bareng, apa impact-nya? Star syndrome sudah dapat dipastikan tersema dalam otak anak pesisir laut Ancol ini.
Kamar kosan menjadi semakin ramai oleh pengunjung, harusnya ada HTM nya buat masuk ke kamar kosan. lima puluh ribu rupiah untuk satu jam sesi bersama Aku, belajar semua mata pelajaran yang kalian belum bisa, tapi aku sudah jago. Tipikal anak kurang ajar, yang sangat star syndrome. Aku seperti menjadi raja diruang kamar kecil ini, anak Tanjung Priuk yang sering kepanasan, menjadi mentor untuk anak - anak borjuis yang sering sarapan dengan roti dan keju serta minum susu.
Begitulah monolog yang ada dikepala, dan harus terhenti oleh kehadiran wanita Chindo, tinggi, rambut panjang, mata biru—karna memakai softlens— itu lah momen pertama aku bisa menyukai wanita lain, setelah mantan yang aku kejar ke kampus ini, yagn ternyata tidak jadi masuk ke kampus yang sama ini.
Nani namanya, nama lengkapnya aku lupa, tapi dia Cina, seperti kebanyakan penghuni kampus ini, but thats ok. Walau aku tau ada banyak batas nyata yang akan aku hadapi ketika berusaha merebut hatinya. Aku sadar di balik tawanya, ada tembok tebal perbedaan keyakinan dan etnis yang siap menghadang. Namun, star syndrome ini membuatku merasa bisa menaklukkan apa saja, termasuk takdir yang tidak berpihak.
Tapi takdir berkata lain, Nani adalah teman dari pacarnya teman kosan ku. Jadi intensitas ketemu lumayan terbangun, sering dan pasti. Sampai disuatu saat kita jalan bareng ber-empat. Aku, Nani, teman kosan ku, dan pacarnya. Awalnya agak canggung, bukan karna harus ngobrol dengan Nani, orang yang aku suka, tapi canggung karean harus menjadi nyamuk, temenku yang pacaran, ditempat yang bukan habitatku.
Aku jarang, bahkan mendekati tidak pernah makan atau ngobrol di tempat yang harga air mineral nya saja setara uang makan tiga hari dikosan. Sangat berisik, musik yang diputar terlalu jedag-jedug. Setiap dentuman musik jedag-jedug itu seolah menertawakan isi dompetku yang kian menipis. Rasa tidak nyaman berada di tempat mahal ini mendorongku melakukan pelarian instan: aku butuh pengakuan status agar tidak hanya menjadi figuran di antara mereka yang sedang pamer kemesraan, lalu dengan suasanya yang bosan cenderung mengantuk, aku membawa badan dan otak tidak tahu diri ini mendekat, menuju Nani, dan dengan kendali bawah sadar, mulutku cepat berucap, "Nan, kita jadian aja yuk, biar double date" yup, singkat, jelas padat dan tidak tahu diri.
Dan tanpa bisa di cerna oleh pencernaan, Nani menjawab "Ayuk.." yang berarti hanya satu hal, aku punya pasangan baru yang aku dapat dengan mengikuti kontrol bawah sadarku, dan dia adalah pacar Chindo pertamaku, chindo pertama dan ternyata bukan yang terakhir, kita pacaran saat itu. Entah harus berterima kasih pada alam semesta atas kejadian itu atau harus berlaku sebaliknya. Setidaknya itulah bagaiman aku membuka semester dua, dengan pasangan baru, tanpa tahu apa yang akan diberikan oleh hubungan ini diakhir semester. Andai saja aku mengetahui ketika memulai ini, mungkin aku sudah menghentikan nya lima menit setelah jadian.
